Peracik Rasa
Sejak aku terlahir kembali pada fana dunia, aku direngkuh oleh Tuhan ku. Segala rasa kembali pada peraciknya. Entah jika tanpa aku berjalan pada sudut cahaya terang ini, masihkah jiwaku terbentuk
Dulu, nyanyian sanubari begitu menggebu menyerang. Sungguh, aku takkan pernah mampu melawan nya jika tanpa peracik rasa nurani. Bahkan aku bisa dipastikan tenggelam dalam palung gelap tanpa sepercik pun sinar
Sekarang, ada Tuhan ku yang selalu menjadi payung ketika turun hujan luka pada renjana sanubariku. Tuhan ku ada dan nyata di setiap langkah nafasku. Bahkan aku berani memaki habis para penghuni sanubari jika mereka merayuku dalam angan
Peracik rasa adalah pemilik wujud diriku, peracik rasa adalah Tuhan ku, ia adalah ruang aku harus kembali, pada akhirnya.
Manusia memiliki tingkat kemampuan masing-masing sesuai prosesnya. Bukan harus disetarakan, tapi setidaknya ada sisi kesadaran.
Waktu terus berjalan, dan aku terus berjuang
Semoga senantiasa dibisakan dan dimaukan
Atas dasar Tuhan ku






