Novel: Mak, aku anak Bundo
“bang. Abang kapan ke padang?” tanya Arga adik Bagus paling bungsu
Bagus mengernyitkan dahi, sudah seperti biasa kalau adik-adiknya mau sesuatu pasti menanyakan Bagus kapan pergi ke suatu tenmpat.
“hmmm.. gak tahu. Sepertinya abang tidak ada ke padang, bulan ini” jawab Bagus.
“Oh..!” kata Arga pendek sambil berbalik menuju gudang.
Bagus mengehla nafas dan memanggil adiknya kembali
“ada apa? Bilang aja sama abang. Kalau abang bisa bantu, abang bantu secepatnya” kata Bagus menatap adiknya. Arga menunduk, ia tak kuasa menyampaikan maksudhnya. “ayo.. katakan.. “
“Arga. Hari minggu besok di suruh Coach Roni, latihan bola lagi, tapi sepatu Arga tidak ada, sepatu yang lama sudah sempit” Kata Arga jujur. Ia tak kuasa menatap abangnya, ia bukannya takut untuk mengatakan ke inginannya, tapi ia tak kuasa menambah beban abangnya. Menghidupi keluarga ini sudah sangat berat, Arga paham itu.
“oh.. emang Arga masih latihan bola?” tanya Bagus, setahunya adiknya sudah tidak latihan bola lagi.
“ini mau latihan bola lagi bang, di suruh coach juga. Arga juga gak enak sama Coach Roni kalau gak latihan lagi”
“Arga.. sebenarnya, yang mau latihan bola itu siapa? Arga apa Coach Roni. Harus jelas, kalau Coach yang mau latihan, susah dia nya, akan terasa berat. Tapi kalau Arga yang mau latihan, akan terasa ringan dan latihan juga maksimal. Arga harus paham akan tanggung jawab dari keputusan yang kita ambil itu. Paham kan kata abang dari dulu”
“paham bang.. Arga tanggung jawab dengan keputusan Arga kali ini”
“ha.. begitu donk. Sudah besarkan? Sudah kelas empat SD, sudah bisa bertanggung jawab, jangan mencla-mencle gak jelas” Bagus terus memberi pemahaman kepada adiknya. “Ya Sudah.. nanti akan abang belikan sepatu, di Pariaman, Hari Sabtu abang kuliah”
“Iya bang.. terimakasih” Jawab Arga makin pelan. Ia tak berani menatap mata abanagnya.
“Ya sudah.. Tanggung Jawab ya, dengan keputusan Arga kali ini”
Sekilas bayangan waktu kelas Satu MtsN dulu melintas di pikiran Bagus. Bagaimana ia memutuskan untuk berhenti latihan bola, banyak kengkawannya tidak menerima keputusannya, Bagus jadi andalan di sayap, Tim akan terasa lincah dan kuat kalau Bagus bermain. Coach roni tidak akan merasa was-was di pinggir lapangan kalau Bagus main, umpan-umpan nya sangat baik dan terukur ke tengah, memanjakan striker untuk mencetak gol, atau terkadang Bagus sendiri yang mencetak gol dari sisi sayap.
“kamu serius mau berhenti latihan?” tanya ikhsan kepada Bagus.
“tapi kita mau bertanding lo Gus. Masak kamu berhenti. Kita pasti kalah” lanjut syafril.
Bagus hanya diam, jujur dalam hatinya, ia sangat ingin bermain bola bersama kengkawannya, di SSB TIKU PUTRA ini, tapi keadaan memaksa, ia harus mengambil keputusan secepatnya, membantu mak untuk mencari uang, menghidupi ia dan adik-adiknya.
“Aku harus membantu Mak, bagaimanapun caranya. Kalau tidak, kami bisa tidak makan. Ka kawan harus paham itu. Sepak Bola menyatukan kita, membuat kita berteriak bersama, sedih bersama. Tapi tanggung jawab Mak, tidak bisa mak lakukan sendiri” Bagus berusaha mencari kata-kata yang pas untuk di sampaikannya. Sore ini terasa makin mendung di sudut lapangan ini. Mereka tahu, sejak Bapaknya Bagus meninggal lima bulan yang lalu, kehidupan keluarga bagus sangat sulit, Mak Bagus sudah berusaha melakukan apa saja agar bisa mendapatkan uang untuk menghidupi Bagus dan adik-adiknya.
Imran hanya diam di sisi mereka.. satu persatu kawannya menyingkir dari lapangan, walaupun ada kengkawan lain yang masuk, tapi tetap saja tim ini semakin jauh di rasakan Imran.
Hari sabtu sore Bagus sudah tidak ikut latihan lagi bersama mereka, sementara besok pagi tim ini akan bertanding di kejuaraan U14 di Lubuk Basung.
Coach Roni memahami ke adaan tim nya, ia harus segera menyembuhkan jiwa anak-anaknya.