Ibu, Ridhomulah Senjata Terbaik
Pada buku yang tergores tentang masa depan,
kudapati tetap sosokmu yang mengindahkan pada lembar manapun.
Lembaran pertama tentang Harapan.
Sekian banyak yang tak pasti,
tapi kau selalu mengingatkan tujuan,
perihal caramu yang paling jitu memenangkan takdir langit.
Engkau yakini bahwa sebaiknya mengharap hanya pada Sang Pemberi,
karna kau harapan nyata yang bersamanya aku hidup, kusebut engkau ibu.
Lembaran kedua tentang Cinta.
Ribuan kilometer tak pernah menghalangimu,
bahkan sehari pun tak terlewat melangitkan do’a pada Sang Maha Cinta.
Sujudmu ringan dengan sorot mata nun jauh dari binar-binar kepalsuan.
Cintamu utuh tak bercelah, kupanggil engkau Ibu.
Lembaran ketiga tentang Tangguh.
Angin selalu ribut tatkala kau tetap tersenyum ditengah badai,
ketika gemuruh bertubi-tubi, tapi selalu Sang Pencipta sebagai andalanmu
Engkau tangguh meski menyuarakan hal terpahit sekalipun,
melebihi gelar Sarjana atau Doktor, kugelari engkau Ibu.
Lembaran seterusnya tak henti kulayangkan terimakasih,
pada sosok yang dengannya Syurga terasa dekat.
Membungkam sesak yang kau jalani, asal anakmu tetap tenang.
Memberi isyarat bahwa kau baik-baik saja, asal anakmu tetap semangat.
Ibu, kau adalah terjemahan masa lalu, kini dan masa depanku.
Tentang apa yang kuperoleh adalah buah dari Do’amu pada Allah.
Maka, Ridhomulah senjata terbaik yang kupunya.
- Ranting Batas
















