Bagaimana bisa jadi usang? Sementara kita adalah dua yang asing
katapurnamasworld
seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from United States

seen from Singapore

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Azerbaijan
seen from Chile

seen from United Kingdom
seen from China

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States

seen from Singapore

seen from United Kingdom
seen from Japan
Bagaimana bisa jadi usang? Sementara kita adalah dua yang asing
katapurnamasworld
Bentuk kecewa setiap orang berbeda. Ada yang marah. Ada yang memilih berlari dan akhirnya membenci. Ada pula yang memilih bungkam sebab keadaan tak lagi seperti awal. Namun, ada pula yang memilih merubah sikap demi meredam kecewa itu sendiri.
Soal kemauan, tak seorangpun berhak kecuali diri itu sendiri. Percayalah, tak ingin ada yang dikecewakan dan mengecewakan. Semakin waktu berjalan, tanpa sadar banyak hal yang membawa kita pada perubahan. Entah itu karena orang-orang baru, suasana baru, atau mungkin cerita baru.
Semakin banyak kita bertemu hal baru, tanpa sadar perjalanan kita rentan akan kesalahan. Mungkin kita sediki melupa, bahwa pernah ucapan kita menyakiti mereka, atau sikap kita ada yang melukai hati mereka. Terkadang, dalam satu kasus kita tak ingin mengecewakan orang lain, tapi di sisi lain keputusan yang kita ambil adalah yang paling tepat.
Sejatinya, kita hanya takut pada perubahan setelahnya. Kita bersedih, atas apa yang kita lakukan hingga membuatnya kecewa. Dan muncul sekelumit resah akan yang terjadi setelahnya.
Tapi kembali lagi, urusan kemauan hati siapa yang bisa mengatur, kecuali diri kita sendiri
Aku terlupa; oleh senja yang lebih berwarna. Aku tersingkirkan; oleh lagu yang lebih merdu. Sebab katanya, aku hanya abu-abu.
Bisakah kau tengok ke belakang, abu-abuku, yang dulu mengembalikan warna-warni di hidupmu. Bisakah kau ingat itu?
Aku Bukan Tuan dari Perasaanmu
Hai Nona, apa kabar hatimu saat ini? Masihkah ingat denganku yang dulu kau sebut sebagai pengganggu. Ataukah kau sudah lupa, tentang siapa aku yang terakhir bertemu merapal harap agar kau baik-baik saja. Aku merindukan segala yang ada padamu sekarang. Setelah sekian waktu aku menyingkir dari sibukku mengitari duniamu. Bukan karena aku lelah atau menyerah, melainkan aku tak ingin kau terus-terusan jengah.
Nona, sudah seberapa persenkah rasa di hatimu sirna untuknya, atau malah masih sama selayaknya dulu. Dan jika jawabanya iya, kuharap hanya mimpi yang 'kan hilang ketika aku bangun setelahnya.
Aku benar-benar ingin bertemu denganmu, melihat kembali senyummu dari jarak yang begitu dekat, menikmati raut cemberutmu yang begitu lucu, menyelami samudera dalam matamu yang pelan-pelan menghanyutkanku. Aku rindu semua tentangmu, sungguh.
Selama ini, aku sibuk berpikir. Begitu tak pantaskah aku untuk menjadi pilihan hatimu, atau dinding yang kau bangun itu terlalu keras untuk kuruntuhkan. Atau, cintamu padanya memang terlalu besar hingga membutakan cahaya yang ku bawa untukmu.
Aku mencintaimu Nona, masih dan akan terus begitu. Meski gelapnya malam menelan bulat-bulat wajahmu dalam kosongnya jiwaku. Meski senyummu yang bak embun itu tak pernah kau tujukan untukku. Nona, bisakah kita bertemu dalam satu waktu? Membicarakan hal yang tak penting seperti dulu.
Atau, duduk menikmati senja sembari kau bercerita tentangnya, yang begitu kau cintai, yang perlahan perkataanmu mengiris perlahan dinding hatiku.
Bisakah Nona, aku kembali menikmati detik bersama bidadari yang tersenyum lepas di sampingku. Mengenyahkan fakta kau memang tak pernah menjadikanku Tuan dari perasaanmu.
Tetap menaruh kau sebagai Puan dari seluruh rasa cintaku.
-Bisakah?
"Aku sedang berada pada titik di mana bertahan sudah tak pantas, melepas aku tak mampu"
purnamarindu
"Aku bahkan masih mengingatnya dengan baik; hal-hal apa saja yang kau lakukan hingga menimbulkan semburat merah di pipi"
Hal sesepele itu saja kuingat, apalagi hal besar yang menyangkut kita.
Hujan Subuh Tadi
Langit masih gelap,
Resah di dada hadir menyergap,
Berisik air mata langit menyadarkan
tentang sebuah pertemuan,
Aku mencoba kembali terpejam,
Meski sosokmu di mataku tak bisa teredam
Hujan subuh ini,
Hadir lengkap dengan sekotak manis cerita
Semua;
Yang pernah ada kemudian tiada
Yang berawal tawa kemudian duka
Yang mendekap kemudian tak saling tatap
Yang merengkuh kemudian tak acuh
Yang senantiasa setia kemudian lupa
Yang bahagia kemudian terluka.
Hujan subuh tadi,
Aku tenggelam bersama derasnya,
Menyibak cahaya di antara kelamnya mata,
Hujan subuh tadi,
Aku ikut mati,
Di antara ribuan tawamu yang nyaris terpatri
Hujan subuh tadi,
Aku kembali ingin meronta,
Pelukmu ternyata masih yang kudamba
"Kita pernah ada sebelum kemudian saling meniadakan. Kita pernah berbalut euforia bahagia dalam cinta, sebelum bergelut dengan tangis berbungkus luka. Kita pernah. Sebelum akhirnya kau mulai melangkah, sedangkan aku masih enggan berpindah"
-19 Nov 2017