Repost: Ngebetein, Jangan Dibaca
Bismillah.
Nikah itu adalah bagian dari takdir yang Allah berikan kepada kita sebagai pemeran takdir. Namun, tidak ada diantara kita yang mampu memprediksi takdir, mengukur takdir, atau bahkan membuat takdir sendiri. Setiap orang itu berbeda, begitu juga takdir dan rezeki yang didapatkan. Takdir yang kita jalani, belum tentu cocok dijalani oleh orang lain, begitupun sebaliknya.
Lalu kita mengomentari takdir menikah orang lain dengan "ih ko cepet banget sih nikahnya" "dia kok lama kali ya ketemu jodohnya" "eh dia nikah lambat kali". Cepat atau lambat tu ukuran siapa? Ukuran kita kan? Kenapa kita ukurkan ke orang lain?
Kalo manusia itu ibarat alat ukur, maka kita sedang mengukur tinggi dengan timbangan berat, ngukur jarak pake timbangan tukang sayur. Engga pas.
Pas kita ngomentarin orang lain, yang menurut kita nikahnya kecepetan, atau lambat banget, karena engga sesuai sama ukuran kita. Seakan kita itu menganggap nikahnya engga tepat, yang berarti takdir menikahnya engga tepat juga. Padahal,
Takdir itu selalu tepat bukan?
Bahkan yang nikah lambat itu, siapa yang tahu bahwa menikahnya sudah tidak tepat?
Ada juga yang bilang "tunggu siap baru nikah", atau "aku engga siap nikah", tapi disaat kita berfikiran kayak gitu, malah Allah takdirkan kita dipinang seseorang. Takdir itu engga pernah salah, dan engga datang saat kita engga siap.
Daripada berhari-hari berlindung dibalik alasan belum siap, mari sama-sama kita mempersiapkan apapun takdir yang akan kita lewati. Toh dengan bilang bahwa diri ini belum siap, memangnya kita sudah mempersiapkan apa?
Dengan tulisan ini, aku pengen kita sama-sama bangun dari kebiasaan menilai ke-tidak-tepat-an takdir, karena hakikatnya kita pun engga tahu, waktu yang tepat itu kapan.
Allah menakdirkan kita sebuah takdir, itu tandanya Allah tahu, bahwa itu waktu yang tepat, kita mampu dan siap menjalaninya.
We make our standard for ourselves, and everyone have their own.
Allahu A'lam.
(Pernah di post di Instagram, disunting di Tumblr)










