Nuri dan Refleksi Diri
Kemarin malam saya depresi (lagi), dan pagi ini teman sekelas saya meninggal.
Tentunya ini bukan cerita tentang indra keenam atau mistisisme sejenis—saya tidak meminati topik semacam itu. Ini hanya pelajaran tentang kebersyukuran yang, dari semua kesempatan, malah datang seiring dengan kepergian seseorang.
Namanya Nuri. Kebanyakan teman perempuan sekelas memilih memanggilnya Kaknur, kependekan dari Kak Nuri—panggilan buatan Monica yang agaknya gemar ‘menuakan’ orang satu kelas dengan membubuhi Kak, Mbak, atau Mas di depan nama mereka. (Sementara saya yang paling muda seangkatan dengan santainya ber-gue-elu sambil ongkang-ongkang kaki) Saya tidak sedekat itu dengan Nuri sampai punya segudang kenangan manis yang bisa ditumpahkan di sini. Kami hanya teman biasa, dengan beberapa kesempatan untuk menikmati waktu bersama.
x
Pertama kali Nuri menunjukkan kulit jemarinya yang kering dan mengelupas, saya mengerjapkan mata sambil melontarkan pertanyaan spontan.
“Nyuci, Nur?”
Pemilik kulit tangan sekasar itu, setahu saya, hanya orang yang sering bersinggungan dengan deterjen tiap hari, jadi saya berasumsi Nuri pun sering memegang sabun keras itu dengan tangan telanjang. Dia tertawa, “Ya kali Dil, aku pegang deterjen aja nggak kuat.”
Lalu dia bercerita tentang livernya yang lemah sejak dulu, tentang pengobatan dwimingguan di Jakarta. Tentang alasannya menolak tiap ditawari roti atau makanan-makanan lain yang mengandung tepung. Dia sadar betul akan kelemahan fisiknya, namun psikisnya seolah menolak untuk menerimanya.
Dari 51 murid di kelas, berani taruhan, Nurilah yang paling sering memegang jabatan kepanitiaan acara kampus. Stempel seminarnya pun, terakhir kali saya tanyakan, sudah dua kali jumlah stempel seminar saya. Benar kata orang, semakin besar tembok keterbatasan seseorang, semakin besar pula rasa haus untuk memanjatnya.
“Nuri nggak kira-kira,” seloroh saya suatu saat. “Udah tau gampang sakit, tetep aja jadi panitia ini-itu.”
Acara terakhir yang Nuri tangani adalah Cadenza, pentas musik pertama MBA ITB yang diadakan dengan gabungan tenaga mahasiswa entrepreneurship dan young professional. Tak tanggung-tanggung, dia memegang posisi sekretaris—padahal saya yang segar bugar saja hanya menduduki posisi anggota divisi publikasi dan dokumentasi. Akhirnya di awal masa penggodokan acara, fisiknya menyerah. Hanya rapat pertama yang Nuri hadiri, sisanya ia hanya membantu via email.
Pada hari H, Nuri kembali menampakkan diri. Ia datang beberapa jam lebih awal dari saya (lebih tepatnya, saya yang datang terlalu sore) dan sudah lebih dulu membantu memasang dekorasi. Ketika ketua acara memanggil semua anggota untuk rapat koordinasi, Nuri dan saya tengah “melarikan diri” ke warung di Tamansari. Kami berdua melihat woro-woro sang ketua di grup Cadenza.
“Ntar ah. Kalo aku telat makan lagi, bahaya. Harus minum obat, lagi,” cetusnya. Saya tidak menanggapi kata-katanya dengan serius, dan memasang wajah ‘ya udah sih Nur, gue juga masih ngunyah lele’.
Malam itu, Nuri hanya membantu menjaga meja penerima tamu sampai jam setengah 8 malam. Beberapa panitia, ditilik dari wajahnya, tampak kesal dengan kepulangan Nuri yang sangat awal. Acara baru mulai 30 menit.
Tapi, ah, siapa yang bisa menebak kalau itu akan menjadi kali terakhir mereka bertemu Nuri?
x
Satu setengah bulan lamanya saya tidak mengobrol dengan Nuri. Kalaupun ada, hanya sebatas sahut-menyahut di grup LINE angkatan.
“Cepat sembuh Nuri, cepat kuliah lagi. Kalo udah sembuh jangan jadi panitia semua acara lagi.” Kira-kira begitu kalimat yang terakhir kali saya tujukan padanya, diamini oleh beberapa teman dengan sistem copy-paste,
“Cepat sembuh Nuri, cepat kuliah lagi. Kalo udah sembuh jangan jadi panitia semua acara lagi. (1)
Cepat sembuh Nuri, cepat kuliah lagi. Kalo udah sembuh jangan jadi panitia semua acara lagi. (2)
Cepat sembuh Nuri, cepat kuliah lagi. Kalo udah sembuh jangan jadi panitia semua acara lagi. (3)”
x
Kemarin malam, saya kembali merasa rendah diri. Di banyak kesempatan, saya kerap membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Tak ingin kalah, namun selalu menemukan diri tengah kalah—dan kemarin ini terjadi lagi.
Baru saja saya melihat-lihat akun medsos seorang gadis. Gadis yang mantan kekasihnya adalah lelaki yang tengah menarik perhatian saya. Sedikit banyak, sebelum mulai melihat-lihat, secara tak sadar saya sudah membuat spekulasi ini-itu tentang gadis tersebut—mungkin orangnya begini, mungkin begitu. Kemudian saya membaca satu per satu hasil ketikan gadis itu, dan saya terpana.
Saya tidak semanis gadis itu. Tutur kata saya tidak selembut dia, pun pilihan kata kami jauh berbeda.
Saya tidak punya jiwa sosial setinggi gadis itu. Saya cenderung egois, kerap plin-plan, pun kadang terlalu banyak khawatir jika berhadapan dengan kesempatan bersosialisasi.
Saya tidak secerah gadis itu. Katakanlah, ia adalah epitom gadis anggun, lembut, menyenangkan yang punya banyak sahabat perempuan; sementara saya tipe orang membatasi jumlah orang di lingkaran pertemanan terdekat, saya jauh dari kata anggun—mungkin bahkan lebih condong pada karakter keras, dan tak ada yang bisa dibanggakan dari daftar prestasi saya yang minim.
Bertubi-tubi, saya menjelekkan diri saya sendiri dalam hati. Saya berusaha mengingat sisi baik saya, namun gagal, berkali-kali. Semakin saya mengingat gadis itu, semakin hilanglah keberanian saya untuk berkaca.
Jujur, saya kerap menangis tiap kali membandingkan diri dengan orang sekitar, namun saya pantang bercerita kepada siapapun. Toh tidak akan ada yang percaya—setidaknya, tidak dengan eksterior saya yang seperti ini.
Keesokan harinya, datanglah berita duka tersebut. Kakak Nuri mengumumkannya di grup LINE angkatan dengan menggunakan akun Nuri. Saya membacanya sekali, dua kali. Saya nyaris berharap yang ditulis di sana adalah kerabat Nuri, mungkin orang tuanya, atau mungkin oom atau tantenya, namun ternyata yang terpampang di sana adalah nama Nuri sendiri.
Saya terdiam. Tiba-tiba terlintas semua ingatan tentang Nuri: tentang nasihat-nasihat tepat sasaran yang dilontarkannya di grup curhat cinta ‘Konsultasi Syariah’ (walaupun ia bilang ia belum pernah punya pacar); tentang kebingungannya kala mengetahui aku dan sahabatnya tengah menyukai laki-laki yang sama, yang menurutnya “sangat tidak layak untuk disukai, cara dia mendekati orang tuh sama sekali nggak kreatif”; tentang ajakannya untuk menyanyi bersama, berkali-kali, namun sayangnya baru terlaksana sekali dan kami berdua tidak dalam kondisi fisik dan suara yang ideal; wajahnya yang sering mendadak keras dan memberengut kala mendengar penjelasan orang lain; bombardir stiker LINE yang bolak-balik menyalakan dering notifikasi ponsel….
Saya terkesiap.
Nuri bukan orang paling berprestasi tinggi yang pernah saya temui, pun dia bukan pemilik usaha paling sukses di kelas. Bukan pula ia seorang yang mudah akrab dengan semua orang (walaupun dia memang ramah dan nada bicaranya sangat pelan mendayu-dayu), atau punya link yang bisa membuat semua orang melongo kok-elo-bisa-kenal-dia.
Nuri ya Nuri. Hanya dengan menjadi dirinya sendiri saja, Nuri bisa membuat seisi kelas rindu kala ia pergi. Dengan kekurangan dan kelebihannya, individu tiada dua bernama Nuri Annisa itu meninggalkan kenangan yang tak bisa digandakan atau direka ulang oleh orang lain. Dengan kesederhanaan dan semangatnya, Nuri yang orang biasa itu bisa membuat penulis malas seperti saya menghasilkan curahan hati sepanjang 1000 kata lebih dalam waktu singkat.
Setiap orang punya peran dan ladang amalnya sendiri. Jadi kenapa harus merasa rendah diri, Fadhila?







