#12 - Selepas Ramadhan.
Kali ini saya termangu di depan masjid. Masjid yang sebulan lalu, di jam menuju isya, orang-orang berbondong-bondong menuju masjid. Mukena yang lebar banyak bertebaran di jalan. Kain-kain sejadah digenggam, beserta quran kecil sebagai pelengkap.
Ramadhan telah usai. Begitu juga kah semangat kita?
Tidak ada lagikah dhuha-dhuha yang diupayakan? Atau halaman demi halaman tilawah yang kita upayakan di sela aktivitas kita? Atau dini hari-dini hari yang kita bangun? Atau jauhnya perjalanan ke masjid untuk menyambut seruanNya? Atau harta-harta kita yang kita tinggalkan pada kotak-kotak amal kebaikan? Atau sabarnya kita menahan marah? Atau kata-kata kebaikan yang coba kita keluarkan?
Selepas Ramadhan, ujian menjadi lebih sulit. Sebab lingkungan tidak lagi sama dengan bulan kemarin. Pun iming-iming hadiah terasa kecil. Dan mengerjakan kewajiban hambar rasanya.
Selepas Ramadhan, bukan kah Ramadhan itu sekolah yang membiasakan? Segitu tak ada efeknya kah?
-
La’allakum tattaqun. Agar kamu bertaqwa. Begitulah penggalan ayat diujung ayat yang sering kita dengungkan menjelang Ramadhan sejak seragam masih putih-merah.
Taqwa, merujuk pada penjelasan ust.salim adalah seruan yang paling sering diulang kepada insan beriman dalam Al-Quran; muara dari segala perintah peribadahan. Ia adalah bentuk kehati-hatian tertinggi. Demi mewujudkan ‘mengikuti perintahNya dan menjauhi laranganNya.’
Ada lima unsur dalam taqwa.
Muraqabah --> Kesadaran bahwa Allah ada dalam setiap aktivitas kita. Kesadaran bahwa Allah melihat segala hal yang kita sembunyikan. Kesadaran bahwa kita hanyalah seorang Hamba yang dilihat gerak-geriknya, diuji imannya, dan kelak kelakuan kita akan dipertontonkan pada kita sendiri. Tidak ada pengelakan maupun alasan-alasan yang kita bisa berikan.
Mu’ahadah --> Perjuangan mencapai titik tertinggi. Upaya yang dilakukan untuk bisa menjadi hamba yang diridhoiNya untuk menjadi penghuni surga. Ia pinta surga yang tertinggi. Ia upayakan hidup yang termulia. Ia memohon kematian dengan cara terbaik.
Muhasabah --> Evaluasi. Hitung-hitung. Apakah upaya yang kita lakukan sudah cukup? Muhasabah tidak ada tanpa mu’ahadah terlebih dahulu.
Mu’aqabah --> Pemberian konsekuensi. Atas hal-hal yang kita tahu bahwa itu tidak pada tempatnya. Itu tidak semestinya. Seperti Umar yang pernah telat sholat ashar karena memeriksa kebunnya yang mau panen kemudian akhirnya ia sedekahkan kebun itu.
Mujahadah --> Bersungguh-sungguh dalam menghamba. Agar istiqamah. Agar meraih yang telah diniatkan.
Menyadari sebagai seorang hamba --> Berjuang mengupayakan sikap-sikap sebagai hamba --> Evaluasi --> Konsekuensi --> Sungguh-sungguh
-
Selepas Ramadhan, tugas kita bisa jadi terasa lebih berat. Tapi seharusnya, ada bekal yang telah kita dapat. Kalaulah kita merasa gagal pada Ramadhan ini, jangan sampai putus asa untuk berjuang menjadi orang yang bertaqwa. Berdoalah agar Allah memudahkan langkah kita, Allah meridhoi kita, Allah berkahi kita.
Niscaya, perjuangan itu menjadi nikmat rasanya.
Selamat me-Ramadhan-kan hari-hari kita !












