That time when I tried to be serious...
Dedicated to my fellow Indonesian Muslim youngsters out there
Hi internet! Since this is dedicated for Indonesian, I’ll do my best to write in Bahasa and less offensive as much as I could. (I tried, okay?).
Sebelumnya, saya adalah seorang mahasiswi di sebuah perguruan tinggi negeri Indonesia. Saya muslim keturunan. Orang tua saya juga muslim keturunan. Keluarga kami bukan keluarga ahli agama. Bahkan saya bukan seorang muslimah yang bisa dikatakan “baik”. Seperti yang anda dapat lihat dari blog ini.
Baiklah, langsung menuju ke topik utama. Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk bergama Islam terbanyak di dunia. Meskipun bukan negara yang menganut ajaran Islam sebagai dasar hukum utamanya, tidak bisa dipungkiri bahwa aturan Islam dan budaya Islam sangat kental di tengah masyarakatnya. Bukan berarti Indonesia tidak mengakui agama lain, tapi mari kita ambil contoh sebagai berikut:
Saat bulan Ramadhan, merupakan hal biasa jika kita temukan tempat-tempat makan memasang tirai sebagai bentuk penghormatan terhadap orang yang berpuasa. Di Indonesia, hampir semua tempat umum memiliki tempat untuk umat Islam melaksanakan ibadah solat (bahkan saya pernah menemukan tempat solat di suatu lembaga pendidikan di pinggir Jakarta yang mayoritas isinya adalah non-Muslim). Istirahat siang di berbagai acara umum di Indonesia sering disebut “Ishoma” yaitu Istirahat, Sholat, Makan. Televisi nasional menayangkan tayangan adzan setiap hari walaupun hanya waktu maghrib (hingga beberapa teman-teman non-Muslim saya hapal doa setelah adzan). Hal-hal ini merupakan hal yang biasa bagi orang Indonesia, bahkan bagi orang-orang non-Muslim. Maka tidak salah untuk mengatakan bahwa aturan Islam merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia tanpa disadari.
…. Okay enough with the formal intro!
Jadi sebagai muslim yang lahir dan besar di negara ini, aku ga tau gimana rasanya jadi muslim minoritas. Karena itulah sejak akhir 2009 aku suka nyari-nyari info gimana rasanya tinggal di tempat yang muslimnya sedikit (thank you internet, especially youtube). Gimana rasanya nyari tempat makan halal, karena di Indonesia hampir semua tempat makan halal. Gimana rasanya ngatur waktu untuk sholat, karena di Indonesia nyari masjid/mushola gampang banget. Gimana rasanya puasa waktu summer, dan lain-lain (because I had too much free time). Akhirnya aku ketemu beberapa temen online yang sesama muslim dan tinggal di Amerika, Inggris, dan Kanada. Sebagian besar mereka iri sama aku yang tinggal di Indonesia karena melakukan ajaran Islam di Indonesia bukan hal yang aneh. Tapi ada satu pertanyaan dari temen online itu yang bikin gue tergelitik untuk bikin post ini “Do your parents let you dating? Because I’ll die if my parents ever knew I date someone”. Actually this was from around 2010 so it’s kinda outdated. Orang yang nanya ini ke aku adalah seorang cewek muslim dari Kanada yang ga berjilbab dan bahkan hampir ga pernah ke masjid.
Hahahaha! So, seorang Muslim dari negara dengan umat muslim yang minoritas, pacaran itu merupakan hal tabu. Sedangkan di Indonesia,yang paling banyak umat Islamnya sedunia pacaran terang-terangan itu udah kayak menghirup oksigen.
“Tapi kan beda di luar negeri sama Indonesia? Budayanya free gitu, wajarlah dia ga boleh pacaran” – Hmm.. iya sih. Tapi lo tau ga sekarang berapa banyak anak muda Indonesia yang udah kayak anak muda luar negeri itu? (or I would say no longer v*ir*gin)
Well, disini aku bukan bermaksud sok suci apa gimana, cuma kadang aku ngerasa sedih ngeliat di medsos banyak temen-temen muslim Indonesia yang pamer sama pacarnya. Aku pribadi sih seneng ngeliat banyak temen-temen yang mulai berjilbab, dan jilbab sendiri sekarang udah jadi kayak barang umum. Tapi buat kalian yang berjilbab tapi masih foto pelukan sama cowoknya. Coba deh tanya hati kalian sendiri, ada rasa bersalah ga dalam diri kalian? Well bukannya gue ga setuju sama pacaran. Nyari jodoh emang ga salah, malah mungkin wajib (hahaha even though I’m jomblo myself). Ketika lo pake jilbab tapi ngelakuin hal kayak gitu… dimata gue itu cuma pencitraan, ga beda sama oknum-oknum yang memberikan janji manis tiap 5 tahun sekali. Aku ga bermaksud untuk kampanye semacam Indonesia Bebas Pacaran 2017 atau semacamnya. Bahkan orang tuaku sendiri ga pernah secara terang-terangan ngelarang anaknya pacaran. Your life is your choice mate. This is just my opinion, whether you agree or disagree it’s all up to you.
Gue sendiri udah pake jilbab sekitar 10 tahunan, tapi gue masih ngomong sarkas dan kasar in my daily basis. Kalo mau ditulis ke”bobrokan” gue sebagai seorang muslim mungkin bakal ada post baru tentang hal tersebut.
BYE BYE CYCLE~!!











