Terkadang, sesuatu yang terlewati adalah apa-apa yang sebenarnya kita cari.

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Bangladesh
seen from United States
seen from United States
seen from Bangladesh
seen from China
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Finland

seen from France
Terkadang, sesuatu yang terlewati adalah apa-apa yang sebenarnya kita cari.
Seeokor kura-kura kecil bertanya pada kelinci putih,
"Bagaimana caranya agar aku bisa sampai ke ujung jalan ini? Bagaimana supaya aku bisa menjadi sepertimu? Kamu terlihat bersinar, hebat, dan bisa melakukan apapun yang kamu inginkan." Kura-kura menatap kelinci dengan tatapan kagum.
"Kamu hanya perlu melakukannya. Aku yakin kamu juga bisa."
Kura-kura kecil tidak mengerti. Bagaimana caranya ia bisa berlari secepat kelinci. Bagaimana ia bisa melakukan sesuatu dengan percaya diri seperti itu.
la adalah kura-kura yang penuh ketakutan. la tidak mengerti bagaimana caranya untuk sampai ke ujung jalan. la takut jikalau di tengah jalan, ia akan bertemu hewan buas, atau ia akan tersesat dan tidak menemukan jalan untuk kembali.
Bagi kura-kura kecil, ini adalah langkah terbaik yang telah ia coba lakukan. Tapi ia bahkan belum mendekati apa pun yang kelinci putih lakukan.
Kura-kura kecil berpikir, apa suatu hari nanti ia bisa mengejar kelinci putih? Apa ia juga akan sehebat kelinci putih? Apa ia juga akan terlihat bersinar seperti itu?
-Bagian I. Kura-kura kecil-
Jika aku hanyalah tempat kau menghilangkan rasa jenuh mu, lalu pergi begitu saja, lebih baik kau pergi untuk selamanya,
Dan jangan pernah mampir ke hati ku, karena ia tidak akan menerima tamu sekalipun tamu itu adalah kamu.
Rio
@raqqun
Perihal lelaki yang mengenggam seluruh masa bersamaku.
Tulisan ini kulayangkan saat kelam menyelimuti seluruh bagian antariksa, dan ketika malam benar-benar menenggelamkanmu dalam lelap.
Hampir satu tahun berlayar, kurawat separuh dari hati yang sebenarnya ingin kulayangkan padamu. Corak tresna yang masih memerah ini, tentunya akan melukis rona dalam pipimu. Mungkin, andaikata hal itu terjadi, aku akan segera salah tingkah, tersipu malu, atau bisa jadi hatiku akan berdegub dengan sangat kencang. Menatapmu adalah kausa bagi diriku untuk menakhlikkan girang dalam riang. Untuk itu, beribu-ribu syukur mestinya kuhaturkan kepada Semesta.
Segala hal yang masih kukenang, kita adalah mahasiswa baru saat itu. Belum mencuatnya rasa yang kita sebut sebagai ‘cinta’. Kita hanya bersemuka dalam layar gawai, lalu bertutur kata selayaknya rekan sebaya pada lazimnya.
Entah. Sudah berapa banyak lintas pertemuan yang kita lalui, demi menatap lengkung kurva yang merekah. Perihal bagaimana kau menyeru nama panggilanku, yang acapkali mendengung dalam bilik hati. Pertemuan pertama yang masih kuingat dengan jelas adalah saat kita mampu menembus dinginnya udara malam, dan motor yang kita naiki berdua. Kurasakan kehadiranmu dengan sangat nyata, dan raga kita yang saling berdampingan. Dan dengan bodohnya, aku berpikir apakah kau masih mengingat dengan jelas peristiwa saat itu, Sayang?
Tidak ada kata yang tepat untuk memanifestasikan sebuah perasaan saat itu.
Ironisnya, aku mulai mendambakan suatu hal yang lebih dari sekedar pertemuan. I still remember the first time we held hands. I was so curious to know where our stands. Setidaknya, itulah yang kupikirkan, demi memperhatikan, kenapa laki-laki yang sebatas mengenakan kaos hitam dan celana kelabu itu, terlihat tampak cukup sempurna.
...
Adalah Rio, begitulah orang-orang memanggilnya. Nama Rio yang dihaturkan oleh ibu dan bapaknya, adalah sebuah hasrat agar ketentraman selalu melekat dalam tabiatnya. Ia dikenal sebagai Penanggung Jawab Kelas yang paling tunduk dengan titah dosen. Sepanjang riwayat kisah kasih, Rio tak pernah goyah dalam prinsip kesetiaannya. Baginya, satu wanita cukup menggenapi separuh atma hingga hayatnya. Oh, iya, aku sendiri menjulukinya sebagai Ririo. Sebagai isyarat bahwa atensi dan afeksi yang tak mengenal kata paripurna dalam hidupnya.
Meskipun aku dan Rio memiliki selisih usia yang terpaut satu tahun lebih muda, akan tetapi, tak menjadikan kami ingkar dalam darma asih. Justru Rio adalah teman hidup paling sebahu untuk sekadar berdiskusi suatu perkara atau sekadar berbagi kisah.
Ketentraman itu tercelik manakala ia sanggup menyajikan atensi sebagai sagu hati dari renjana yang tak lekang dimakan usia. Dengan perangai tabahnya itu, ia sanggup memecahkan berbagai kesulitan, serta mengalah yang menjadi salah satu jati dirinya sebagai sosok yang tegap tangguh.
Mojokerto sendiri telah menjadi saksi bisu atas berbagai riwayat hidupnya yang penuh pancawarna. Dengan kehadirannya pada pertengahan Maret, ia mampu menebar seri pada benak orang sekitar.
SMAN 1 Puri adalah persemayaman pendidikan yang ia lakoni selama tiga tahun, dengan bidang IPA sebagai ketertarikannya. Akan tetapi, talenta yang ia miliki mengharuskannya untuk alih minat serta hasrat. Bermula dari karangan pendek yang ia rangkai secara runtut, hingga dunia sastra yang menjadi destinasi terakhirnya di perguruan tinggi.
Salah satu prinsip yang ia pijak adalah, “Karena, aku bakal nepatin janjiku, dan aku akan terus setia. Bahkan, aku bakal nunggu kamu balik kalaupun kita sampai pisah.”
Rio adalah alasan mengapa sampai hari ini aku masih menunggu sudut itu. Sudut dimana orang-orang memanggilnya dengan ‘Rindu’.
—Tertanda cinta untuk @raqqun ❤️
Dari buku harian ku...
Bagai sajak yang tak beraturan, pun aliran air yang tersesat dari jalannya. Ingin rasanya aku terbang menemuimu.
'Maaf' menjadi awal dari percakapan yang entah memiliki makna atau hanya sekedar angan angan.
Ingin rasa ku ungkap segala penat dalam hati, mencurahkan perasaan yang mendalam dan menjelaskan kerancuan cerita kosong tak berarti ini. Tanpa ada satupun episode yang terlewat.
I want to do it all...
But I'm afraid. Aku tak siap. Bagaimana jika setelahnya benci adalah rasa yang terbalaskan untuk ku?
Harusnya aku mengetahui satu hal...
"Kamu, tak lebih dari sekedar pendatang yang hanya singgah di hidupku"
Di tulis pada hari lahirmu ke dunia ini, 4 Juni 2022
Malam semakin gelap, semangat hidup semakin samar, merangkak pelan beringsut hilang.
Katanya, hidup itu singkat. Harus terus bahagia, tetapi, dimana letak bahagia itu? Seperti apa bahagia itu?
Mungkin karena aku saja yang kurang bersyukur, bisa jadi itu benar. Walau kenyataannya, aku sendiri tidak tahu apa yang ada di pikiranku. Sesak dan riuh.
Sajak sabtu malam
والصادقون ف الحُب لا يمِلون ، حتي وإن ساد الصمت بينهم.
Orang yang tulus dalam mencinta tak pernah bosan, bahkan meski keheningan terjadi di antara mereka.
Za.
Apa tumbuh dewasa seperti ini yang benar-benar kamu impikan dulu? Jika kamu tanya aku, akan kujawab tidak. Bukan tumbuh dewasa seperti ini yang dulu aku impikan.
Bukan menjadi dewasa yang seperti ini yang dulu aku bayangkan, nyatanya sekarang menyakitkan. Aku harus berdamai dengan hal-hal yang sejujurnya aku tidak sukai, karena nyatanya menjadi dewasa adalah perihal menerima bahwa banyak hal yang memang tidak bisa digapai sekeras apapun usaha yang telah aku perjuangkan.
Waktu tidur yang sedikit, pekerjaan yang tiada habisnya, teman yang mulai menghilang satu persatu, tingkat kesuksesan yang selalu diukur berdasarkan manusia lainnya, semua hal menjadi tidak semenyenangkan dulu dan aku merindukan masa lalu.
Kilatan-kilatan masa lalu selalu terbesit dalam lamunanku, apakah bisa aku sebahagia dulu? Saat hidupku rasanya hanya dipenuhi dengan canda tawa dan kebodohan masa muda yang sampai saat ini masih aku ingat dengan jelas setiap detail ceritanya.
Apa dulu aku terlalu sombong? Seakan-akan dunia berada di dalam genggamanku. Sekarang hidupku penuh dengan sesal akan hal-hal yang tidak aku selesaikan dulu. Jiwa muda yang bodoh, aku terlalu terbuai.
Karena kini aku hanya terus berganti topeng, mencoba menjadi sosok yang selalu kuat dan bersemangat. Andai langit-langit di kamarku dapat berbicara, mungkin mereka sudah mengeluh karena riuhnya pikiranku setiap malam. Bahkan bukan hanya riuh, ada juga tangis yang sangat pilu karena aku sadar bahwa hal-hal indah itu tidak akan pernah bisa kembali lagi.
Teruntuk teman-teman terdekatku, aku bahagia melihat kalian berhasil menggapai mimpi-mimpi kalian. Sungguh aku selalu mendoakan yang terbaik bagi kalian, apapun bentuk kebahagiaan yang kalian inginkan.
Aku hanya sedang kelelahan dan merindukan masa lalu. Bukan ingin menyerah, hanya aku baru sadar bahwa menjadi dewasa ternyata sesepi ini.
- Alf