Siapa yang tidak mengenal novel ini? novel yang cukup legendaris karya Dewi Lestari ini cukup menyenangkan untuk dikulik lebih jauh. Saya dan beberapa teman berusaha untuk menguliknya lebih mendalam dari outline, alur, karakter, hingga perbedaan pengembangan outlinenya baik dari buku, dan juga filmnya.
Tansen seorang lelaki surfing di Bali yang menerima sebuah surat dari seseorang bernama Tan untuk mengunjungi sebuah bangunan di Jakarta dan menerima sebuah warisan. Sesampainya di sana ia kebingungan karena bangunan yang dimaksud adalah toko roti yang sudah sangat tua bernama Tan De Bakker yang telah berdiri sejak 1943. Dengan ragu ia masuk dan disambut oleh Pak Hadi dan karyawan lama Tan De Bakker yang telah menanti lama keturunan Tan untuk menghidupkan kembali Madre. Karena hanya dengan darah asli keturunan Tan, Tan De Bakker akan hidup kembali.
Tansen pada mulanya kebingungan dengan kenyataan yang terjadi, mendapati dirinya memiliki darah Tionghoa dan India, lalu ia memiliki sebuah keluarga yang tak pernah ia kenal sebelumnya, bernama Madre, dan alangkah terkejutnya ia menyadari bahwa Madre adalah sebuah biang roti. Madre berasal dari bahasa Spanyol yang berarti ibu, alias ibu dari roti-roti yang akan dibuat di Tan De Bakker. Di sini roti dibuat dan dijaga dengan sepenuh hati bagaikan keluarga sendiri.
Tan merasa kesulitan menghadapi kenyataan yang terjadi, ia harus melakoni kegiatan yang sangat berbeda dengan kebiasaan selama di Bali, yakni menjadi pembuat roti. Lantas ia berpikir untuk menjual Tan De Bakker kepada seseorang. Namun, karena bujukan Pak Hadi dan karyawan Tan lainnya akhirnya Tansen mengurungkan niatnya untuk menjual toko roti ini.
Dalam novel ini Dee berhasil membuat karakter yang sangat kuat dan alur yang sangat ciamik. saya sangat menyukai bagaimana Dee dapat membuat relasi antara roti dan manusia. Ia mengingatkan saya bahwa memasak di dapur adalah sebuah momen yang sangat dirindukan, bagaimana manusia satu dengan lainnya dapat terhubung melalui makanan.
Sayangnya Dee membuat akhir cerita yang kurang memuaskan, dengan membuat Tan De Bakker tidak dapat membendung desakan kapitalis dengan melebur bisnisnya dengan Mei, meskipun hal itu adalah keputusan terbaik untuk membuat Tan De Bakker tetap hidup.
Dari novel ini saya mempelajari banyak hal, seperti passion, tradisi, cinta dan kebersamaan. Bagi para pembaca yang ingin membaca karya awal Dee, novel ini sangat saya anjurkan. Dari tema dan latar setting ini pula yang membuat saya memilih novel ini sebagai acuan untuk menulis genre yang sama.
Mia Hall adalah gadis pemain alat music Cello, yang berasal dari keluarga bahagia, memiliki seorang Ayah, Ibu dan adik laki-laki yang sangat dekat dengannya. Namun, kecelakaan tragis yang menimpa keluarga Mia, menyebabkan ayah, ibu dan adik laki-lakinya meninggal dunia.
Premis : Cak rusdi seorang penulis dan jurnalis yang sedang sakit tumor punggung dan hanya bisa berbaring di rumah sakit selama berhari-hari, namun ia tetap menulis karena menulis adalah pekerjaan nya meskipun hanya dengan satu jari sampai ia menutup usia di rumah sakit tersebut.
cak rusdi menceritakan bagaimana mengerikan di dalam ICU bagaimana ribet nya mengurus administrasi rumah sakit bagaimana rasanya sakit yang membuat kita benar benar hanya terbaring saja, bahwa sakit itu tidak enak menyakitkan dan tentu saja mahal begitu di akhir bukunya ia menulis.
cak rusdi hebat dan kuat dia tetap menulis meskipun rasa sakit itu luar biasa rasanya, dia terus mencoba untuk bertahan dan saat saya membaca buku ini 4 tahun lalu, saya mendapat energi untuk bertahan tetap kuliah dan mengerjakan tugas mengerjakan laporan praktikum meskipun saya sambil menangis kesakitan karena rasa sakit punggung saya yang tidak tertahankan. terimakasih cak rusdi sudah menulis ini, sudah membantu saya untuk bertahan alhamdulillah saya sembuh setelah 4 tahun berobat kemana-mana.
Premis : Laut merupakan seorang aktivis mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Winatra dan Wirasena, organisasi yang dianggap berbahaya bagi pemerintah kala itu. Tahun 1998, Laut diculik dan diinterogasi siapa orang yang menggerakkan mereka, sebelum akhirnya ia dihabisi dan dinyatakan hilang hingga saat ini.
Resensi :
Biru Laut Wibisono, seorang aktivis mahasiswa di Yogyakarta yang mencintai dunia sastra dan buku-buku tentang perjuangan. Inilah yang membawanya tergabung dalam Winatra dan Wirasena, organisasi milik sekumpulan mahasiswa yang gemar mendiskusikan isu-isu pemerintah, perjuangan, dan keadilan. Di Winatra pula Laut menemukan teman-teman yang menjadi bagian dari hidupnya, Kinan, Sunu, Alex, Daniel, Julius, Gusti, Naratama, dan Anjani kekasihnya.
Winatra dan Wirasena semakin aktif menyuarakan kritikan pada pemerintah Orde Baru. Aksi perjuangan mereka semakin nyata dengan terlibat dalam beberapa perlawanan masyarakat, salah satunya perlawanan petani Blangguan pada tahun 1993 yang mencoba mengambil hak tanah mereka yang dirampas. Keterlibatan mahasiswa yang tergabung dalam Winatra dan Wirasena ini membuat mereka dianggap organisasi berbahaya bagi pemerintah. Karena kejadian ini, gerak gerik mereka sangat diawasi.
Hal itu tidak menyurutkan nyawa perjuangan Winatra dan Wirasena melawan kebijakan-kebijakan Orde Baru yang mereka rasa tidak memihak pada masyarakat. Tahun 1996, pemerintah menetapkan Laut dan beberapa kawannya tercantum di Daftar Pencarian Orang atau yang lebih kita kenal dengan kata buronan pemerintah, sesaat setelah Laut diangkat sebagai Sekjen Winatra. Sejak itu, Laut harus melakukan tugasnya dengan berpindah dari satu kota ke kota yang lain, satu nama samaran ke nama samaran yang lain. Ia bahkan tak pernah lagi pulang ke rumah keluarganya karna itu hanya akan membahayakan ibu, bapak, dan Asmara, adik satu-satunya.
Tahun 1998, empat pria kekar datang menculik Laut di rumah susun persembunyiannya. Sejak saat itu dunia Laut menjadi gelap. Diinterogasi, ditindas, dan disiksa ia rasakan setiap hari. Siksaan terus mereka dapatkan demi terungkapnya pertanyaan “Siapa yang menggerakkan kalian?” dengan menyebutkan tokoh-tokoh perlawanan yang bahkan Laut hanya tahu nama mereka dari media saja.
Pada tahun yang sama, beberapa anggota Winatra seperti Daniel dan Alex dibebaskan. Namun Laut dan beberapa kawan lainnya hilang dan dihilangkan, sampai sekarang. Laut tak pernah pulang lagi. Perjuangannya untuk memerdekakan belenggu keadilan masyarakat sudah berakhir. Laut, tak pernah kembali lagi.
Matilah engkau mati
Kau akan lahir berkali-kali
Sebuah syair yang membuatku berkecamuk setelah menyelesaikan novel ini. Sedih, hampa, seolah aku bisa merasakan kehilangan yang dirasakan keluarga mahasiswa yang ditinggalkan. Juga rasa kehilangan yang dirasakan Laut atas nyawa hidupnya. Novel ini berisi tentang perjuangan, kesetiaan, kesedihan, dan kehilangan. Tak hanya itu, pengkhianatan juga nyata digambarkan pada novel ini. Bagaimana bisa seorang teman yang selama ini bersama didalam selimut rencana pergerakan dan seharusnya memiliki tujuan sama, ternyata ialah orang pertama yang menggiringmu pada kematian? Aku juga menangkap cinta kasih sebuah keluarga yang menjadi pondasi cerita pada novel ini. Bahwa sejauh-jauhnya seseorang berada, ia akan selalu dekat dengan orangtua dan keluarganya, melalui fisik atau melalui kenangan. Bahwa setelah seseorang tiada, ia akan terus hidup pada ingatan orang-orang yang mencintainya.
Pesan yang ku dapatkan dari Laut Bercerita:
Jika keluarga adalah orang pertama yang memperjuangkan kita, maka teman yang baik adalah keluarga yang dapat kita pilih.
Bagian yang akan ku jadikan referensi pada tulisanku nanti ialah tentang keharmonisan keluarga dan perjuangan melanjutkan hidup setelah kehilangan.
Perahu Kertas adalah novel karya Dewi Lestari yang bernama pena Dee. Novel Perahu Kertas ini sudah lebih dulu dilansir dalam versi digital pada April 2008, dan kini diterbitkan atas kerja sama antara Truedee Books dan Bentang Pustaka.
Perahu Kertas merupakan novel keenam Dee. Setelah sukses menarik perhatian para pembaca dengan buku trilogi Supernova-nya, Dee menerbitkan sebuah novel berjudul Perahu Kertas, yang sempat berhenti selama sebelas tahun karena dilupakan. Akhirnya, novel ini berhasil diselesaikan dalam waktu 55 hari berkat kegigihan dan kenekatan seorang Dee.
Novel ini memiliki keunikan dan daya tarik tersendiri bagi pembacanya, karena pada novel ini menceritakan tentang semangat dalam meraih mimpi-mimpi. Selain itu, novel ini juga penuh akan nilai-nilai positif serta makna kehidupan yang tidak hanya bercerita tentang remaja pada umumnya, tetapi bercerita tentang dinamika kehidupan seperti Kugy yang mempunyai cita-cita menjadi seorang pendongeng dan penulis tetapi karena menjadi seorang pendongeng tidak akan memenuhi kebutuhan akhirnya Kugy memutuskan untuk
mencari pekerjaan lain. Sedangkan Keenan ia terpaksa harus menggantikan ayahnya untuk memimpin perusahaan padahal cita-citanya ingin menjadi seorang pelukis yang handal.
Cerita yang terdapat pada novel Perahu Kertas berawal dari Keenan yang terpaksa pulang ke Indonesia dan berkuliah di Bandung, di Fakultas Ekonomi. Sementara Keenan bercita-cita untuk menjadi seorang pelukis dibandingkan seorang pengusaha atau businessman. Sementara Kugy adalah seorang perempuan unik yang cenderung banyak kejutan di dalam kehidupannya. Kugy juga akan berkuliah di universitas yang sama dengan Keenan. Sama seperti Keenan, Kugy pun mempunyai cita-cita yaitu menjadi juru dongeng.
Kugy dan Keenan dipertemukan lewat pasangan Eko dan Noni. Mereka berempat akhirnya bersahabat karib. Persahabatan empat sekawan itu mulai merenggang sejak adanya Wanda. Kugy lantas menjalani kegiatannya yang baru dan sibuk dengan kegiatannya, yakni menjadi guru relawan di sekolah darurat bernama Sakola Alit. Kugy yang kesepian dan kehilangan sahabat-sahabatnya di Bandung, memutuskan untuk segera lulus kuliah dan langsung bekerja di sebuah biro iklan di Jakarta sebagai copywritter. Sementara Keenan tidak bisa selamanya tinggal di Bali Ia harus segera pulang ke Jakarta karena kondisi ayahnya yang memburuk dan Ia terpaksa menggantikan posisi ayahnya di perusahaan.
Maybe that’s all that we need is to meet in the middle of impossibilities.
Standing at opposite poles, equal partners in a mystery.
Sebuah buku yang masih hangat dikepalaku baru saja selesai membaca beberapa hari yang lalu. Buku yang tipis tapi butuh satu bulan lebih untuk menyelesaikannya.
Premis : Seorang anak laki-laki yang bernama Santiago yang ingin mendapatkan harta karun disebuat tempat yang sangat jauh dari tempat tinggalnya dan dia tidak tahu apa yang akan dihadapi di depannya.
Jalan Cerita : Santiago, seorang pengembala domba yang sudah punya banyak domba, menjual semua dombanya untuk bekla perjalanan jauhnya. Santiago ingin mendapatkan harta karun yang tempatnya jauh dari tempat tinggalnya. Perjalanan yang jauh itu membuatnya bertemu dengan berbagai orang dan profesi. Dia selalu mendaptakan pelajaran hidup yang dia dapatkan di setiap tempat yang di singgahi. Dia belajar memperjuangkan cita cita nya dari penjual kristal, dia belajar untuk mengikuti kata hatinya dari seorang alkemis, dia menemukan cinta nya di sebuah oase di gurun pasir.
Pesan yang berhasil diambil : Selalu ikuti kata hati, karena kata hati akan mengantarkan pada kebaikan. Dia selalu tahu yang akan terjadi kedepan karena dia sangat tahu dirimu sendiri. Kata hati bisa kabur dan tidak tepat dalam membaca masa depanmu ketika kamu sering mengabaikannya. Pengabaian atas dirinya membuatmu terluka. Jadi perlahan dia akan mengabur dan sampai tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya.
"Setiap pencarian dimulai dengan keberuntungan bagi si premula. Dan setiap pencarian diakhiri dengan ujian berat bagi si pemenang"
Sang Alkemis hlm 178
Tara Westover, Anak bungsu dari tujuh bersaudara yang ingin memperjuangan Pendidikan untuk kehidupan yang lebih baik. Namun terlahir dari keluarga yang terisolasi dari masyarakat kebanyakan dan tidak mempercayai dokter dan menentang pendidikan dari pemerintah karena ayahnya beranggapan sekolah negeri hanyalah sebuah taktik pemerintah untuk membuat anak-anak menjauh dari ajaran Tuhan,
-----------------------
Tara Westover tumbuh dalam keluarga yang sangat ortodoks dan anti-modernitas di tengah pegunungan Idaho, di mana ayahnya melarang banyak aspek kemajuan zaman kecuali mesin-mesin yang terkait dengan pertanian. Terperangkap dalam tirani tradisionalisme yang keras, Tara dan saudara-saudaranya terbatas pada lingkup rumah, ladang, dan sekitar tempat tinggal mereka, terisolasi dari dunia luar dan pembaharuan zaman yang sedang berlangsung.
Dalam bayang-bayang aliran ortodoks yang dianut oleh ayahnya, Tara Westover tumbuh tanpa kepercayaan pada pemerintah, dokter, atau pendidikan formal. Karena keyakinan keras ayahnya, Tara dan saudara-saudaranya dilarang untuk mengikuti pendidikan formal di sekolah. Mereka hidup dalam dunia doktrin yang absolut yang ditanamkan oleh ayah mereka sejak lahir hingga remaja, tanpa akses kepada pengetahuan modern atau layanan kesehatan. Kemungkinan bahwa ayahnya menderita skizofrenia yang tidak pernah diobati menambah rumitnya situasi, karena hal tersebut menghalangi mereka dari akses ke perawatan kesehatan yang sesuai.
Penderitaan Tara mencapai puncaknya ketika kakaknya, Shawn, secara berkelanjutan melakukan perundungan padanya selama bertahun-tahun. Shawn, yang keras dan agresif. Namun, Tara berhasil membebaskan dirinya dari belenggu keluarganya.
Dalam perjalanannya menuju pencapaian puncak, Tara masih terus menyimpan rasa marah yang dalam terhadap ayahnya. Untuk mengatasi konflik emosional ini, ia memutuskan untuk mencari konseling. Proses ini membawa Tara pada sebuah pemahaman yang mendalam tentang dirinya sendiri. Selama dua tahun, ia hidup dalam bayang-bayang perasaan marah dan kecewa terhadap ayahnya. Namun, dengan waktu, Tara berhasil melepaskan rasa bersalahnya. Ia menerima keputusan ayahnya dengan cara yang sesuai dengan prinsip dan kepentingan dirinya sendiri. Dengan langkah ini, Tara menemukan bahwa melepaskan beban emosional tersebut adalah satu-satunya cara baginya untuk mencintai ayahnya dengan damai dan tanpa kebencian. Ini adalah bagian dari prosesnya menuju kedewasaan emosional dan kedamaian batin.
-----------------------
Keinginan untuk bertumbuh dan berubah. dengan semua keterbatasan yang dimiliki tidak membuat kita hanya berdiam dan menerima kondisi yang ada. dia dengan gigih terus berusaha bagaimana untuk bisa mendapatkan kebebasan dalam pendidikan dengan belajar otodidak dan mengikuti tes sekolah formal.
Berdamai dengan diri sendiri. Berdamai dengan diri sendiri adalah proses pengenalan, penerimaan, dan pengampunan terhadap diri sendiri. Ini melibatkan menerima kelebihan dan kekurangan serta menerima kesalahan masa lalu. Berdamai dengan diri sendiri membawa kedamaian batin dan kesadaran yang lebih dalam tentang siapa kita sebenarnya.