Menjadi peka seperti laki-laki pada umumnya rasanya tidak akan cukup bahkan tidak akan mampu mencapai level standar kepekaan perempuan. Sekalipun kamu melakukan apapun, sebaik-baik apapun perjuanganmu, barangkali dimatanya kamu tetap saja kurang atau bahkan mungkin tidak peka. Maka kuncinya barangkali kamu harus jauh lebih mengamati, jauh lebih memperhatikan, serta jauh lebih meluaskan rasa sabar - MFS 2021
Bahkan Sayyidah Aisyah pun pernah membanting piring, karena dianggapnya Rasulullah tak peka pada perasaan kecemburuannya, padahal hanya sekedar mendapat hidangan yang beralaskan nampan dari istri yang lain. Bahkan sebaik-baik suami seperti Rasulullah pun masih mendapat ujian kepekaan dari istri-istrinya, lantas, apalagi kita?
Jika menggunakan sudut pandang logika laki-laki mungkin kita akan berkata “ngapain sih?” “Lho itu kan istri sah-nya Rasulullah, ya wajar dong ngirim makanan”. “Lha daripada dipecahin mending kan dimakan, eman dong makanannya”.
Namun alih-alih menggunakan logika laki-laki, Rasulullah hanya tersenyum, seraya berkata singkat pada para sahabat beliau yang hadir, “Maaf, Ibunda sedang cemburu”. Kebesaran hati beliau, kelembutan hati beliau dan bagaimana beliau berusaha peka terhadap istri-istrinya lah yang sudah seyogianya kita teladani.
Kelak ketika berumah tangga, sebagai lelaki kamu akan mendapati ‘makhluk ajaib’ yang bernama perempuan. Terkadang kita sudah membantu pekerjaan rumah dari memasak, mencucikan pakaian, lantas pergi berangkat kerja, lantas tiba-tiba ada pesan chat masuk, “kan ini pertama kali aku ditinggal di rumah buat kerja, kok nggak di tanyain, di khawatirin?” Naah lho salah lagi wkwk.
Ada juga saat dia lapar, kita tanyai lapar? Lantas dia menjawab iya, kemudian kita berkata “aku belikan makan ya?”. Dia menjawab iya. Kemudian tiba-tiba kita ter-distract pekerjaan atau sesuatu hingga akhirnya lupa, akhirnya dia malah tidak makan. Malamnya dia menggerutu karena siang tadi tidak diingatkan makan. Lho ? Padahal sudah diingatkan. Logika laki-laki pasti berkata “kan tinggal bilang, kan tinggal diingatkan lagi supaya dibelikan makan”, “apa susahnya sih sekedar bilang?”. Namun ternyata itu tidak berlaku di perasaan perempuan, yang jauh lebih menginginkan aksi nyata yang muncul dari hati tanpa harus diingatkan lagi dan lagi.
Menjalani rumah tangga muda memang memberikan banyak pelajaran. Saat ada seseroang yang engkau ambil tanggung jawabnya dari ayahnya, saat ada seseorang yang rela membersamaimu, yang rela keluar dari zona nyaman bersama keluarganya, yang bahkan ikhlash hidup sederhana bersamamu.
Pelajaran pertama, yang paling mengena, bahkan mungkin seumur hidup harus terus belajar entah mengapa menurutku adalah kepekaan. Kita, kaum laki-laki dilahirkan dengan logika, yang harus diperhalus dengan perasaan terutama saat memulai kehidupan rumah tangga. Hingga hasil perenungan dan muhasabah setiap malam membuahkan kesimpulan yang barangkali belum tentu benar, namun setidaknya meredakan diri yang seringkali merasa kurang peka, dan semoga meredakan para istri saat melihat lelaki yang kurang bahkan tidak peka menurut mereka.
“Tidak usah mengejar level peka perempuan, kamu akan kalah. Kamu hanya cukup melebihkan peka dengan caramu tersendiri. Lakukan dari hati, lakukan sebab kamu mencintainya karena Illahi rabbi.”
“Kalau dia nanti berkata kamu kurang peka, atau kamu tidak peka, bersabarlah. Bukankah sebaik-baik laki-laki adalah yang bersabar pada istrinya? Balas dengan senyuman, balas dengan kata maaf, jika kamu ingin emosi, tahan emosimu, langsung peluk dia untuk meredakannya. Atau coba ingat kebaikan-kebaikan yang ia berikan kepadamu. Bukankah dia sudah menjagamu dari segala perbuatan zina? Bukankah itu merupakan anugrah terbesar dariNya?”
“Berdoalah, selalu doakan ia tiada henti. Selalu kecup keningnya setiap hari, mohon doa kepadaNya agar kamu mendapat kebaikan dariNya dan dijauhkan olehNya dari segala keburukanNya. Bukankah doa tersebut doa terbaik yang diajarkan oelh Rasulullah?”
“Diam, Dengarkan, Tanggapi sesekali dengan positif. Ingat, perempuan adalah makhluk puluhan ribu kata. Dia butuh kamu mendengarkan. Tak usah menyalahkannya, namun cukup dirimu sendiri saja, sebagaimana Nabi Adam dan Siti Hawa berdoa, bahwa kami telah menganiaya diri kami sendiri, hal yang menunjukkan bahwa sekalipun sudah takdir Allah keduanya diturunkan ke bumi, beliau berdua tidak menyalahkanNya.
Yang senantiasa belajar dan berdoa untuk jauh lebih menumbuhkan peka,
Surabaya, 22 - 2 - 2021
13.22