Cerita Lahiran Zayyan
(Part 2)
Perutnya harus direkam lagi, hasilnya masih jelek. Sembari berlalu pergi. Saat balik lagi ke ruangan dia liat hasilnya " Ini masih jelek aja buu, udah sarapan belum sih?" Perawat itu setengah marah sambil liat hasil gerakan bayinya, "kalau makan nya cuman roti mana mau bayinya juga gerak, diserapnya cuman bentar bu yang kayak gitu mah". Dia celoteh aja sambil liat roti yang dibeli suami. Ngerasa bersalah juga sih ke debay Tadinya emang rencana mau beli nasi tapi warungnya masih pada tutup bada subuh teh. Mau pesen GrabFood juga takut kelamaan. "Bu... Bayi tuh harus dikasih nya yang bergizi, kita makan nya pun harus sering". " Iya siap Sus" Astaghfirullah deh, gegara tidak mengindahkan kata-kata orangtua suruh bawa nasi, jadilah begini. Tapi emang kondisi gini panik, mules ditambah diomelin. Rasa-rasanya ada dongkol si hati. Tapi kan mending elus dada dan Istighfar. Nggak apa-apa dia kan nggak tau segimana paniknya aku, dia nggak tau perasaan aku yang nggak karuan ini. Sudahlah yang penting sekarang aku harus fokus ke bayi, jangan pedulikan yang lain. Aku pun melakukan afirmasi positif agar gerakan bayi dalam kandungan semakin lincah. "Yuk dek, bergerak yang lincah yaaa, bentar lagi kita ketemu, dede bisa ketemu ayah, bunda, nenek, kakek, dan saudara yang lainnya. Keluar yah sayang... Bunda bakal ngurus dedek kok, di luar lebih nyaman, bakal banyak yang sayang sama dede, percaya sama ayah dan bunda yaah" Akhirnya setelah afirmasi Alhamdulillah dedek pun bergerak lincah dan CTG itu menunjukkan hasil yang baik. Aku pun diperiksa bukaan oleh perawat yang lain, alhamdulillah udah bukaan lima. Kini dari ruang CTG dipindahlah diriku ke ruang persalinan sekitar jam 11.24 WIB . Lumayan lama kaan. Huhuhu Kalau tiduran emang mulesnya kerasa banget, aku minta suami buat turun dan pengen mundar mandir aja di ruangan, mencoba gerak ditambah inhale exhale, tidak lupa juga senyum, kata orang biar sakitnya berkurang. Tak henti-hentinya suami elus-usap punggung dan juga bagian badan yang terasa sakit. Dzuhur pun berlalu, udah kerasa banget mulesnya. Dokter pun datang periksa bukaan. Ternyata sudah lengkap dan berbarengan dengan ketuban pecah. Pletuk. "Dari tadi udah mau ngeden yah? " kata dokternya. Padahal tinggal panggil perawatan aja. Perawat, dokter sudah siap. Satu, kali ngeden kepala bayi udah keluar, dua kali ngeden masih semangat. "Iya bagus bu, pinter. Yok tarik nafas lagi" "Ayo bu, bentar lagi, kasian bayinya... Tarik nafas, ngeden bu yang kenceng...iya bu ayo bu, terus dikit lagi bu...semangat, iya terus bu dikit lagi" Ngeden ketiga tenaga habis "liat ke arah perut ya Buu, jangan merem, jangan ngeluarin suara" "Ayo bu, dikit lagi...iya bagus, pinter" Mataku pasrah dan melihat wajah suami, yang maa Syaa Allah semakin terlihat ketulusannya juga kasih sayangnya. Astaghfirullah... Yaa Allah, Allahu akbar. Aku seolah berada di dunia yang berbeda dengan mereka, seolah di tarik ke alam apa, merasa linglung dan tak berdaya.. Tak ada tenaga, Rabb... Aku pasrah, bantu aku Rabbku, selamatkan aku dan juga anakku. Hanya terdengar sayup suara dokter "Maskernya jangan lepas, masker nya jangan lepas..." Mata sayuku pun melihat dokter... Mungkin dokter membaca mataku kalau aku udah pasrah. "Trek", terdengarlah suara Gunting. Dan Allah menarikku, memberikan kekuatan yang sejenak sempat hilang, mungkin di sana ada doa suami, mamah dan bapak yang tak henti-hentinya mereka lafalkan untukku, ya kekuatan itu dari mereka. Ah, sakit digunting tidak seberapa bagiku ketimbang mules/gelombang cinta yang luar biasa dari dedek bayi. Akhirnya ke lima kali ngeden "sreeetsreeet" barulah dede bayi keluar. Ooooaa ooooaaa. Di samping kananku, suami mengusap sudut matanya... Aku tidak tahu perasaannya seperti apa sekarang mungkin campur aduk. Tapi yang jelas ada rona bahagia yang terpancar dari wajahnya. Semua sakit yang dirasakan, semua rangkaian mules yang aku alamin, terbayarkan saat mendengar tangisan bayi kami.















