Yang patah hilang
Yang tumbuh berganti
Yang sia-sia akan jadi makna
(Banda Neira)
Di suatu hari yang mulai gelap, saya sedang berjalan pulang melewati jalan yang biasa saya lewati. Tidak ada yang spesial hari itu kecuali saya ingin cepat pulang menyelesaikan urusan yang lain. Tetiba dalam perjalanannya, ada sebuah motor yang melewati motor saya dengan kecepatan yang cukup tinggi sambil teriak "Mbaak, tasnya kebuka, dompetnya jatuh di atas!" ujarnya sambil berlalu begitu saja.
Saya kemudian tertegun. Masa iya tas kebuka. Perasaan tadi udah ditutup. Saya cek tas saya, dan ternyata tas ranselnya sudah menganga. Bahkan beberapa dari isi tas hampir keluar. Saya cari dompet saya beneran nggak ada! Astaghfirullah.
Saya kemudian menepi. Karena jalannya itu satu arah, saya nggak bisa langsung muter gitu aja. Harus cari puteran yang cukup jauh jaraknya dan menghabiskan waktu. Saya akhirnya turun dari kendaraan dan jalan balik sambil cari dompet saya. Sampai di suatu persimpangan saya menyerah. (Belakangan saya disadarkan bahwa nggak boleh lagi ninggalin kendaraan gitu aja di jalan. Bisa aja penjahatnya juga sengaja mau ngincer kendaraan kita.)
Saya pun memutuskan untuk kembali menaiki kendaraan lantaran ujud dompet itu tidak jua ditemukan. Kondisi saat itu saya sendirian. Selama perjalanan saya coba menenangkan diri, meyakinkan bahwa semua akan baik-baik aja, bahwa rejeki mah nggak akan kemana.
Selesai putar balik dan menyusuri jalan yang sudah saya lewati, dompetnya masih juga tidak ditemukan. Saya pikir memang sudah saatnya mengikhlaskan. Mungkin sudah diambil orang lain. Tapi, saya mau menuntaskan ikhtiar ini dengan kembali ke tempat saya terakhir kali buka dompet, ke sebuah rumah makan. Kalau sampai nggak ada juga, artinya memang harus cari solusi lain.
Tiba di rumah makan itu, saya liat kondisi bensin saya. YaAllah udah mau garis merah :( gimana ceritanya kalau mogok di jalan. Ingin beli bensin udah nggak pegang uang kecuali dua rebuan. Saya menghela napas. Yaudah lah harus segera dituntaskan dan pulang. In sya Allah cukuplah sampai rumah. Saya kemudian segera menanyakan keberadaan dompet pada seorang mas-mas kang parkir. Ternyata hanya dibalas gelengan kepala dengan muka iba melihat kepanikan saya.
Pikiran saya yang lain adalah bahwa atm harus segera diblokir. Apalagi, banyak uang umat yang kebetulan sedang tertitip di saya. Ah, menambah beban pikiran saya malam itu. Saya pun menelpon operator untuk pemblokiran tersebut. Belum selesai pembicaraan, telepon terputus. Pulsa saya habis!
Rasanya pengen ngomel-ngomel banget. Tapi, buat apa juga ya. Masalah ngga selesai dengan omelan belaka. Saya pun kembali menarik nafas panjang sembari meminta pertolonganNya.
Melihat saya yang ngga pulang-pulang, kang parkir itu menghampiri saya sambil bertanya
“Kenapa mbak?”
“Ini saya mau blokir ATM saya, tapi belum selesai diblokir pulsa saya habis. Ini saya mau pulang aja cari uang di rumah.”
“Oh gitu mbak...... Pake ini aja.” sambil menyerahkan uang 15 ribuan.
“Hah? Ngga usah mas. saya pulang aja nanti ada uang kok di rumah.”
“Ngga papa mbak, keburu kenapa-kenapa entar ATMnya.”
“Serius mas?” sambil berkaca-kaca.
“Iya mbak. Udah mbak ngga usah nangis, dibeli aja pulsanya.”
“Makasih ya mas” semakin berkaca-kaca.
Yang tadinya mau marah-marah, rasanya jadi mau nangis. Terharu dengan kebaikan kang parkir itu. Masya Allah. Memang benar pertolongan Allah itu Maha Dekat. Dekat sekali.... Syaratnya satu. Percaya kalau Ia tidak akan meninggalkan kita sendirian.
Setelah selesai urusan pemblokiran, saya pun sudah cukup tenang. Setidaknya beberapa kegalauan sudah selesai. Saya akhirnya pamit ke kang parkir itu.
“Mas saya pamit dulu deh. Ini mau pulang aja, udah semakin malam juga.”
“Udah selesai mba blokirnya?”
“Udah mas. Saya pamit ya mas. Makasih banget udah bantu saya, in sya Allah saya ganti mas kalau ada rejeki lagi.”
“Nggak usah diganti mbak. Ngga apa-apa. Hati-hati di jalan mbak”
“Iya mas. Makasih ya.”
“Iya mbak. Oh ya, itu bensinnya udah mau habis mbak. Kalau mau isi bensin pake yang di dashboard aja ya mbak.”
Saya bingung.
Dashboard apaan?
Saya cek dashboard motor, ternyata disana diselipkan 2 lembar uang lima ribuan.
“Masya Allah mas. ngga usah” (semakin ingin nangis)
“Ngga papa Mbak. Daripada motornya mogok dijalan nanti.”
“....”
“Udah Mbak. Hati-hati di jalan.”
“YaAllah mas. semoga rejekinya semakin lancar.”
Malam itu begitu membekas di hati saya sendiri. Betapa ngga mikir-nya kang parkir untuk menolong saya. Kalau dipikir-pikir, ia harus menunggu kembali puluhan motor untuk mendapat uang yang sama. Ia memang bertato, tapi kejernihan hatinya begitu tercermin dari akhlaknya yang mudah melakukan kebaikan. ngga kelamaan mikir. Menolong orang sudah menjadi refleksnya ketika melihat orang lain kesusahan. Saya bukan siapa-siapa dia. Cuma pelanggan. Kenal aja engga. Tapi dibantuin segitunya.
Lantas, betapa sering kita terlalu lama berfikir dalam melakukan kebaikan. Mempertimbangkan A sampai Z hingga akhirnya tidak jadi melakukan kebaikan tersebut. Menunda kebaikan hingga Allah cabut niat melakukan kebaikan itu.
Apakah dompetnya akhirnya ketemu?
Tentu saja tidak. Hanya tersisa KTM saya saja yang tertinggal di pinggir jalan. Tapi atas hikmah malam itu, saya begitu mensyukuri kejadian ini. Betapa mudah Allah membalikkan keadaan seseorang. Mungkin bagi kita bilangan lima ribuan, sepuluh ribuan itu bilangan kecil yang mudah didapatkan. Dan bagi orang lain bilangan tersebut bisa saja menjadi barang mewah. Namun dengan hati yang baik, begitu mudah ia memberikannya pada orang lain --yang sebelumnya tidak begitu menghargai bilangan tersebut. Malu sekali rasanya.
Maka, perlu sering-sering latihan untuk mengkristalkan refleks kebaikan. Hingga siapapun yang butuh pertolongan, dengan sigap kita membantunya. Tanpa A-B-C ataupun ba-bi-bu. Bukankah itu yang diajarkan Baginda Rasul kita?
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allâh melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat.”
Hikmah lain adalah menyimpan arsip semua dokumen penting kita menjadi bagian penting dari ikhtiar kita menjaga harta kepemilikan. Segeralah mengurus segala yang hilang. Dan jangan terlalu bersedih sebab Allah akan ganti dengan yang lebih baik atas kehilangan-kehilangan kita. Tak perlu takut. Sebab apa yang kita miliki semuanya memang sementara kan?
Dunia hanya digenggam. Di tangan. Bukan di hati.
Dan tinggal tunggu saja kejutan apa yang akan Ia hadiahkan atas kesabaran kita lantaran diberi musibah serta ujian ;)