Nice Homework #3: Membangun peradaban dari Dalam Rumah
Minggu ini sedikit menegangkan ngerjain Nice Homework #3 nya IIP. Kenapa? Karena selain materinya adalah Membangun Peradaban dari Dalam Rumah, terselip di dalamnya tugas yang Maha Penting bagi seluruh pasangan menikah baik yang baru maupun lama, yaitu, nulis surat cinta! Omagad, gimana gak geli-geli gimana gitu.. haha.. Anyway, tugas kali ini saya dapet pertanyaan yang belum saya jawab (lagi) di grup IIP Batch 4.
Jadi, apa sih yang bisa diciptakan dari dalam rumah?
Denger pertanyaan begini yang ada dipikiran saya adalah dari rumah kita bisa melahirkan generasi yang hebat dan unggul. Selain itu, kita (ibu) memegang kendali penuh atas pendidikan terhadap anak-anak dengan izin bapak presiden alias suami. Karena sebuah peradaban nggak mungkin ada kalau nggak ada seorang ibu yang mendidik anaknya hingga ia jad dewasa dan memiliki pengetahuan akan apa yang terjadi disekitarnya. Sgitunya ya peran ibu? Saya baru memahami saat sekarang saya merasakan jadi seorang ibu.
Omong-omong soal membangun peradaban dari rumah, ternyata, hal itu nggak bisa diwujudkan secara sepihak aja saat kita menikah. Adapun beberapa langkah yang harus kita lalui waktu kita mebangunnya, diantaranya:
1. Temukan Potensi unik kita dan pasangan
2. Lihat kkeunikan positif dari diri kita
3. Lihat Potensi anak-anak kita
4. lihat lingkungan sekitar kita.
Nah, setelah semuanya dapat terjawab barulah kita bisa bersama menyusun peradaban seperti apa yang akan kita bangun bersama suami. Karena, antara pekerjaan, berkaya, dan mendidik anak adalah suatu kesatuan yang berintegrasi satu sama lainnya.
Tugas NHW #3 ini justru bikin deg-degan karena perlu kita ingat bersama, membutuhkan kerjasama bilateral yang nyata, hahaha.. kaya apaan aja. Eh tapi beneran! Nih tugasnya...
a. Jatuh cintalah lagi pada suami Anda, buatlah surat cinta yg membuat Anda memilihnya sebagai ayah bagi anak-anak Anda. Berikan padanya dan lihatlah responnya.
Untuk hal ini, jangan tanya saya dan dia ya? Surat cintanya ada deh... tapi via watsap, karena kebetulan saya di Bandung dan dia sehari-hari kerja di Cilegon, LDM? Ya. Katemunya seminggu sekali, dan udah lewat deadline NHW ini kalo nunggu lihat wajahnya saat baca surat cinta. Hahaha...
If you treat each other like you did in the beginning, there will never be an end. (Emily Norris on her Youtube channel.
Dari awal kita nggak pernah bikin surat cinta satu sama lain, but we do treat each other like when we first met. Ada perasaan malu waktu saya chat suami tadi subuh habis sahur. Dan tahukah apa responnya...
Me: *nulis surat cinta singkat on watsap*
ngarep apa gitu balesannya, haha.. dim!
Hubby: ini ngetik emojinya dimana ya?
(dia baru ganti HP dan belum di set, gubrak! Hahaha.. tapi jawaban ini memang... hmmm.. sudah kuduga...) chat tentang munculin emoji di HP dia berlanjut,
Hubby: Pasti kamu expect yang lain pas aku typing, hehehe
Hubby: Gak ada ay, yg mana
Me: Setting - General - Keyboard - Keyboard edit atau add new keyboard
Hubby: Oooh harus disetting dulu y
Me: hahaha.. makasih ya ay, aku udah dapet balesan surat cinta aku XOXO
Dan.. tiba-tiba ada chat lain masuk,
Hubby: Lupa aku mau bilang sama kamu, kamu jangan khawatir ya kalau aku jarang posting di medsos tentang kita. Krn aku bukan orang spt itu. Perasaanku sama km dan Hanum gak akan berkurang sedikitpun, dan ak gk perlu publik tau. Ckp kamu dan hanum yg merasakan.
Terus aku? Ya melting laaah.. hehehe... coba aja pulangnya hari ini... hahaha...
b. Lihatlah anak-anak Anda, tuliskan potensi mereka masing-masing.
Hanum masih kecil banget tapi aku lihat dia berpotensi jadi easy kid. Artinya, kalau di bukunya Anti Panik, easy kid itu punya pola makan, tidur, dan buang air yang teratur Selain itu, ia juga cepat beradaptasi dengan lingkungan, makanan, dan orang baru. Juga, ketika frustasi akan cepat ditenangkan. Aamiin.. semoga sampe besarnya juga gitu kaya ibu dan ayahnya. Hehehe..
c. Lihatlah diri Anda, silakan cari kekuatan pada diri Anda. lalu, lihat kembali suami dan anak-anak Anda, bacalah kehendak Allah, mengapa Anda dihadirkan ditengah-tengah keluarga dengan potensi yang Anda miliki.
Mungkin, I was born to be a tough leader dan happy -all-the-time- person. Pernah satu waktu saya mengalami kemunduran diri yang begitu pesat, tapi nggak lama saya bisa bangkit lagi dan tetap bahagia. Ditinggal kedua orang tua saat remaja membuat saya harus jadi kakak yang kuat dan memimpin adik saya. Saya juga harus lekas bangkit agar adik juga ikut semangat dalam menjalani kehidupannya. Alhamdulillah, dengan adanya sikap positif ini sebagai tough leader, saya bisa ada diantara adik, suami dan anak saya. Saya juga ingin tetap sehat dan melihat Hanum tumbuh dewasa hingga saya menjadi nenek dan uyut bagi anak cucu saya. Yes, I was born to be a tough leader (sekarang leadernya suami, saya leadernya Hanum hihi..) and a happy person.
d. Lihat lingkungan sekitar Anda, tantangan apa saja yang ada di depan Anda? Adakah Anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga Anda dihadirkan disini?
Pada awal pernikahan, saya sempat tinggal berdua dengan suami di Cilegon. Tetangga tidak terlalu kenal, sibuk masing-masing. Tapi diantara mereka, saya belajar berinteraksi dengan orang di lingkungan yang sama sekali saya tidak kenali. Ditambah lagi saat itu saya sudah tidak bekerja. Jadi, lebih banyak belajar mandiri dan menyesuaikan dengan lingkungan.
Sekarang saya tinggal di Bandung, tantangannya justru berbeda. Di tempat yang banyak keluarga kami, saya justru harus belajar tetap mandiri. Karena kecenderungan saat ini, jika seorang anak perempuan yang sudah menikah dan tinggal dekat dengan keluarga adalah mereka cenderung lebih mengandalkan keluarga ketimbang menjalankan sendiri. Selain itu, keluarga kecil kami juga harus menunjukkan bahwa kami dapat bertumbuh dan bergerak bersama serta menjadi contoh bahwa orang tua adalah satu tim agen perubahan dan peradaban bagi keluarga mereka. Pernikahan kan sesuatu yang dinamis, maka baik kita sebagai pasangan, maupun sebagai orang tua seharusnya selalu belajar untuk menerima dan menyesuaikan diri dengan perubahan. dan saya ingin, ini menginspirasi pasangan muda maupun pasangan yang telah lama menikah, bahwa menikah bukan semata-mata bertahan bersama tapi berjalan bersama dan saling menerima perubahan.
Waaaah, alhamdulillah ya... Akhirnya berlalu juga proses merenung lama dalam kesendirian. Hahaha.. Mungkin cukup segitu dulu NHW #3 saya, semoga bisa menginspirasi diri saya sendiri untuk menjadi diri yang lebih baik.
Salam for the better version of me.
See you again on the upcoming posts. XOXO