Udah NHW 8 aja nih.. nggak kerasa yah? Ternyata selama kelas ini justru saya banyak menggali diri sendiri. Sedikit insight yg alhamdulillah saya rasakan selama hidup saya dan nggak pernah padam adalah justru 4 cahaya yg di kelas dibilang sebagai ciri orang yg sudah menemukan misi hidupnya diantaranya:
Bersemangat dan memancarkan binar di matanya
Energi positifnya muncul sehingga seperti yg nggak pernah capek
Rasa ingin tahu yg besar sehingga ingin terus belajar
Imunitas tubuh baik sehingga jarang sakit
Sebetulnya misi hidup saya apa sih? Mungkin dulu saya nggak mampu bicara atau menulis sehingga saya rasa saya nggak punya misi hidup yg jelas. Saya selalu bilang mengalir seperti air. Namun, pada kenyataannya, mindset dan tubuh saya selalu bilang kalau jatuh, bangkit segera. Kalau tidak tahu, cari tahu. Kalau sedih, senyum lagi. Saya mau jadi seseorang yg baik dan kebaikannya dapat dirasakan oleh sekitar saya dan menjadi pahala buat orang tua saya (alfatihah juga untuk ayah dan ibu saya ya.. mom dad, I miss you so so much in my life..)
Saya rasa dari segitu banyak ups and downs memang yg paling sedih adalah ketika melihat orang tua kita meninggalkan kita. Semangat!
Sebenarnya, secara nggak langsung saya selalu ingin jadi ibu dari kecil. Semakin besar, saya baca banyak buku tentang self improvements, yg jarang dibaca usia saya dulu. Saya suka sekali bicara pada diri sendiri, saya nggak suka kalau ada yg bicara buruk tentang dirinya sendiri. Saya nggak mau bersedih karena hal yg nggak saya suka, misalnya nilai fisika yg nol. Hahahah.. I keep telling myself that there are things that I can do on my own.
Nilai fisika (atau apapu itu) jelek bukan akhir dari segalanya. Masuk IPS bukan akhir dari segalanya, karena mungkin itu yg terbaik bagi kesehatan mental dan pribadi saya. Saya terus belajar. Akhirnya setelah kuliah, saya ingin jadi guru TK. Ternyata, saya baru bisa mewujudkan hanya beberapa tahun saja.
Lalu, saya belajar hal yg sungguh sangat baru dan selalu saya hindari. Hahahaha.. tapi, saya belajar, saya menangis dan hampir putus asa karena nggam bisa apapun. Not a single thing saya kerjakan dengan baik. Not even a small thing. Disana saya merasa nggak percaya diri, lalu saya bertemu beberapa teman baik yg sabar mengajarkan saya ini dan itu. Menangis? Setiap malam. Saya berpikir, apa yg salah?
Nggak. Ngga ada yg salah. Hanya saja saya baru belajar dan semua begitu cepat buat saya. Jadi, saya rasa nggak ada yg nggak bisa, cuma mau apa nggak kita belajar. Just a matter of time. Dan memang, mungkin hal ini bukan di kuadran yg saya suka dan bisa. Saya rasa kamu juga harus push yourself to the limit untuk menjadi lebih kreatif dalam belajar dengan mencoba hal yg sama sekali baru untukmu. Dari sana, saya berpikir mungkin, mungkin saja saya harus menjadi contoh anak baru yg nggak bisa apa-apa dengan membuat banyak inovasi catatan disana dan disini.
Saya cuma bekerja selama satu setengah tahun disana lalu menikah. Setelah menikah, saya banyak menghabiskan waktu dirumah. Dari bekerja lalu saya diam dirumah. Bosan? Nggak. Hehe.. saya banyak belajar dirumah. Refleksi diri dan belajat hal-hal baru. Menantang? Ya. Tentu saja. Saya selalu suka hal baru. Hal ini membuat saya tertantang. Apa lagi yg saya belum bisa. Kadang saya berpikir, 5-10 tahun lagi apa lagi yg menanti ya?
Kayaknya, 5-10 tahun lagi, dan seterusnya, saya juga mau jadi ibu inspiratif yg mampu menyemangati ibu lainnya. Untuk itu saya juga harus terus dan terus belajar. Saya mau menjadi istri dan ibu yg bermanfaat buat keluargaku dan secara luas buat semua. Saya ingin jadi orang yg berdampak baik bagi sekitar.
Kehidupan itu berubah, kita harus terus berubah, sehingga bisa terus menyesuaikan.
Bagaimanapun itu, yg saya tau hanya bagaimana diri harus menyesuaikan terhadap perubahan dengan begitu saya dapat terus mengasah kemampuan diri. Tentu saja nggak akan se adaptif saat saya yg hari ini menulis di tumblr, namun saya yakin dengan belajar wawasan dan perasaan kita terasah untuk menyesuaikan.
Dalam kurun waktu 2017 yg sudah setengah jalan, saya alhamdulillah sudah mampu menyesuaikan diri dengan perubahan jadwal dari istri merangkap menjadi ibu. Bahan ajar sekarang bukan cuma bagaimana menjadi istri yg baik, namun juga bagaimana menjadi ibu yg baik bagi Hanum. Resolusi saya nggak banyak, tapi saya menyesuaikan, jika dapat saya kerjakan saya lanjutkan. Misal, belajar menghandle kebutuhan rumah tangga dan sharing pengetahuan seputar masalah ibu baru. Mungkin, bagi yg sudah senior, masalah ibu baru itu apalah ya.. tapi bagi kami, luar biasa menyita pikiran. Buat saya kali ya.. hihi..
Be : Saya ingin menjadi pribadi yg menyemangati diri dan orang lain.
Do : Saya akan terus belajar.
Have : Saya akan berbagi apa yg saya tahu dan belajar dari mereka yg lebih tahu dari saya.
Lagi-lagi endingnya.. yuk ibu semangat! Semoga tulisan saya dapat memicu adrenalin dan oksitosin kalian ya, halah.. maaf tulisan kali ini agak serius, ehem.. karena saya ternyata bisa juga serius. Semoga menginspirasi. #thepowerofmahmud
Keep calm ibu-ibu, be professional, and rezeki will follow.
P. S. Rezeki itu darimana aja ya.. meski kadang berasa tengah bulan udah seret #baladaibuibu, ingat Allah menitipkan tetangga yg baik dan teman-teman yg baik di sekeliling kita, berbuat baiklah, makan kebaikan akan datang. Hahahahaha..
Tidak terasa sudah sejauh ini perjalanan saya mengikuti program ini. Materi minggu ini telah berhasil memangkas kegundahan hati saya dan lagi-lagi semakin mengarahkan saya pada tujuan yang jelas. Mata saya seakan terbuka, dan bagian otak yang sulit memahami seolah mendapat pencerahan. Ini seperti periode renaissance bagi saya. ✔ Satu Aktivitas yang SUKA dan BISA Serius nih? memilih satu aktivitas yang suka dan bisa? Tanpa ada tekanan? Tanpa ada tuntutan? Benar-benar terserah saya mau nulis apa? Terima kasih, rasanya seperti ada seseorang yang benar-benar mendukung serta menghargai keinginan saya. *lalu semangat berkobar* tentu saja saya memilih aktivitas favorit saya. "menulis" walaupun masih belajar mengarang bebas dan menjadi penulis diari sehari-hari. ✔ BE DO HAVE ➡ Saya ingin jadi apa (BE) Hal yang utama yang saya inginkan adalah bisa menginspirasi anak-anak saya kelak. Tentu saja, saya juga ingin menginspirasi banyak orang lewat tulisan-tulisan saya. ➡ Saya ingin melakukan apa (DO) Saya ingin terus mempelajari, mendalami serta mengasah kemampuan menulis saya dengan menambah jam terbang. Saya juga ingin terus bisa mendampingi anak-anak saya, tanpa ketinggalan satu momen pun. ➡ Saya ingin memiliki apa (HAVE) Saya ingin memiliki karya nyata berupa buku yang menginspirasi dan bermanfaat. Serta ingin memiliki usaha yang memberdayakan warga sekitar. ✔ Berdasarkan 3 Dimensi Waktu ➡ My Lifetime Purpose Saya bersama suami bermimpi ingin memiliki semacam lembaga yang bisa dimanfaatkan warga sekitar rumah kami kelak. Suami ternyata telah memiliki rencana yang rinci di kepalanya. Dan bagi saya sendiri, selain ingin menjadi penulis yang menginspirasi. Saya juga ingin membuat semacam pusat tempat bermain khusus anak-anak lengkap dengan perpustakaan seperti yang banyak saya temukan di (Jepang) sini. Di sini, para kyouku mama (sebutan untuk para ibu rumah tangga di Jepang yang mengabdikan dirinya mengurus anak-anak) berkumpul untuk bermain bersama dan berbagi. Dan semua fasilitas ini gratis. Dengan harapan saat kelak saya sudah tiada fasilitas ini akan terus memberi manfaat dan menjadi amalan yang tak terputus bagi saya. ➡ My Strategic Plan 2017 : Bisa membawa keluarga main ke sini (Jepang) 2018 : Memulai Backpacker keliling Asia/ Eropa 2019 : Umroh/ Haji ke Baitullah. Buku pertama terbit. Tambah momongan hehehe.. 2020 : Punya usaha tetap yang menghasilkan. Punya rumah impian. 2021 : Tercapainya cita-cita suami saya. 2022 - 2024 : Periode pengumpulan modal untuk mimpi besar saya dan suami. 2025 : Terwujudnya my lifetime purpose. ➡ My New Year Resolution Di luar hal keduniawian yang tidak ada habisnya, tidak ada puasnya. Setiap tahun resolusi saya tetap sama, yaitu ingin menjadi pribadi yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Menjadi lebih religius, senantiasa meningkatkan kualitas ibadah serta keimanan. Salam Ibu sedang dalam Misi Kehidupan, Iffah Zakiyyah