Adalah seorang gadis cantik bertubuh ramping, bibirnya kecil, matanya indah penuh binar, rambutnya di sanggul namun tidak berlebihan, ia mengenakan baju kebaya yang merupakan satu-satunya baju kenangan terbaik dari Almarhumah ibunya tak lupa juga kain samping bercorak batik yang diikatkan menjadi rok terindah si kembang desa walau masih basah karena lumuran tanah, gadis itu tetap bangga karena kain ini adalah hadiah kebanggaan dari kekasih hatinya, Purna. Sorot matanya menelusuri setiap sudut balai desa yang mulai penuh juga sesak oleh para hadirin yang mulai berdatangan di acara syukuran atas terpilihnya kepala desa yang merupakan saudara Sang kekasihnya, Purna. Lalu nanti syukuran ini akan dilanjut dengan hiburan pertunjukan wayang golek.
Gadis itu tidak sabar ingin segera bertemu dengan kekasih hatinya. Ya, mereka sudah janjian akan bertemu di balai desa ini. Mata indah sang gadis terus melirik ke depan, ke kanan dan kekiri mencari sosok yang dinantikannya, hatinya sempat gusar, Jangan-jangan Purna tidak akan jadi datang menemuinya.
"Ah, kenapa aku tidak berdiam diri saja di rumah, mengapa aku mengiyakan ajakan Purna dan Bibi Kinasih,kalo aku nggak ikut kan jadi tidak usah repot hujan-hujanan, mungkin aku tidak akan jatuh di jalan yang tanahnya licin pula" Pikirnya
"Ganggasari, kaukah itu...." Selidik lelaki Yang datang dari arah belakang Gangga dengan intonasi yang sedikit kurang yakin
"Deg"Gangga pun menoleh "Kau kah itu, Purna? " Jawab Gangga di tengah temaram nya Petromak membuat matanya melihat remang-remang tidak jelas. Betul saja, itu adalah sosok yang dinantikan Gangga, jantung Gangga berdetak kencang, tak henti-henti nya senyuman tersungging dari bibirnya, wajahnya berubah bahagia, ia senang ternyata kekasih hatinya datang dan menepati janji. Begitu pun dengan Purna, rasa hatinya meletup-letup senang bukan main, ternyata walau tadi sempat hujan dan lumayan cukup besar, Gangga tetap datang dan menepati janjinya.
Purna menyodorkan uang logam 5 rupiah yang dibungkus dengan kain yang dikerut.
"Ini buat kamu Gangga, buat bahan pakaian kamu, besok pergilah beli kain ke pasar" Purna tahu ayah Gangga jarang sekali memberikan perhatian padanya, jarang juga ia dikasih uang oleh ayahnya itu, setelah kepergian ibu Gangga.
Gangga masih Polos, maklum umurnya baru 13 tahun, tapi di sisi lain pemikiran nya sudah dewasa. Ia sudah pintar memasak, menumbuk padi dan berbakti pada bibi Kinasih, Gangga sadar ia hanya numpang di rumah bibinya, jadi ia harus rajin.
"Tidak Purna, Terima Kasih"
Gangga menolak, namun Purna memaksa jika Gangga tidak menerima nya berarti ia tidak menghargai rezeki yang datang dari Allah dan perantara nya melalui Purna.
"Baiklah, Terima kasih Purna" Gangga menerima sambil tertunduk malu
"Aku temani kamu kedepan yah Gangga untuk Nonton pertunjukan wayang, habis itu aku tidak bisa lama-lama membersamai mu, aku harus membantu membagikan hidangan kepada yang hadir, kau tidak keberatan kan?"
Gangga ingin menolak tak mau ditinggal Purna, tapi apalah daya, ia pun mengangguk dengan pelan "iya aku akan baik-baik saja Purna"
"Kalau kau lelah saat nonton pertunjukan wayang nanti, pergilah ke dalam rumah yang kami khususkan untuk tamu yang kelelahan, tadi aku lihat bibi Kinasih ada di sana lagi ngelonin Arya, apa bapakmu ikut kesini?
"Ikut, tapi aku belum bertemu dengannya" Jawab Gangga
Merekapun pergi ke arah depan melihat pertunjukan wayang, kali ini yang diceritakan tentang Prabu Siliwangi yang jatuh cinta pada Nyai Subang Larang karena tak sengaja mendengar suara Subang Larang Saat mengaji begitu indah dan merdu saat mesantren ke Syaikh Quro, lalu Prabu Siliwangi(bisa disebut juga pangeran Pamanah Rasa) jatuh cinta kepada nyi Subang Larang.
Pamanah Rasa kemudian meminang Nyai Subang Larang. Ia ingin menjadikannya istri yang menemani sehidup semati. Nyai pun tak menolak pinangan tersebut. Mereka akhirnya menikah.
Gangga dan Purwa tenggelam dalam cerita itu, seolah mereka sedang menjadi pemeran utama, dalam benak mereka berdua tersimpan rasa harap juga masa depan yang cerah yang akan mereka jalani.
Angan mereka membumbung tinggi, rasa bahagia memenuhi rongga dada sepasang kekasih itu. Namun Purna tersentak karena ada yang menepuk pundak nya dari belakang, lalu berbisik kepada Purna
"Gangga ini sudah waktunya aku membagikan hidangan kepada para tetamu,
Gangga pun mengangguk dan ia lebih memilih masuk rumah yang telah disediakan untuk hadirin berteduh bersama bibinya, Kinasih. Perutnya terasa keroncongan, saat ia mencium bau aroma ayam goreng dan sangrai serundeng yang sedang dipasak orang dapur. Karena acaranya masih lama, bibi Kinasih menyuruh Gangga untuk tidur dulu bersama keponakan nya, Arya. Diruangan itu sudah banyak anak-anak yang tidur, gadis seumuran Gangga pun sama banyaknya.
Mana bisa Gangga memejamkan matanya, sementara cacing-cacing terasa menusuk-nusuk perut tanda lapar. Gangga harap hidangan itu sampai juga padanya.
"Kalian sudah kebagian hidangan? " Terdengar suara bapak-bapak yang menawarkan makanan.
"Sudah" Jawab bibi kinasih
"Itu anak yang di sana kayaknya tidak tidur, sedari tadi keliatan membalik-balikan badan"
"Itu keponakan saya, Gangga. Dia sudah makan di rumah". Ujarnya
Gangga merasa tidak puas dengan jawaban bibi Kinasih, "Huffttt...." Gangga hanya menghela nafas dan ingin rasanya acara ini segera berakhir supaya bisa pulang memakan nasi juga pepes ikan asin yang belum sempat disantapnya karena harus memandikan anak bibi Kinasih.