Puas Menyisir Masjid Jamik Muntok, melengkapi touring Muntok Bang Katur nganyau ke 'sebelah'. Tujuannya adalah Kelenteng Kong Fuk Miau. That's amazing you know, menggapai dua destinasi wisata dalam satu tempat (berdekatan banget malah). Unik, anda mau tahu kenapa? Jika anda singgah di terminal lama bus Kota Muntok, Objek wisata relijius kota Muntok sudah menanti anda. Hijaunya atap Masjid Jami Muntok serta dominasi merah Klenteng Kong Fuk Miau, serasa memancing minat anda untuk singgah.
Bicara tentang Klenteng yang terletak diujung barat pulau timah ini, rasanya seperti mewakili sejumlah kelenteng nyang berdiri dari ujung ke ujung pulau Bangka. Penambangan timah di kepulauan Bangka Belitung nyang memperkerjakan Imigran China pemeluk Kong Fu Tse sebagai kuli tambang, telah membangun juga kelenteng sebagai tempat ibadah mereka.
Sedikit unik Kong Fuk Miau adalah mempunyai bedug. Juga terdapat lonceng nyang umumnya dipunyai gereja. Design kelenteng ini merupakan padu gaya BelaCin (Belanda dan Cina). Dan dari dua kali renovasi setelah 170 tahun berdiri yaitu pada tahun 1980 dan pada tahun 1996, Bangunan dan pilar serta lantai Kelenteng Kong Fuk Miau Muntok ini masih asli.
Keseharian ritual Kelenteng Kong Fuk Miau terbilang unik. Ritual unik Kelenteng Kong Fuk Miau itu adalah penjaga kelenteng memukul bedug setiap jam 5 pagi sebanyak 36 pagi. Dan pada saat nyang sama, lonceng juga dibunyikan sebanyak 5 kali. Pemukulan bedug dan pembunyian lonceng ini diulang lagi pada sore harinya dan juga pada jam 5. Jika pada hari biasa waktu ritual ini hanya dilakukan pada waktu pagi dan sore, Khusus pada perayaan Imlek, tanggal 1 dan 15, ritual unik Kelenteng Kong Fuk Miau tersebut dilakukan 3 kali sehari.
Keberadaan Masjid Jamik Muntok serta tegaknya Klenteng Kong Fuk Miau sebagai bangunan nyang disucikan nyang berdampingan, menggambarkan bersandingnya suku dan agama di pulau Bangka. Kedua bangunan itu menjadi sejarah simbol toleransi masyarakat Bumi Serumpun Sebalai.
Pelesir ke Kelenteng Kong Fuk Miau Muntok hari ini meninggalkan nilai tersendiri. Nilai kerukunan hidup berdampingan tanpa membedakan suku dan agama.
Pagi menjelang siang, Bang katur udah nyiapain bekal buat ngacak Muntok lagi. Pelesiran kota Muntok kali ini tujuannya adalah salah satu tempat wisata relijius yang berada di bumi Sejiran Setason ini yaitu Masjid Jamik Muntok.
Terletak di kelurahan Tanjung kecamatan Muntok, Bangunan Masjid Jami Muntok ini telah berdiri sejak tahun 1881 M. Persis disebelah masjid berdiri tegak Kelenteng Kong Fuk Miau sedangnya berada didepan masjid adalah bekas terminal lama Muntok.
Design bangunan tempat ibadah bagi umat Islam ini menurut kabarnya dirancang seorang arsitek asal China. Menyisir Masjid Jamik Muntok ini bang katur menghitung ada sebanyak 6 buah tiang utama yang menopang masjid pada bagian depan dan 4 buah dibagian dalam. Keseluruhan pintu masuk kedalam masjid yang terbuat dari kayu bulin ada 5 buah, sedangkan jendela dengan ukuran 120x220 cm sebanyak 17 buah. Disamping kanan masjid juga telah dibuat bangunan tambahan untuk menampung umat Islam dikota Muntok.
Sebagian bangunan telah dipugar dan telah berganti bahan bangunan. Yang masih bertahan asli dari bangunan Masjid Jami Muntok ini adalah bangunan induk beserta pagar dan kusen kayu. Bedug yang berada disisi kanan luar juga masih memiliki penopang kayu yang masih asli, Nyang sudah dipugar, diganti dan tidak asli lagi adalah genteng dan kulit bedug nyang memiliki diameter 1 meter tersebut.
Cerita lainnya adalah ketika Masjid Jami ini didirikan, Mayor China Tjong A Thiam turut menyumbang batu bata putih pualam dari Itali nyang sampai sekarang masih ada melapisi lantai masjid. Serta warga China lainnya juga ikut membantu pembangunan Masjid Jami Muntok ini.
Ini dulu kisah pelesiran bang katur di masjid Jami Muntok. Tunggu kisah lainnya dalam bang katur becerita nempuh Bangka.
Dear Tri,
Semoga email ini menemui Tri dalam keadaan sehat wal’afiat, penuh semangat dan selalu optimis. Saya menulis email ini untuk menyampaikan hasil seleksi tahap pertama Pengajar Muda.
Bangga kami membaca aplikasi yang Tri tulis dan kirimkan. Setiap kalimat yang terpampang disana merupakan refleksi betapa solid potensi masa depan bangsa kita. Berderet anak-anak muda republik ini menyatakan siap berangkat menjadi guru di pelosok negeri.
Semangat untuk melunasi sebuah janji kemerdekaan hidup di anak-anak muda. Mencerdaskan kehidupan bangsa adalah janji kita pada setiap anak bangsa. Kemauan Tri untuk hadir dan melunasi janji itu yang membuat kita semua yakin bahwa kelak janji itu akan terlunasi.
Tri yang saya banggakan, dalam proses review kemarin satu per satu aplikasi itu dibaca oleh tim seleksi. Disimak sangat mendalam. Kami yakin bahwa setiap formulir aplikasi itu mewakili sebuah semangat. Semangat itu terasa hidup dan harus selalu dijaga agar tetap hidup.
Saya ingin semangat tinggi itu Tri pertahankan. Hidup-hidupilah semangat itu dengan keyakinan bahwa pengabdian itu memiliki banyak jalan dan jalur. Indonesia Mengajar hanyalah satu diantara sekian banyak jalur untuk turut memajukan bangsa tercinta.
Dengan kesadaran itu dan rasa berat hati melalui email ini saya harus menyampaikan kabar bahwa Tri belum bisa bergabung menjadi Pengajar Muda. Tetapi saya juga yakin bahwa Tri Zuni adalah anak muda tangguh, potensial dan siap mengabdi. Karena itu saya yakin, semangat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa itu akan selalu hidup pada diri Tri.
Saya sadar kabar ini mungkin terasa berat, tapi yakinlah ada banyak cara untuk meraih cita-cita, untuk mengabdi dan untuk melunasi janji-janji kemerdekaan kita. Ada banyak peluang baru yang bisa terbuka saat ikhtiar dilakukan dengan optimal. Saya mendorong Tri terus berkiprah, terus aktif mendorong kemajuan pendidikan kita lewat berbagai jalur.
Saya berharap kita jaga hubungan ini. Let's continue to keep in touch. Saya yakin akan ada banyak hal yang bisa kita kerjakan bersama-sama. Saya akan simpan alamat email Tri, dan jika ada kegiatan Indonesia Mengajar yang mungkin Tri bisa berkiprah saya akan mengabarkan. Begitu juga, jika Tri ada ide dan gagasan mohon sampaikan via email ini. Saya akan senang menyambutnya dan mendiskusikannya.
Semoga Tri tetap bersemangat, tetap optimis memandang masa depan dan semoga keberhasilan akan menjadi bagian dari Tri.
Salam hangat,
Anies Baswedan
Bagaimana seseorang bisa membuat tulisan yang begitu rapi dan menyenangkan untuk dibaca, walaupun untuk menyampaikan berita yang "tidak menyenangkan"...