Aku Bukan Tuan dari Perasaanmu
Hai Nona, apa kabar hatimu saat ini? Masihkah ingat denganku yang dulu kau sebut sebagai pengganggu. Ataukah kau sudah lupa, tentang siapa aku yang terakhir bertemu merapal harap agar kau baik-baik saja. Aku merindukan segala yang ada padamu sekarang. Setelah sekian waktu aku menyingkir dari sibukku mengitari duniamu. Bukan karena aku lelah atau menyerah, melainkan aku tak ingin kau terus-terusan jengah.
Nona, sudah seberapa persenkah rasa di hatimu sirna untuknya, atau malah masih sama selayaknya dulu. Dan jika jawabanya iya, kuharap hanya mimpi yang 'kan hilang ketika aku bangun setelahnya.
Aku benar-benar ingin bertemu denganmu, melihat kembali senyummu dari jarak yang begitu dekat, menikmati raut cemberutmu yang begitu lucu, menyelami samudera dalam matamu yang pelan-pelan menghanyutkanku. Aku rindu semua tentangmu, sungguh.
Selama ini, aku sibuk berpikir. Begitu tak pantaskah aku untuk menjadi pilihan hatimu, atau dinding yang kau bangun itu terlalu keras untuk kuruntuhkan. Atau, cintamu padanya memang terlalu besar hingga membutakan cahaya yang ku bawa untukmu.
Aku mencintaimu Nona, masih dan akan terus begitu. Meski gelapnya malam menelan bulat-bulat wajahmu dalam kosongnya jiwaku. Meski senyummu yang bak embun itu tak pernah kau tujukan untukku. Nona, bisakah kita bertemu dalam satu waktu? Membicarakan hal yang tak penting seperti dulu.
Atau, duduk menikmati senja sembari kau bercerita tentangnya, yang begitu kau cintai, yang perlahan perkataanmu mengiris perlahan dinding hatiku.
Bisakah Nona, aku kembali menikmati detik bersama bidadari yang tersenyum lepas di sampingku. Mengenyahkan fakta kau memang tak pernah menjadikanku Tuan dari perasaanmu.
Tetap menaruh kau sebagai Puan dari seluruh rasa cintaku.
-Bisakah?











