Hari Kesembilan dari Tiga Puluh Sembilan Hari Berikutnya
Aku masih memikirkan kata-kata temanku beberapa hari belakangan ini. Kadang kita memang tidak bisa dan tidak boleh mencampuri urusan orang lain. Termasuk kepada orang yang paling kita sayang sekali pun. Setiap orang punya hak untuk menentukan pilihannya sendiri. Apakah ia mau menerima, atau menolak tawaran orang lain. Bisa saja sesuatu hal menyakitkan bagi kita, karena kita tidak suka dengan hal tersebut, namun bisa jadi justru itu yang terbaik yang bisa kita dapatkan.
Terkadang kita terlalu sering menghitung apa yang belum kita dapatkan, sehingga kita lupa berapa banyak yang telah kita dapatkan. Aku yakin jumlah yang kita dapatkan jauh lebih banyak dari yang belum didapat. Hingga terkadang, kita berangan terlalu tinggi jika kelak mendapat sesuatu itu. Pernah kah terpikir olehmu, dan aku sendiri, untuk tidak menunggu sesuatu yang belum tentu kita dapatkan? Dan berjalan di jalan yang sudah tersedia, mengerjakan apa yang kita suka. Terkadang hasil dari usaha yang kita peroleh itu seperti embun pagi, yang jika kamu temui ia tiap pagi, jadi tidak terasa istimewa karena kamu sudah sering merasakannya. Namun jika ia tidak hadir, kamu akan merasakan kehilangan. Dan kamu mungkin akan mulai menghargai kebahagiaan ketika kamu mulai kehilangan sesuatu yang berharga dari dirimu.
Aku tidak menutup mata terhadap orang yang semenjak kecil telah kehilangan masa-masa bahagianya. Namun ketika mereka mengeluh, dan berteriak seolah-olah mereka orang yang paling bahagia di dunia, aku tidak sependapat dengan sikapnya. Menurutku sebuah pelajaran dan ujian bukan sesuatu hal yang pantas untuk disesali. Kita hidup di dunia memang dibekali bakat untuk belajar, dan jika kita tidak mempergunakannya, maka apa artinya kita hidup? Menghilangkan kebahagiaan orang lain juga bukan perbuatan yang terpuji, walaupun ada hak kita yang dilanggar di sana. Menurutku, hak itu merupakan suatu hal yang kita dapatkan, dari hasil pemberian, dan pengakuan tentu saja. Dan jika sesuatu itu tidak pernah diberikan kepada kita, apakah kita dapat menuntut hak kita? Walaupun orang lain memilikinya, dan kita tidak?
Kembali ke poin di awal pembicaraan tadi, bahwa setiap orang berhak memiliki apa yang tidak kita miliki. Itu artinya, hak setiap orang pasti berbeda-beda, tergantung kepemilikannya. Mungkin pernyataanku barusan yang mendasari munculnya hak orang kulit putih dan kulit hitam jauh sebelum abad kedua puluh satu. Dan hak itu sudah direvisi sekarang, tentu saja. Kita tidak dapat menyalahkan seseorang karena ia telah melanggar hak orang lain, bisa jadi memang sebelumnya hak itu tidak pernah ada. Aku ambil contoh orang Jawa dan orang Belanda di jaman kolonial dulu. Orang Jawa pedesaan adalah orang yang sangat sederhana menurutku. Selama mereka hidup, mereka hanya berpikir tentang bercocok tanam, dan mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mereka tidak pernah berpikir untuk membangun rumah yang mewah, perabotan yang bagus, atau memiliki kendaraan yang bisa mengantar mereka berkeliling. Berbeda dengan orang Belanda yang memang menjunjung harkat dan martabatnya tinggi-tinggi. Mereka selalu mengumpulkan segala sesuatu yang baik-baik saja. Tapi, tidak semua orang Jawa seperti masyarakat pedesaan itu. Orang Jawa yang punya kedudukan tinggi, gaya hidupnya nyaris seperti orang Belanda, dan jauh lebih buruk menurutku, karena mereka menjadikan kedudukannya yang tinggi itu untuk merendahkan masyarakat yang lain. Jika ada sebuah pertemuan, yang dihadiri oleh orang Belanda, orang Jawa yang berkedudukan tinggi, dan orang Jawa yang berkedudukan lebih rendah, maka orang Belanda dan orang Jawa berkedudukan tinggi akan duduk di kursi, sementara orang Jawa yang berkedudukan lebih rendah duduk di lantai, bahkan mungkin, jika ada, orang Jawa yang berkedudukan paling rendah dan paling miskin akan duduk di luar pendopo di atas tanah, karena ia tidak ingin mengotori lantainya. Jika kamu bertanya kepada mereka, "Apakah hak-haknya itu sudah diabaikan?" Aku rasa jawaban mereka, "Tidak." Karena mereka merasa tidak memiliki hak untuk duduk sejajar dengan yang lain.
Ah, omonganku terlalu melantur. Maaf. Terkadang sifat emosiku ini memang susah dikendalikan. Aku terlalu mudah menghakimi sesuatu, padahal belum tentu benar apa yang aku yakini. Ya, terkadang memang aku ingin tidak peduli terhadap sesuatu. Bukan karena aku tidak mau, tapi justru karena aku tidak ingin terlalu terlibat jauh di dalamnya. Seperti kata temanku itu, "Jika ada sebuah pintu yang tertutup, sesungguhnya ada pintu yang lain yang sedang terbuka."
Dan semuanya akan kembali kepadaku, terserah apapun keputusanku nanti.