Festival Relawan 2017
Pada tanggal 11 Desember 2017 lalu, saya mengikuti Festival Relawan 2017 di Gandaria City Mall Jakarta Selatan. Menurut saya, acara ini sangat bermanfaat dan menginspirasi karena menampilkan beberapa kisah para relawan dan mengenalkan ragam aktivitas sosial di Indonesia.
Pada acara tersebut menampilkan beberapa diskusi panel edukatif, booth komunitas, donation box, pameran foto dan music performance.
Pada diskusi panel acara ini menghadirkan beberapa pembicara yang sangat menginspirasi bagi saya. Beberapa dari mereka adalah anggota relawan yang notabenenya mempunyai pekerjaan namun walaupun mereka seorang pekerja mereka dapat meluangkan waktu mengikuti aktivitas sosial karena aktivitas sosial adalah sebuah penyemangat tersendiri bagi mereka.
Dalam salah satu diskusi panel ternyata menghadirkan pembicara yaitu seorang kakak kelas saya pada saat kuliah dan sekarang beliau merupakan pegawai di kantor pusat juga. Menurut saya beliau merupakan salah satu panutan saya yang sangat menginspirasi, Kak Fitri Mayangsari seorang aktivis muda dari Hollaback Jakarta, komunitas yang menentang kekerasan seksual. Tidak hanya itu, kak Fitri juga mempunyai beberapa aktivitas sosial di tempat lain. Dalam acara tersebut, beliau mengatakan dalam sehari kita sama-sama mempunyai 24 jam, yang membedakan adalah aktivitas dan kegiatan yang telah dilakukan, hanya bermanfaat bagi diri kita saja atau dapat bermanfaat bagi orang lain. Sebagai pegawai, menjadi relawan adalah salah satu bentuk work life balance, bukan membuat kita bekerja tetapi merupakan suatu hiburan seperti bertemu dengan orang-orang baru sehingga dapat membuka pikiran kita, membuat wawasan semakin luas, dan pertemanan semakin banyak.
Ada juga program yang menarik perhatian saya yaitu Sabang Merauke, sebuah program pertukaran pelajar antar daerah di Indonesia yang bertujuan untuk membangun nilai toleransi antara perbedaaan yang ada dalam masyarakat. Sabang Merauke sendiri memiliki akronim Seribu Anak Bangsa Merantau Untuk Kembali. Anak-anak dari sebuah daerah akan merantau ke daerah yang sama sekali berbeda dengan kehidupan kesehariannya. Kak Ayu Kartika Dewi seorang co-Founder Sabang Merauke yang menjadi pembicara pada diskusi panel edukatif menceritakan pengalaman anak-anak yang ikut dalam program ini. Salah satunya contohnya adalah anak yang beragama Islam yang takut terhadap non-Islam, takut dikristenkan, takut diberi makanan yang tidak halal, takut terhadap orang cina. Pada saat mengikuti program ini anak tersebut ditempatkan di keluarga asuh yang non-Islam. Pada saat bulan Ramadhan, orang tua asuh anak tersebut membangunkan sahur, menyediakan makan saat buka puasa, dan juga mengantarkan sholat tarawih. Karena kebaikan hati dari orang tua asuhnya inilah yang membuat anak tersebut tersentuh dan merasakan adanya toleransi.
Acara yang tak kalah menarik adalah mengenal lebih dekat bahasa isyarat, dengan menampilkan Kak Surya Sahetapy yaitu salah seorang aktivis yang tuli. Saya baru tahu, istilah kata tuli lebih baik daripada tunarungu bagi mereka. Menurut saya bahasa isyarat adalah bahasa yang unik, memang susah tapi saya menyukainya. Pada saat melakukan bahasa isyarat, wajah mereka sangat ekspresif, mata mereka terasa berbicara. Beliau mengajarkan walaupun mempunyai kekurangan bukan berarti kita harus minder dan merasa rendah diri, kekurangan bukan menjadi suatu penghalang bagi kita untuk meraih mimpi, namun kita harus menjadikan kekurangan tersebut sebagai pemicu untuk lebih bersemangat dalam meraih mimpi.
Generasi muda saat ini dapat dengan mudah berkomunikasi dengan individu lain sehingga lebih mudah menyebarkan hal-hal yang positif. Salah satu contohnya adalah media sosial, jadi mulai dari sekarang ayo kita sebarkan hal-hal positif di media sosial kita.
Pelajaran yang saya dapatkan dari acara ini adalah lakukan kegiatan positif dengan membantu orang di sekitarmu sekecil apapun itu, karena itu sangat berarti bagi mereka. Jangan menjadi individualis dan egois karena kita tidak hidup sendiri, jadikan diri kita bermanfaat bagi orang lain. Jangan ragu untuk berbuat baik.
Setiap manusia bisa menjadi seorang relawan. Menjadi relawan bisa dalam bentuk apapun, apabila kita memiliki waktu berikan waktumu, apabila memiliki tenaga berikan tenagamu, apabila memiliki pikiran berikan ide-ide cemerlangmu, apabila memiliki uang kita dapat melakukan donasi.
Semoga kita bisa menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Karena sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain :)
Jakarta, Desember 2017 - IF

















