
seen from China
seen from United States
seen from Chile

seen from China
seen from Malaysia
seen from United States
seen from China

seen from United States

seen from India
seen from United States

seen from Ecuador

seen from United States
seen from United States

seen from Netherlands
seen from Australia
seen from United States
seen from Türkiye
seen from France
seen from Bangladesh

seen from United States
the worst thing about being a fictosexual is that you're in love with an idealized illusion of your own fantasy
and maybe you think "shit i'm crazy" but after all when it happens you're fine, reality and real people are so scary sometimes and so you need to
close your eyes
turn off the world
and start dreaming
you can hear their voice, touch their skin, you can stay in their arms. your heart starts beating
but when you realize that all of this can never be real it hurts, you ask yourself
why?
what you did wrong to be?
why you fall in love with imaginary characters and not real people?
cause it's all a dream
except your emotions
and as much as i live it in a completely natural way and i always keep a fixed line between reality and fantasy in some moments of weakness i just want to cry clutching the pillow
but i'm sure of it:
fictionality and fantasy saved me when i was little...
and they will save me in the future
so... despite all this
thank you
💙
Nobody can hide from me!" my cosplay for Nijikon 2015, Ah Puch, God of Decay from Mayan Pantheon. This was the first contact with eva foam and it give the start for a lot of new discoveries. Was a pleasure to work with my friends and bring this to life.
on the japanese wikipedia page for fictosexuality, it's relatively normal, but you try and find an english equivilents and it's the nijikon page, which i dislike for its mentions of subjects that do not put anyone in a good light at all
wonder why?
WOW (Wibu Otaku Wota)
Anime atau yang sering disebut kartun yang berasal dari Jepang mulai mewabah di Indonesia sejak tahun 90an. Tapi sebenarnya, anime agak berbeda dari kartun jika dilihat dari segi teknik penggambaran maupun jalan ceritanya. Menurutku, anime lebih kreatif dari kartun. Bisa dilihat dari banyaknya variasi dan bentuk gambarnya. Bahkan, karakter anime nyaris mirip dengan manusia. Malah terkadang, karakter anime lebih manis dan imut daripada manusia. Itu sebabnya, aku suka nonton anime.
Berawal dari hobiku yang menonton talk show di TV. Karena dulu TV di rumah cuma 1, jadi aku sering rebutan remot sama adikku. Tiap acara TV yang aku suka lagi jeda iklan, dia langsung ganti channel yang menayangkan film kartun, eh anime Naruto. Sambil nonton itu anime, adikku sampai mempraktekkan jurus-jurus ala Naruto kalau lagi main sama tetangga.
‘Mana bisa jurus ngeluarin api dari mulut? Mungkin dikira debus apa ya.’ pikirku dalam hati.
Karena sering nonton itu anime bareng adik, akhirnya aku sedikit hafal lah nama-nama tokohnya, tapi tidak dengan karakternya. Saking populernya, sampai ada majalah yang nerbitin minibook khusus membahas karakter di anime Naruto. Aku heran, karena ternyata temen-temen cowokku di SD pada ngebahas itu. Kepo, aku pun baca minibook itu. Sampai akhirnya, ada satu karakter yang bikin aku penasaran karena sisi misteriusnya. Dialah Sasuke Uchiha, karakter yang digilai banyak perempuan di anime naruto yang ingin balas dendam pada kakaknya. Aku penasaran dengan apa yang melatar belakangi alasan dia ingin balas dendam dan didukung dengan face nya yang berbeda dari teman ninjanya (red: ganteng) dan sorot matanya yang tajam. Dari situ aku mikir, kok bisa ya ada karakter anime yang se-menarik dia?
Ketertarikan berlanjut hingga aku beranjak ke SMP. Teman-teman dari SD sungguhlah berbeda dari SMP. Karena aku masuk SMP unggulan yang aktif dengan kegiatan belajarnya, tentunya persaingan disini lumayan ketat. Ngga ada waktu buat mereka untuk bahas masalah yang ngga penting, anime kesukaan misalnya. Disini, aku merasa sedikit berbeda dari teman-temanku yang ngomongin pelajaran atau senior kece. Aku butuh teman untuk berargumen soal anime Naruto. Bahkan, aku butuh teman yang bisa diajak berdiskusi tentang Sasuke. Di kelas itu, aku merasa terasing.
Pada saat itu, sedang populernya facebook. Ngga mau ketinggalan, aku pun dibuatkan akun facebook oleh tanteku. Aku pun iseng mengetik keyword “Naruto” dan menemukan grup berisi pecinta Naruto. Berasa kayak nemuin harta karun di dalam dasar laut, aku pun langsung gabung di grup itu. Disana aku nemuin nama akun facebook yang aneh-aneh, contoh: “Ayu tingting Luph Sasuke”, “Mulan jameela chayank Sasuke”, “Jenifer dunn Sasuke polepel”, “Awkarin hanyauntuk Sasuke celamanyah”, “Nikita mirzani poenya Sasuke celaluw”, dsb. Dari situ, aku mulai add temen grup yang mencantumkan embel-embel Sasuke di namanya. Setelah di confirm, biasanya mereka tanya awal mula suka anime Naruto. Dari grup itu, aku akrab dengan Veren (jakarta), Shally (bekasi), Saa & Jeane (bandung), Tiara (pontianak), Riesty (tangerang), dan Hikmah (sampang). Mereka semua adalah penggemar Sasuke. Kita saling bertukar nomor handphone dan smsan, membahas seputar Sasuke dan Sasuke. Karena asyik dengan duniaku sendiri, aku jadi jarang keluar rumah. Sejak saat itu, keluargaku menganggapku seorang yang anti social.
Ngga cuma mengikuti jalan cerita di anime nya saja, bahkan aku sampai rela membeli manga (komik Jepang) Naruto, karena cerita di manga lebih cepat daripada di anime. Cerita di anime Naruto terus berkembang. Karakter yang melatarbelakangi Sasuke ingin balas dendam sudah muncul. Dialah Itachi Uchiha, kakak Sasuke yang dikira jahat, tapi ternyata ada maksud tersembunyi dibalik kejahatannya. Itachi ternyata karakter yang baik dan penyayang, yang terpaksa mengambil resiko dengan melukai perasaan dirinya sendiri serta Sasuke demi menyelamatkan masa depan orang banyak. Dan aku tersentuh dengan beberapa kalimat bijak yang dilontarkan Itachi, plus face nya yang 11/12 sama Sasuke (red: ganteng). Dari situlah, aku mulai tertarik dengan Itachi. Maaf Sasuke, aku sudah berpaling ke kakakmu~
Sayangnya, umur Itachi di anime ngga lama. Dia meninggal karena sakit parah saat bertarung melawan Sasuke. Benar-benar scene yang menguras emosi. Entah, mungkin mataku lagi kelilipan saat nonton adegan itu #ngeles Yah, mungkin itu takdirnya aku disuruh balik lagi ke Sasuke #lah Karena masih ingin berdiskusi mengenai Itachi, aku mencari penggemar Itachi lainnya di facebook grup pecinta Naruto. Disana, rata-rata penggemar Itachi itu cowok. Sungkan untuk add duluan, aku mulai menyapa di grup dan memulai diskusi soal Itachi. Banyak yang merespon postinganku dan mulai akrab denganku. Mereka adalah Jordan (cianjur), Lukas (semarang), Odie (bogor), Tommy (jakarta), dan Abi (bali). Kami juga saling bertukar nomor handphone dan smsan. Di samping tentang jalan cerita di anime, aku juga diperkenalkan dengan situs fanfiction, dimana seseorang yang tertarik dalam dunia fiksi bisa menggunakan karakter anime sebagai tokoh dalam cerita buatan mereka sendiri. Aku sering membaca cerita yang ada kaitannya dengan Sasuke dan Itachi dalam genre humor atau parody. Karena selalu membahas seputar Jepang dan sok bicara bahasa Jepang ala kadarnya, keluargaku malah mengira aku sedang LDRan dengan orang Jepang. Dari situ pula aku menyadari, bahwa aku lebih menikmati waktu di dalam rumah dan menyendiri daripada berbaur dengan dunia luar.
Awalnya, ku kira hanya aku saja cewek yang suka anime di sekolah. Tapi ternyata aku ngga sendirian. Di kelas 2, aku nemuin 6 cewek teman sekelasku yang juga suka anime Naruto. Mereka adalah Tsuki, Hime, Megumi, Yuki, Ai, dan Chibi. Kami pun menjadi akrab hanya karena sama-sama menyukai anime Naruto. Kami sering saling bertukar komik, menyanyikan lagu soundtrack anime Naruto di kelas (ini agak sedikit mengganggu teman yang lainnya), bahkan kami juga berani mengaitkan pelajaran di kelas dengan anime Naruto. Dari situlah, aku merasa bahwa aku tidak sendirian, aku tidak terasing. Hanya saja, seleraku yang langka dan unik, yang jarang disukai oleh siapapun. Meskipun kami sama-sama menyukai anime Naruto, tokoh yang kami sukai berbeda. Misalnya: Hime (Neji & Shino), Megumi (Sai & Sakura), Yuki (Kakashi), Chibi (Hinata & Naruto), Tsuki (Deidara & Sasori), dan Ai (Gaara). Karena kesamaan ini pula, kami membentuk komunitas pecinta Jepang, D’vienigas. Semenjak itu, aku mulai melupakan teman dunia mayaku, karena aku merasa sudah menemukan kehidupanku yang sesungguhnya bersama teman-temanku di dunia nyata.
Seiring berjalannya waktu, kami beranjak ke SMA. Kami berpencar dengan SMA yang berbeda, apalagi Hime dan Megumi pindah ke luar kota. Kami pun jadi lost contact, mengingat kami mempunyai kesibukan masing-masing. Di SMA, lagi-lagi aku merasa terasing karena nggak ada yang menyukai anime Naruto sepertiku. Ada sih cowok-cowok yang suka tentang Jepang di kelasku, tapi sayangnya yang mereka sukai itu video ikkeh ikkeh kimochi. Idih, rasanya pengen muntah kalo dengerin mereka bahas itu -_- Tunggu dulu. Kenapa aku selalu memikirkan tentang Sasuke dan Itachi? Hey, ada apa denganku? Kalau begini terus, bisa-bisa aku nggak fokus untuk meraih cita-citaku yang ingin menjadi career woman. Aku harus mengalihkannya dengan memikirkan dunia nyata. Karena itu, aku menjalin hubungan dengan mas Zet. Setelah putus, aku menjalin hubungan dengan mas Woy yang tak lama setelahnya, aku memutuskan hubungan itu. Yah, walau hubunganku dengan mereka berdua terjalin singkat dan tanpa dilandasi cinta, setidaknya aku berhasil meyakinkan diriku bahwa aku masih normal. Tak lama, aku mulai merasakan perasaan yang sama terhadap Sasuke dan Itachi pada sesosok lelaki bermata minimalis berinisial R yang tampil sederhana dan apa adanya.
Hingga pada tahun 2017, anime Naruto dibikin versi teaternya. Syukurlah, tokoh Sasuke dan Itachi diperankan dengan apik oleh aktor Jepang, Ryuji Sato dan Shinji Rachi. Tampang rupawan mereka juga menjadi nilai plus dan membuat saya lebih menyukai versi teater daripada versi anime, disamping animenya memang sudah tamat.
Yah, jadi hubungan saya dengan Sasuke dan Itachi hanyalah sebatas fans dan idola saja. Walau dalam anime Naruto, Sasuke dan Itachi digambarkan sebagai karakter yang sering membunuh, ada beberapa sisi positif yang dapat saya ambil dari mereka, yaitu sikap rajin belajar dan kerja keras untuk mencapai apa yang diinginkan. Ingat, nggak semua sifat fanatik itu buruk lho! Intinya, buang mudharatnya dan ambil manfaatnya. Special thanks buat Sasuke dan Itachi yang sudah menghiasi masa remajaku hingga kini aku beranjak dewasa. ^_^
El Complejo 2D (二次コン Nijikon?) es una parafilia que se refiere a la atracción por personajes de ficción, principalmente aquellos personajes de historietas, literatura pulp, manga, anime y videojuegos. El complejo 2D manifiesta el sentimiento de que los personajes de ficción son más atractivos (visualmente, emocionalmente o físicamente), que los seres reales
Nijikon aesthetics.
source.
Nijikon, an abbreviated form of 「2次元コンプレックス」 (read: nijigen konpureksu) which literally means “two-dimensional complex,” refers to the state of a person who harbors romantic emotions and often sexual attractions towards two-dimensional characters in fictions. Common examples of the objects of affection are characters from anime, manga, games, novels, and even illustrations.