Cerita Melahirkan (Sedikit Tips Trick)
"we have a secret in our culture, and it's not that birth is painful. it's that women are strong." -Laura Stavoe Harm
Kuceritakan kisah melahirkan Deana, moment termenakjubkan yang sebenarnya sulit diuraikan kata-kata hingga tuliaan ini baru selesai di umur Deana yang menginjak 1 (satu) bulan lebih dan sampai hari ini aku masih tak menyangka bisa melalui proses tersebut (benarlah yang bilang melahirkan itu proses mempertaruhkan nyawa), sakit yang tak bisa diuraikan dengan kata-kata tapi kemudian bisa hilang begitu saja dengan satu suara tangisan, dengan sosok kecil yang didekapkan di dada.
Sebenarnya sekarang ada konsep gentle birth yakni secara sederhana melahirkan minim trauma, dengan beberapa hal yang perlu diperhatikan tapi intinya knowledge is power dan preparation adalah kunci keberhasilannya. Jadi jangan heran kalau banyak kelas/course yang ditawarkan untuk persiapan melahirkan untuk mempersiapkan jiwa dan raga. Dan sebaiknya diikuti kalau gak mau kayak saya . Hari melahirkan itu, saya merasa seacak-acaknya dan ter-apa-adanya moment yang disaksikan pasangan, saya akhirnya paham satu suara tangis yang sangat berarti, wajah yang sangat dinanti, bahagia tak tertandingi.
Kontrol kehamilan dan memilih provider/klinik/rumah sakit/rumah bersalin yang akan membantu persalinan ini berbarengan. Setidaknya sebelum masuk trismester ke-3 kamu bebas menjelajah para kandidat. Cari yang jaraknya dapat ditempuh dengan mudah, kamu nyaman sama tenaga kesehatannya, ulasannya bagus, budget sesuai. BTW ada dua tipe dokter/bidan yakni 1) menjelaskan secara detail; 2) menjeaskan kalau ditanya. Nah untuk tipe ke-2 kalau kamu tapi tetap merasa aman setidaknya saat pemeriksaan USG/biasa tanyakan : 1) berat badan bayi; 2) posisi bayi; 3) jumlah ketuban; 4) hal yang harus dilakukan serta pantangan
Manusia bisa berencana, Tuhan yang menentukannya. Saya bukan calon ibu telaten yang melakukan semua seperti kebanyakan yang pada akhirnya merasa nikmat melahirkan dan mau nambah anak (hehe hal pertama yang saya tanya ke Dokter setelah lahiran adalah kapan bisa KB), yoga bletang bletong (ikut kelas online sekali, offline skali dan sisa youtube), hypnobirthing apa itu haha saya cuman ngobrol ala kadar dengan janin Deana, pijat perinium haha pasangan jauh dan gak berani kalau sendiri agak sulit. Hal terintens yang saya lakukan dan itu sangat diburu karena gak sabar ketemu Deana mendekati HPL adalah rutin jalan pagi (selain jalan ke kantor), sering-sering goyang di gymball, dan ngepel jongkok karena pembukaan yang tidak bergerak dari pembukaan kedua.
Oh ya berkenaan dengan pembukaan, ini ditekankan banget di tiap info yang saya peroleh ketika search atau sempat ikut kelas menyiapkan kelahiran. Gak usah buru-buru ke klinik/rumah bersalin/rumah sakit/provider yang kamu pilh. Pastikan dulu kamu sudah merasakan kontraksi yang intens 5:1:1 atau kamu punya tanda-tanda lain semisal adanya air ketuban baik deras/rembesan, atau misal ada pendarahan, selanjutnya bisa baca disini. Masalahnya saya keburu panik ketika muncul lendir darah/mucus plug padahal belum kontraksi dan ternyata benar aja saya disuruh pulang dulu saat di klinik dan akhirnya membuat suami saya agak menghabiskan masa cuti walau dia bilang "gpp jadi bisa nemenin dan lebih persiapan"
Cuti, ada beberapa kantor/tempat kerja yang strict dimana biasanya cuti melahirkan (90 hari kalender) dipecah menjadi 1-1.5 Bulan sebelum melahirkan dan sisanya pasca lahiran, tapi ada juga tempat kerja yang memperbolehkan cutinya dihajar pasca melahirkan. Kalau kamu merasa kamu perlu mempersiapkan mental serta keperluan tidak ada salahnya mengambil cuti diawal, apalagi yang misalnya mau melahirkan di kampung. Cuman, kalau misalnya kamu termasuk kayak saya pengen menghabiskan waktu lebih banyak bersama bayi maka hajar di pasca melahirkan dan untuk sebelumnya bisa pakai cuti tahunan. Dan saya pribadi merasa bersyukur mengambil di setelah karena untuk bisa menyusui Deana saja butuh waktu pembelajaran 1 (satu) bulan lebih.
Sedangkan untuk Barang persiapan/Hospital Bag udah saya cicil di minggu ke-34 seinget saya atau mulai di umur 7-8 bulan, walau tidak terbukti relevan tapi ortu selalu mengingatkan Pamali mempersiapkan awal-awal jadi saya manut aja. Kalau kamu punya saudara yang baru punya bayi atau barang-barangnya masih ada, saran saya jangan gengsi untuk menerima produk lungsuran, ada tiga alasan 1) penghematan; 2) badan bayi itu cepat besar, jadi mending kalau mau beli yang lucu-lucu masuk usia 6 bulan ke atas; 3) anak juga gak bakal inget dia bajunya baru atau tidak, dan pastinya tidak mengurangi kasih sayang satu dengan yang lain insya allah. Untuk Hospital Bag atau tas yang akan dibawa dirumah sakit bisa diestimasikan untuk 3 Hari 2 Malam jadi siapkan 3 keperluan untu mama (baju kancing depan, bra menyusui, kain batik, pampers celana/pembalut nifas, alat pumping untuk jaga-jaga kalau gak bisa dbf, korset/gurita langsung pakai selesai proses kalau tidak ada halangan, makeup/skincare/bodycare, handuk), adik bayi (baju santai, baju tidur, bedong, selimut, pampers, sarung tangan-kaki-topi walau masih debatable pemakiannya, peralatan mandi bayi, handuk), dan papanya (baju, cemilan, charger hhe yang mamanya bisa nebeng, sarung shalat kalau muslim atau bisa jadi selimut pas nungguin, dompet) serta berkas-berkas (buku kontrol, ktp, kk, kartu bpjs, buku nikah). Jangan lupa nanti pas di provider pesen deh pakai gofood/grabfood makanan untuk para dokter/bidan/suster yang ada itung-itung terimakasih
Sedikit cerita kalau kamu menggunakan BPJS, jangan kaget kalau tidak bertemu dokter kandungan, umumnya kalau kehamilan tidak bermasalah maka lebih banyak ngobrol sama bidan. Mungkin akan ketemu dokter kandungan pada saat USG yang berjatah (kalau kamu pakai biaya mandiri bebas tapi kalau BPJS seinget saya itu per trisemster 1x pemeriksaan USG). Dan umumnya mungkin gak hanya yang lahiran di puskesmas tapi semua provider kalau kondisi sudah OK bisa langsung pulang pasca observasi, tapi kalau klinik bersalinku harus 3 hari 2 malam karena ada pembekalan perawatan newborn, memastikan asi keluar, dan pemulihan melalui pijat.
Mata minus, sekian dari hal yang saya dan orang sekitar perhatikan dan khawatirkan terkait hal ini. Untuk jaga-jaga di awal aku udah cek secara mandiri . Saranku jika mau on budget atau berhemat mending pakai bpjs atau ke rumah sakit pemerintah untuk cek mata minus persiapan lahiran karena seingetku habis 600rbuan, ketika adik sepupu yang ambil spesialis mata cuman bisa senyum dengarnya. Lalu testnya di bulan ke8 aja karena itu udah kondisi yang lebih akurat untuk memastikan kesiapan mata. Nama testnya seingetku adalah funduscopy, jadi mata kita dikasih obat tetes terus selain test komputer kayak mau bikin kacamata juga ada dilihat dokter pakai kayak kaca pembesar sama senter. Kenapa perlu test mata untuk yang minus tinggi dan ingin lahiran normal, karena resikonya bisa jadi kebutaan dari proses mengejan. Dari tiga provider yang kukunjungi 1 menolak dan menyarankan saya sesar. Jadi kalau mau ngeyel kayak saya ada beberapa hal yang harus diperhatikan : 1) kondisi mata pastinya; 2) kesiapan serta pengalaman provider; 3) jangan nutup mata dan ikutin arahan pas lahiran yati matanya lihat keperut. Cek pengalaman dari @ajinurafifah yang juga saya jadikan acuan.
Insya Allah ada banyak informasi di Internet terkait persiapan lahiran. Tapi saya rekomendasi banget buat follow Bidan Yessy di instagram (setidaknya informasi bermanfaat sambik scroll hp bisa didapat).
Dari semua yang di bagikan dalam tulisan ini.. intinya adalah selalu curhat dan minta sama Allah SWT, Tuhan yang segala Maha, rahmat-karunia-bantuannya yang membawa saya dan Deana hingga hari ini. Ikhtiar dan Tawakal 😇😊💪











