Healthy Quarantine Journal: Sampai Kapan Jiwa Ekstrovertku Menjerit?
Aku merasa senantiasa membutuhkan orang lain agar aku lebih semangat menjalani hidup, terbukti, dari lahir saja aku butuh Mama untuk melahirkanku dan dokter yang membantu proses operasinya. Kenapa jadi ke sini? Haha.
Bukannya aku merasa sulit menjadi seorang ekstrovert, bukan juga menyudutkan introvert. Tapi, aku sangat terbiasa mengobrol secara langsung, makan bareng, ngobrol bareng, diskusi bareng. Aku senang bisa ketemu dengan orang-orang yang sepemikiran denganku, senang juga bisa kenal dengan orang-orang yang bersebrangan dengan nilai-nilai personalku.
Di pekan ke-3 karantina rasanya sedang puncak-puncaknya aku merindukan suasana asrama dan suasana kampus. Aku ingin kembali duduk di kelas, mendengarkan dosen dan mencatat atau malah mencoret-coret buku catatanku. Aku rindu bertemu dengan banyak teman ketika adzan dzuhur berkumandang, bertemu dengan teman-teman lintas jurusan namun selalu berjabat tangan ketika saling tatap.
Aku rindu sudut-sudut tongkrongan FISIP dan MBRC (Perpustakaan), di mana aku bisa berdiskusi dengan teman-teman entah mengerjakan tugas atau laporan turlap. Sudut-sudut Departemen Kesos menunggu giliran untuk supervisi praktikum atau menunggu Bang Budhi untuk rapat 10 pemuda.
Aku rindu sudut-sudut masjid Al-Hikmah FISIP yang di atasnya terdapat sebuah ruang kecil bernama sekre. Tempat biasa yang kujadikan sebagai pelepas penat dan pelepas kantuk, bukannya menahan tidur, tapi tidur. Aku rindu bagaimana suasana ramainya jam 5 sore, setiap orang bertebaran menuju titik-titik pertemuan bersama peer atau divisi organisasinya.
Semakin ke sini aku paham, bahwa situasi ini pun tidak ada yang menghendaki, kecuali Allah. Aku yang tidak pernah menggunakan zoom tiba-tiba jadi pengguna setianya. Google meet, google hangout, ms team, apalagi apalagi? Aku jadi dipaksa untuk melek teknologi dan memaksimalkannya.
Alhamdulillah tsumma alhamdulilah. Rindunya terobati, meskipun nggak ada drama-drama jabat tangan dan pelukan ala-ala yang biasa aku lakukan bersama teman-teman. Setidaknya suara dan energi positifnya masih sangat terasa.
Kemarin, akhirnya pertemuan impulsif nan hikmahful terselenggara tanpa wacana. Bu Dini, bukan sekadar wali asrama ataupun guru aqidah akhlak. Teman-teman lingkaranku juga bukan sekadar teman, melainkan layaknya saudara.
Pada akhirnya, lingkungan pertemanan adalah lingkungan kedua yang paling berpengaruh setelah keluarga, karena kepada siapa kita berteman akan memengaruhi bagaimana pengalaman yang kita dapat dari suatu peristiwa. Maka maksimalkan lingkaran ini untuk kebaikan, baik untuk diri sendiri, saudara-saudara di lingkaran ini, hingga kebaikan dan kemanfaatan yang meluas untuk masyarakat.
Maka perlakukan Ramadhan sebaiknya seperti saudara yang kita punya. Senantiasa anggaplah bahwa Ramadhan adalah sebuah kesempatan, maka kita tidak akan pernah menyia-nyiakannya.