Book Club #7 - The Girl Who Saved The King Of Sweden
Book Club #7 - The Girl Who Saved The King Of Sweden, in which we review about Nombeko and how she ended up... saving the king of Sweden!
As much as I hate having to type out the long title of this past month’s book, The Girl Who Saved The King Of Sweden, by Jonas Jonasson has been a great addition to the book club.
This book is, despite what many people might think, one of the most interesting books I’ve read in a while. Normally, I would go on writing about everything that happens in the story, but I’m thinking you can find…
Catatan yang tertinggal tentang Gadis KAA dari Desa Soweto
Agak terlambat memang menulis tentang hiruk-pikuk Konferensi Asia Afrika (KAA) ke-60 yang telah berlalu seminggu kemarin. Tapi saya sangat ingin menulisnya malam ini. Bukan tentang segala kisah di dalamnya. Bukan juga tentang isu-isu yang dibahas di sana yang memang tak se”gahar” pemberitaan tentang persiapan Indonesia sebagai tuan rumah dalam perhelatan tersebut. Ini tentang gadis KAA. Saya menyebutnya demikian karena sosoknya seakan mewakili masalah-masalah yang masih menjangkiti kawasan Asia Afrika, yang sudah berpuluh tahun merdeka (meski di saat yang bersamaan, Palestina masih berjuang membebaskan diri dari praktik kolonialisme).
Semua hal tentang Nombeko
Namanya Nombeko. Lengkapnya Nombeko Mayeki, mungkin (#pause: saya bilang mungkin karena si empunya nama juga nggak begitu yakin dengan nama lengkap miliknya). Saya bertemu dengannya di toko buku, tepat seminggu sebelum KAA ke-60 dan pemberitaan tentang kecentilan tuan rumahnya dalam perhelatan itu, merebak. Pertemuan yang kebetulan, saya rasa. Dan kebetulan yang menjadi takdir, saya pikir.
Well, Nombeko yang saya temui ini di tahun 2015 ini seharusnya sih sudah menjadi seorang Duta Besar untuk Swedia di Afrika Selatan, atau kebalik ya. Pokoknya itulah. Agak samar. Tapi kisah-kisah awalnya tidaklah sesamar penjelasan saya tentang sosok Nombeko.
Kisah awal itu berkutat pada siapa sesosok kulit hitam yang punya rasa ingin tahu yang tinggi. Sebenarnya Nombeko sendiri tidak tahu siapa dirinya secara utuh. Sejak usia lima tahun, ia bekerja untuk mencari uang guna menyambung hidupnya dan ibunya. Saat itu, barangkali Nombeko masih samar tentang tujuannya bekerja dan hidup untuk apa. Toh, ibu yang dimilikinya tak sempat mengajarinya apa-apa karena terlalu sibuk dengan botol-botol tiner yang memabukkan hingga akhir hayatnya. Ayahnya? tak perlu ditanya. Nombeko tak pernah tahu. Bila saja ia pernah mengaji dan diceritakan kisah tentang Maryam ibunya nabi Isa As., Nombeko mungkin saja mengira bahwa ia adalah seorang Isa dalam versi betina.
Nombeko lahir di tengah masyarakat yang amat miskin. Di desanya bernama Soweto, daerah pedalaman nan kumuh di pelosok Afrika Selatan. Saat usianya menginjak 6 tahun, ia mulai bekerja dengan lebih serius sebagai penguras jamban. Tukang bersih-bersih saluran tai. Hanya itu pekerjaan yang ditemuinya. Toh, kebanyakan tetangganya juga melakukan itu. Tapi jangan salah, ia punya jenjang karir yang cukup baik sebagai penguras jamban, karena oleh bosnya yang kemudian pensiun, ia dipromosikan sebagai “manajer” petugas pembersih jamban di daerahnya.
Jabatan ini sungguh sangat bermanfaat. Setidaknya untuk menghadapi Paman Thabo yang centil dan agak pedofil namun punya banyak koleksi buku dan satu-satunya orang yang bisa mengajarkan Nombeko membaca dan menulis. Dengan bakat alaminya, Nombeko tumbuh menjadi anak yang sangat cerdas. Ia menemukan banyak cara untuk bisa menalar dan menggunakan logikanya saat menyelesaikan masalah-masalah di depannya. Ia sangat pandai berhitung untuk seorang gadis yang tidak pernah berkesempatan bersekolah dan buta huruf ini.
Singkat kata, daur hidup Nombeko meliuk-liuk bagaikan tarian balerina yang menukik merendah kadang juga melompat. Setelah kian beranjak besar dan kian melek aksara (berkat ketekunan belajarnya bersama paman Thabo), Nombeko membayangkan untuk bisa melihat dunia luar selain Soweto. Kesempatan itu hadir ketika ia dipecat sebagai manager pembersih jamban oleh atasannya yang tidak begitu cakap.
Tujuan utamanya pasca dipecat awalnya adalah sebuah perpustakaan yang ia ketahui dari salah satu buku paman Thabo yang pernah dibacanya. Ia haus akan bahan bacaan. Namun sebelum sampai tempat yang ditujunya, ia terlindas oleh mobil seorang Profesor yang tidak terlalu pintar dan punya kebiasan mabuk. Untung tak dapat diraih memang, keuar dari perkampungan suram ia malah masuk ke kandang pembuat bom. Ya, bom! Sang profesor pemabuk itu adalah pembuat bom. Takdir inilah yang kelak akan membawa Nombeko lebih jauh dari desanya, Soweto. Ia bahkan harus pergi ke Swedia, bermukim dan menemukan pasangan hidupnya yang “tak pernah ada”, Holger. Sampai ia harus mengamankan raja Swedia dan perdana mentrinya. Sebuah takdir yang membutuhkan probabilitas 1 : 45.766.212.810. Dan ketika nyata, memang inilah kisah yang hanya bisa terjadi di novel.
Jonas Jonasson-lah seseorang yang telah memperkenalkan dengan Nombeko dan kisahnya yang bagai balerina itu. Sebuah kisah yang membuat saya kian mencintai matematika dan membayangkan bagaimana dunia-dunia ketiga (Afrika Selatan termasuk di dalamnya, begitu juga dengan Indonesia) bergegas lepas dari segala “kemuramannya”.
So What?
So what? Toh ternyata sosok Nombeko adalah fiktif. Iya, tapi saya juga jadi mulai berpikir bahwa judul yang ditetapkan sang penulisnya; The Girl Who Saved The King of Sweden, yang terkesan biasa untuk sebuah novel, bisa menjadi sangat luar biasa. Mengapa? Karena gadis yang dimaksud adalah Nombeko, seorang kulit hitam yang juga mantan penguras jamban, buta aksara dan tak pernah mengenyam pendidikan formal, tapi kemudian sangat pandai berhitung, dan mempelajari tritium serta uranium heksaflourida secara otodidak.
Kemudian pikiran saya kusut mengembara tentang mengapa KAA ada? Jawabannya saya kira karena tiga kata kunci ini; adanya kolonialisme, korban, dan kaum lemah. Kolonialisme itu mendera kaum lemah yang tiada power, kemudian kaum lemah ini menjadi korban yang akan membawa kenangan pahit serta dampak dari kebebasan yang direnggut. Salah satu dampak yang saya maksud adalah kebodohan yang pilin memilin berputar-putar menjadi sebuah siklus ketertinggalan.
Latar yang dikisahkan oleh Jonas Jonasson tentang desa Soweto, tempat asal Nombeko, membuat saya memikirkan Indonesia dulu ketika baru-baru merdeka dan Indonesia kini. Bayang-bayang desa yang kumuh, masyarakat yang putus harapan, kebodohan yang terserak dimana-mana, ide-ide yang bongkar pasang menemukan pola yang pas. Indonesia mungkin tidak semengenaskan itu.
Namun, Indonesia yang mana yang saya kategorikan tidak semengenaskan itu? Barangkali Indonesia yang saya pijak dari lahir hingga kini memang berada di kategori yang tidak semengenaskan Soweto. Toh, Soweto yang digambarkan oleh Jonas dalam bukunya itu memang Soweto tahun 1960-an, yang barangkali saat ini akan berbeda dengan yang Soweto yang sekarang.
Tapi ketika saya melintasi Senen, atau tak sengaja berada di kawasan-kawasan padat penduduk, mendapati anak-anak muda yang bergeletakan menyesap kaleng-kaleng lem dengan wangi yang menyengat, anak-anak berseragam sekolah berteriak-teriak kasar memaki-mengumpat-melayangkan kata-kata porno dan jorok. Kadang, ketika lewat dan bersinggungan dengan daerah-daerah macam ini, saya jadi kembali berpikir tentang Nombeko. Adakah di daerah itu, terdapat “Nombeko” lainnya yang memilih berjuang memerdekakan “takdirnya” di tengah kekacauan yang melingkupi dan menjadi latar takdir hidupnya? Adakah Tuhan akan menempatkan “Nombeko” lainnya yang dengan bakat alamiahnya menemukan rumus paling cepat untuk menghitung jenis perkalian 95 dikali 92.
Dan, saya jadi selalu berharap begitu. Dimanapun itu, semoga Tuhan lebih banyak menciptakan gadis-gadis setipe dan semodel Nombeko Mayeki, atau lebih dari Nombeko Mayeki. Supaya ketertinggalan yang dihadapi negeri-negeri korban kolonialisme atau negeri-negeri tertinggal lainnya akan cepat berganti dengan ketergegasan.