#02 - Jangan Lupakan Mereka
Seorang wanita usia 60 tahun datang ke sebuah poliklinik untuk kontrol dikarenakan adanya keganasan pada ginjal. Ibu ini sudah terpasang selang pipis.
“Ibu, ibu dianterin siapa?” tanya seorang dokter kepada pasiennya di poliklinik tempat aku belajar.
“Niki...” menunjuk perempuan di sebelahnya.
“Lho, niki sinten?” (re: Ini siapanya?)
“Kulo budenya, tetangganya dokter.” (re: saya budenya) jawab perempuan itu.
“Ibu tinggal serumah nggak?”
“Ndak dokter tapi deket.”
--
Dokter itu melanjutkan anamnesisnya,
“Ibu, selangnya dipasang kapan?”
“Selasa dokter.”
“Selasa kapan?”
“Selasa kemarin.”
“Ya kemarin kapan ibu? Tanggal berapa?”
“Tanggalnya lupa dok.”
“Lho jangan lupa toh ya bu.”
“Yang tahu anak saya dok.”
“Anak ibu kemana sekarang? Kok nggak ikut nganterin?”
“Katanya kesel dokter abis jualan es.” (kesel dalam bahasa jawa artinya capek)
“Hasil labnya mana bu?”
“Aduh ngga di bawa dok.”
“Kok bisa?”
“Ada di anak saya.”
“Lha sekarang anak ibu mana? Kok ngga mau nganterin ibunya sendiri?”
“Capek lagi jualan es.”
“Ya ibu mau sembuhnya tuntas apa engga? Kok ibu dan keluarga ibu ngga ada yang peduli dengan kesembuhan Ibu. Bu, kalau ibu dan keluarga ibu ngga peduli, Ibu bisa selamanya pake selang itu bu. Ibu mau?”
“Nggak dok”
“Ya makanya bu. Udah, nanti balik lagi aja lusa, harus dianter oleh anak ibu. Harus sama yang serumah bu dianternya.”
Seorang laki-laki 65 tahun, datang untuk kontrol karena ada pembesaran kelenjar prostat. Pasien ini sebelumnya diminta untuk mencatat kapan dan durasi ia pipis untuk menilai fungsi saluran kemih pasca operasi. Bapak ini diantar oleh anak ketiganya, yang notabennya bukan pengantar bapak berobat dari awal. Efeknya, instruksi dari dokter tidak tersampaikan dengan baik.
Dokter kemudian memberikan kesempatan 2 hari untuk mencatat sesuai instruksi dokter.
“Tapi dokter...di rumah ngga ada yang bisa ngawasin.”
“Lho, Ibu kemana emang?”
“Saya kerja dok.”
“Anak yang lain?”
“Jauh sih dokter ndak ada yang disini.”
“Ibu, bapak ini ngga bisa mengawasi dirinya sendiri. Coba Ibu rembukan dengan saudara-saudara Ibu. Kalau bukan Ibu dan anak-anak yang lain, siapa yang mau rawat bapak, Bu? Pasien saya banyak lho Bu yang anak-anaknya sampai pulang dari luar negeri demi merawat orang tuanya. Coba Ibu pikirkan. Ngga ada alasan sebenernya bu untuk tidak merawat Bapak.
Selesai dua pasien itu, dokter ini memberi wejangan pada kita, dedek-dedek koas, “Nanti kalau kalian tua jangan jadi anak kayak gitu ya. Tetaplah jagain orang tua kalian, sesibuk apapun kalian. Kalau orang tua kalian sakit, memang harapan satu-satunya yang merawatnya adalah keluarganya. Ngga ada orang lain lagi.”
Keluarga. Menjadi sekelompok orang yang satu sama lainnya saling menguatkan. Saat satu melemah, yang lain menopang, membangun, menguatkan. Seperti halnya saat kita kecil dahulu, lemah tak bedaya, kosong tak berisi, yang kemudian melalui keluarga kita, ada harga diri yang terbangun, ada pemahaman yang terkonstruksi, ada kekuatan yang tercipta.
Tidak akan henti gelar ‘keluarga’ terlekat pada masing-masing anggotanya. Terus menembus dimensi waktu, tempat, situasi.
Maka, tidak heran nasehat Al-Quran tentang hormat pada orang tua bernada tegas.
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Qs Al-Isra:23)
Kita bertumbuh. Kita menua. Begitu pun dengan kedua orang tua kita. Secara fisiologis, akan banyak fungsi yang menurun dalam tubuhnya. Bukankah kemudian merawatnya menjadi tanggung jawab anaknya -yang dengan logika umur kesehatannya masih dalam kondisi prima? Belum lagi ternyata support keluarga sangat berpengaruh dalam proses penyembuhan seseorang, apalagi dengan kondisi fisik tua dan renta.
Saya tertegun ketika mendengar kisah keluarga besar yang memiliki jadwal nengok orang tua setiap minggunya. Apakah mereka tidak sibuk? Tentu saja sibuk, mayoritas suami dan istrinya sama-sama bekerja. Tapi, ternyata cinta mereka jauh lebih besar dibanding pekerjaannya. Lagi-lagi ini soal menyempatkan. Saat orang tuanya sakit, tidak pernah terlewati waktu yang tidak didampingi oleh anaknya. Ah, indah sekali memiliki anak yang solih-solihah.
Semoga saat kita besar nanti, dengan kesibukan apapun kita, kita tidak melepas kesempatan beramal dan membalas kebaikan mereka yang tak terhitung banyaknya. Kita tidak mengharapkan orang tua kita sakit tapi ketika Allah mengujinya, kita sanggup memberikan pelayanan terbaik. Ah, semoga ya kita masih ingat bahwa di bawah telapak kaki ibu kita, ada surgaNya. Sampai kapanpun. Jangan pernah lupa. Jangan pernah.