Sudah dipendam sekian tahun, menjaga rasa, menjaga mata, menjaga lidah. Hingga akhirnya esok Bagas akan melebarkan sayap cintanya kepada ayah Salsa. Sudah tiga hari terakhir Bagas tak mau makan, lidahnya hambar, badannya gemetar, jantungnya berdegup tak karuan. Akankah Salsa menerima niat baikku ini? Maukah iya beribadah bersamaku? Bersediakah dirinya aku halalkan? Bahagiakan ia jika tinggal seatap denganku? Sudikah ia menjadi ibu dari anak-anakku? Bagas terus berkelit dgn pertanyaannya, seperti biasa ia terus bertasbih, merengek pada Ilahi. "Assalamualaikum, Pak kedatangan saya dan keluarga kemari ingin mempererat ukhuwah sekaligus.."
"Ayah, biar Bagas saja yg langsung berbicara pada Ayah Salsa. Pak, kedatangan saya dan keluarga hari ini adalah saya ingin mengubah ukhuwah menjadi silaturahim. Mengencangkan tali persaudaraan kita" Bagas gemetar. Sesekali pundaknya bergoyang.
"Maksud nak Bagas?"
"Saya ingin mengajak anak bapak, Salsa, untuk beribadah dengan saya, Pak. Saya ingin menjadi imamnya"
Tubuh Bagas demam seketika, suhu tubuhnya tak menentu. Bibirnya tak bisa diam, ia terus beristighfar. Dinding serasa ikut bergetar, padahal tak ada gempa.
"Saya senang dengan kehadiran nak bagas beserta keluarga, apalagi dengan niatan yg mulia. Namun, 2 hari yg lalu Allah telah mengirimkan pemuda lain untuk Salsa. Dan inshAllah kami sepakat untuk melanjutkan ke proses khitbah"
"Innalilahi wainnailahi rajiun, alhamdulillah kalau begitu pak" Hatinya terasa tersandung, tulang kering Bagas terpentok kaki meja. Makinlah ia kesakitan. "Ya Allah Yang Maha Membolak-balikan hati. Kau mampu memalingkan hati manusia di seluruh dunia ini ya Rabb. Sungguh akan sangat mudah bagiMu untuk memalingkan satu hati saja, hambaMu yg bernama Salsa, palingkanlah hatinya kepada saya. Izinkan saya bersanding dengannya. Sudah sekian lama saya menjaga pandangan dan lisan saya karena hamba percaya kelak akan Engkau izinkan saya memandangnya setiap hari" Bukannya berduka dan mengunci diri, Bagas malah mengencangkan sabuk ibadahnya. Sajadahnya jarang dilipat, selalu terbentang dan tertindih. Rengekannya semakin menjadi. Teman-teman, kalau si doi ternyata sedang taaruf dengan orang lain, tikung saja dengan do'a dalam sujud kita. Kalau udah ikhtiar begitu, ternyata masih belum ketikung, liat si cowo/cewenya yg sedang dekat dgnnya. Bisa jadi, dia gak ketikung, karena sujud-sujudnya lebih khusyuk dari sujud kita. karena do’a-do’anya jauh lebih kencang daripada do’a kita. karena akhlaknya, jauh lebih baik daripada akhlak kita. Jangan lupa, paket do’a dalam sujud, ditutup dengan istikharah yang ikhlas. "Assalamualaikum nak Bagas, masih berlakukah tawaran ibadahmu kepada anak saya Salsa? Bisakah kita langsung khitbah setelah shalat zuhur nanti, Nak?"
find Allah, then you'll find that person He has written for you.









