Orange lunch at Trafalgar Square.
What a cheapskate.
Not today Justin
occasionally subtle

#extradirty
h
Cookie Run:Kingdom Official!
No title available

No title available
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
đ

Kiana Khansmith
đ©” avery cochrane đ©”

Origami Around
Monterey Bay Aquarium
Doug Jones
The Bowery Presents
RMH
almost home
Xuebing Du
Interview Vampire Daily
hello vonnie
seen from United States

seen from Singapore

seen from TĂŒrkiye

seen from Philippines
seen from Indonesia

seen from United States

seen from Austria
seen from Ukraine
seen from Malaysia
seen from United States
seen from Mexico
seen from Jordan
seen from Malaysia
seen from Brazil
seen from United States
seen from Mexico

seen from Spain
seen from Mexico
seen from Nepal
seen from United States
@everyday-escapade-blog
Orange lunch at Trafalgar Square.
What a cheapskate.
Mottingham Station (night), London Bridge Overground Station (day).
UK Escapade #2: The Firsts of Stupidity
Hello again, whoever you are!
Iâm still typing this from a kitchen at a dorm in Kentish Townâstill a freeloader, but will move to New Eltham this evening to avoid being a parasite for too long.
This time I will start from the day I was still on the plane, four days ago days ago, because I realize I looked like a total moron back then. Please donât blame me; I donât travel by plane or go to country borders that often, Bandung doesnât have oyster card or underground tube (donât be too proud, Brits, Iâm sure you will feel the same upon riding your first angkot in Bandung), I havenât experienced 3 degree Celsius for more than a decade, and so on.
The day I decided to buy flight tickets, the cheapest one between the options (Etihad/Qatar/Garuda/Lufthansa) was Lufthansa. I got it for $926.66 for go and return ticket. A week before it, my friend also got around $913 or something from Etihad, but by the time I checked, it was already $1000âthis is the real evidence on why you need to have the LoA as soon as possible and buy tickets right away. However, if you have sponsor or scholarship, just go for Garuda. Itâs much more convenient, the food served on-board suits Indonesian taste-buds, and the maximum baggage weight is 40 kg. Lufthansa only allows 23 kg maximum (sobs) but somehow I managed to stuff only 15 kg in it HAHA! Iâm so ready to shop~
I sat next to a Swedish old man. He was in front of me while we were queuing for flight check-in. He was really kind and likes to hum. He always told me when the flight attendants offered something (I booked window seat, so yeah, just imagine a melancholic girl staring at the vast starry night sky), he woke me up when the flight attendant forcefed us in the middle of the night (based on west Indonesian time, it was 2 AMâthe intention is to lessen jetlag, but still, huhuhu), and we even exchanged love story. We went our separate ways in Frankfurt since he had to go to Sweden, and I still don't know his name. See you later, old man, I hope we can meet again someday, with some fresher love story to be exchanged.
A sight at Frankfurt Airport.
View from my window on flight from Frankfurt to London. I always choose window seat despite the stress of torturing my bladder system on longer flights.
Saturday, 9.30, I arrived at Heathrow Airport. As you have read before, I donât go abroad that often, and on my last trip to South Korea, they didnât ask many questions on the border; just fill the form, show your passport, wait and fidget uncomfortably for less than a minute, and youâre good to go. But UK Border, dang!
The staff first asked me to take my passport cover off and checked it under UV light, then comes the endless questions; how long will you be in UK, where are you going to stay, how much money do you have, whose address did you write here, if something comes up will your parents send you money, have you bought your return ticket⊠then he asked me to show the LoA from Goldsmiths aaand I DIDNâT HAVE IT IN MY HANDBAG (stupidity #1).
âYouâre entering UK and you donât bring the letter from your campus?â He glared at me mercilessly. I gave him my puppy eyes but he burned it with his piercing glance. So at the end, I have to write down (while listening to his nagging) the name of the campus, the program, the campusâ address, how much money do I have in my account, and then he finally agreed to grant me entry to the queenâs country. A friend told me that first entry tend to be roughâthis is his second time going to UK and the questioning for him was much tamer.
Finally!
Afterward, my friends bought themselves UK SIM card. A senior of mine who has been living in London for half a year told me it's better to buy SIM card at a local shop rather than airport's vending machine. My friends bought 3 (three--name of a provider) for ÂŁ20, and later I bought a Lebara number from a shop for ÂŁ1 and bought a ÂŁ10 top-up. Sounds expensive? Dearest Indonesian reader, don't ever try to convert prices here to Rupiah, it would only break your heart, kthxbye.
A kind reminder, don't forget to download a phone app called Citymapper before departing from Indonesia (or you can download it with Heathrow's WiFi, up to you). Also, to avoid making the same Stupidity #2 that I did (I tried to use Whatsapp before logging in :p), after turning on your WiFi network search and connect to '_Heathrow WiFi', open your browser and log-in using your flight number, and voila, you have free 4 hours internet access now! Now just open that Citymapper app and check how to get to your hostel/housing area. Want to ride the underground tube but you can see no signage for it around the international arrival gate? The station is at level -1, just get into that elevator until level 0, and move to another elevator on your right hand side, press -1.
Since I have to get going like around now, I'll continue the story later. My next post will be typed from New Eltham, so brace yourself! (There won't be any difference though...)
My precious sheep.
Photoshop Fadhila/everyday-escapade, 2015
Nuri dan Refleksi Diri
Kemarin malam saya depresi (lagi), dan pagi ini teman sekelas saya meninggal.
Tentunya ini bukan cerita tentang indra keenam atau mistisisme sejenisâsaya tidak meminati topik semacam itu. Ini hanya pelajaran tentang kebersyukuran yang, dari semua kesempatan, malah datang seiring dengan kepergian seseorang.
Namanya Nuri. Kebanyakan teman perempuan sekelas memilih memanggilnya Kaknur, kependekan dari Kak Nuriâpanggilan buatan Monica yang agaknya gemar âmenuakanâ orang satu kelas dengan membubuhi Kak, Mbak, atau Mas di depan nama mereka. (Sementara saya yang paling muda seangkatan dengan santainya ber-gue-elu sambil ongkang-ongkang kaki) Saya tidak sedekat itu dengan Nuri sampai punya segudang kenangan manis yang bisa ditumpahkan di sini. Kami hanya teman biasa, dengan beberapa kesempatan untuk menikmati waktu bersama.
x
Pertama kali Nuri menunjukkan kulit jemarinya yang kering dan mengelupas, saya mengerjapkan mata sambil melontarkan pertanyaan spontan.
âNyuci, Nur?â
Pemilik kulit tangan sekasar itu, setahu saya, hanya orang yang sering bersinggungan dengan deterjen tiap hari, jadi saya berasumsi Nuri pun sering memegang sabun keras itu dengan tangan telanjang. Dia tertawa, âYa kali Dil, aku pegang deterjen aja nggak kuat.â
Lalu dia bercerita tentang livernya yang lemah sejak dulu, tentang pengobatan dwimingguan di Jakarta. Tentang alasannya menolak tiap ditawari roti atau makanan-makanan lain yang mengandung tepung. Dia sadar betul akan kelemahan fisiknya, namun psikisnya seolah menolak untuk menerimanya.
Dari 51 murid di kelas, berani taruhan, Nurilah yang paling sering memegang jabatan kepanitiaan acara kampus. Stempel seminarnya pun, terakhir kali saya tanyakan, sudah dua kali jumlah stempel seminar saya. Benar kata orang, semakin besar tembok keterbatasan seseorang, semakin besar pula rasa haus untuk memanjatnya.
âNuri nggak kira-kira,â seloroh saya suatu saat. âUdah tau gampang sakit, tetep aja jadi panitia ini-itu.â
Acara terakhir yang Nuri tangani adalah Cadenza, pentas musik pertama MBA ITB yang diadakan dengan gabungan tenaga mahasiswa entrepreneurship dan young professional. Tak tanggung-tanggung, dia memegang posisi sekretarisâpadahal saya yang segar bugar saja hanya menduduki posisi anggota divisi publikasi dan dokumentasi. Akhirnya di awal masa penggodokan acara, fisiknya menyerah. Hanya rapat pertama yang Nuri hadiri, sisanya ia hanya membantu via email.
Pada hari H, Nuri kembali menampakkan diri. Ia datang beberapa jam lebih awal dari saya (lebih tepatnya, saya yang datang terlalu sore) dan sudah lebih dulu membantu memasang dekorasi. Ketika ketua acara memanggil semua anggota untuk rapat koordinasi, Nuri dan saya tengah âmelarikan diriâ ke warung di Tamansari. Kami berdua melihat woro-woro sang ketua di grup Cadenza.
âNtar ah. Kalo aku telat makan lagi, bahaya. Harus minum obat, lagi,â cetusnya. Saya tidak menanggapi kata-katanya dengan serius, dan memasang wajah âya udah sih Nur, gue juga masih ngunyah leleâ.
Malam itu, Nuri hanya membantu menjaga meja penerima tamu sampai jam setengah 8 malam. Beberapa panitia, ditilik dari wajahnya, tampak kesal dengan kepulangan Nuri yang sangat awal. Acara baru mulai 30 menit.
Tapi, ah, siapa yang bisa menebak kalau itu akan menjadi kali terakhir mereka bertemu Nuri?
x
Satu setengah bulan lamanya saya tidak mengobrol dengan Nuri. Kalaupun ada, hanya sebatas sahut-menyahut di grup LINE angkatan.
âCepat sembuh Nuri, cepat kuliah lagi. Kalo udah sembuh jangan jadi panitia semua acara lagi.â Kira-kira begitu kalimat yang terakhir kali saya tujukan padanya, diamini oleh beberapa teman dengan sistem copy-paste,
âCepat sembuh Nuri, cepat kuliah lagi. Kalo udah sembuh jangan jadi panitia semua acara lagi. (1)
Cepat sembuh Nuri, cepat kuliah lagi. Kalo udah sembuh jangan jadi panitia semua acara lagi. (2)
Cepat sembuh Nuri, cepat kuliah lagi. Kalo udah sembuh jangan jadi panitia semua acara lagi. (3)â
x
Kemarin malam, saya kembali merasa rendah diri. Di banyak kesempatan, saya kerap membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Tak ingin kalah, namun selalu menemukan diri tengah kalahâdan kemarin ini terjadi lagi.
Baru saja saya melihat-lihat akun medsos seorang gadis. Gadis yang mantan kekasihnya adalah lelaki yang tengah menarik perhatian saya. Sedikit banyak, sebelum mulai melihat-lihat, secara tak sadar saya sudah membuat spekulasi ini-itu tentang gadis tersebutâmungkin orangnya begini, mungkin begitu. Kemudian saya membaca satu per satu hasil ketikan gadis itu, dan saya terpana.
Saya tidak semanis gadis itu. Tutur kata saya tidak selembut dia, pun pilihan kata kami jauh berbeda.
Saya tidak punya jiwa sosial setinggi gadis itu. Saya cenderung egois, kerap plin-plan, pun kadang terlalu banyak khawatir jika berhadapan dengan kesempatan bersosialisasi.
Saya tidak secerah gadis itu. Katakanlah, ia adalah epitom gadis anggun, lembut, menyenangkan yang punya banyak sahabat perempuan; sementara saya tipe orang membatasi jumlah orang di lingkaran pertemanan terdekat, saya jauh dari kata anggunâmungkin bahkan lebih condong pada karakter keras, dan tak ada yang bisa dibanggakan dari daftar prestasi saya yang minim.
Bertubi-tubi, saya menjelekkan diri saya sendiri dalam hati. Saya berusaha mengingat sisi baik saya, namun gagal, berkali-kali. Semakin saya mengingat gadis itu, semakin hilanglah keberanian saya untuk berkaca.
Jujur, saya kerap menangis tiap kali membandingkan diri dengan orang sekitar, namun saya pantang bercerita kepada siapapun. Toh tidak akan ada yang percayaâsetidaknya, tidak dengan eksterior saya yang seperti ini.
Keesokan harinya, datanglah berita duka tersebut. Kakak Nuri mengumumkannya di grup LINE angkatan dengan menggunakan akun Nuri. Saya membacanya sekali, dua kali. Saya nyaris berharap yang ditulis di sana adalah kerabat Nuri, mungkin orang tuanya, atau mungkin oom atau tantenya, namun ternyata yang terpampang di sana adalah nama Nuri sendiri.
Saya terdiam. Tiba-tiba terlintas semua ingatan tentang Nuri: tentang nasihat-nasihat tepat sasaran yang dilontarkannya di grup curhat cinta âKonsultasi Syariahâ (walaupun ia bilang ia belum pernah punya pacar); tentang kebingungannya kala mengetahui aku dan sahabatnya tengah menyukai laki-laki yang sama, yang menurutnya âsangat tidak layak untuk disukai, cara dia mendekati orang tuh sama sekali nggak kreatifâ; tentang ajakannya untuk menyanyi bersama, berkali-kali, namun sayangnya baru terlaksana sekali dan kami berdua tidak dalam kondisi fisik dan suara yang ideal; wajahnya yang sering mendadak keras dan memberengut kala mendengar penjelasan orang lain; bombardir stiker LINE yang bolak-balik menyalakan dering notifikasi ponselâŠ.
Saya terkesiap.
Nuri bukan orang paling berprestasi tinggi yang pernah saya temui, pun dia bukan pemilik usaha paling sukses di kelas. Bukan pula ia seorang yang mudah akrab dengan semua orang (walaupun dia memang ramah dan nada bicaranya sangat pelan mendayu-dayu), atau punya link yang bisa membuat semua orang melongo kok-elo-bisa-kenal-dia.
Nuri ya Nuri. Hanya dengan menjadi dirinya sendiri saja, Nuri bisa membuat seisi kelas rindu kala ia pergi. Dengan kekurangan dan kelebihannya, individu tiada dua bernama Nuri Annisa itu meninggalkan kenangan yang tak bisa digandakan atau direka ulang oleh orang lain. Dengan kesederhanaan dan semangatnya, Nuri yang orang biasa itu bisa membuat penulis malas seperti saya menghasilkan curahan hati sepanjang 1000 kata lebih dalam waktu singkat.
Setiap orang punya peran dan ladang amalnya sendiri. Jadi kenapa harus merasa rendah diri, Fadhila?
Misogini Rutin
Hari ini, seperti hari-hari lainnya, ada misogini rutin.
Segerombol orang berbaju warna cerah, kebanyakan putih, berkumpul di depan gedung pemerintahan. Nama Tuhan kerap mereka serukan, panji-panji Tuhan mereka junjung dan tamengkan.
Kepada sebaris aparat laki-laki, pria berkumis berjanggut di balik pengeras suara meneriakkan peringatan. Satu demi satu. Kalau kami mati, kami masuk surga; kalau kalian mati, kalian masuk neraka--karena kalian lindungi gubernur yang sekarang.
Lalu sang orator melanjutkan:
"Hei, Polwan! Kalian hidup dari uang rakyat, uang kami! Celana dalam kalian itu dari uang kami! Beha-beha kalian itu dari uang kami! Kalau tak ada kami, kalian semua akan telanjang!"
Nama Tuhan kembali mereka lafalkan.
Ah, di balik nama Tuhan ia berlindung, tapi baginya makna polisi wanita yang menjaga gerbang itu hanya sebatas soal pakaian dan ketelanjangan?
NOM!
Watercolor on paper Fadhila/everyday-escapade, 2014
Why 'Everyday Escapade'?
Ada beberapa hal yang tak bisa saya jelaskan dengan singkat dan padat; beberapa di antaranya adalah muasal nama panggilan Gigis dari teman-teman SMP saya dan nama pengguna pepperzee yang saya gunakan di berbagai situs media sosial. Tapi syukur alhamdulillah, kali ini saya punya penjelasan yang rapi jali untuk alamat 'Everyday Escapade'.
Saya pertama mendengar kata 'escapade' kala menonton acara komedi ikonik yang hmmm... sangat ikonik tentunya (apasih). Lebih dari dua dekade berlalu pasca pembuatannya namun popularitasnya masih bergaung hingga saat ini.
Tah ieu.
es-ca-pade /ËeskÉËpÄd/ (noun):Â act or incident involving excitement, daring, or adventure.
Kata orang, berpetualanglah, maka kamu akan bisa mengenali dirimu sendiri dan mengerti arti dari rasa syukur. Tanpa berharap mengikuti jejak Mr. Bean membius dokter giginya atau menonton TV tanpa busana akibat keanehan sinyal televisi (... walau saya cukup penasaran ingin punya fiat hijau + menyetir dari atas mobil dengan bantuan gagang tongkat pel), saya sangat ingin mengalami satu petualangan setiap harinya--tak peduli seberapa kecil.
Walau sesederhana menghapal jalan-jalan tikus di Bandung atau menghapal trayek-trayek angkot yang sama sekali tidak bersinggungan dengan jalan pulang.
Sesepele melepas diri dan mencoba hal-hal yang dilakukan teman-teman lelaki sekelas, dengan konsekuensi dipanggil 'Abang' sekalipun tiap hari berkerudung.
Se-yaudah-sih nongkrong galau berjam-jam bersama kertas dan pensil warna di taman kota atau Dago Pakar dan mengerling tajam tiap ada yang sembarangan mengepulkan asap rokok atau bakar-bakar sampah.
Atau se-"buang-waktu" menyempatkan menyetir tengah malam pasca kerja kelompok, mengekspresikan mental titisan supir angkot, keliling kota sambil menyetel radio K-Lite.
Pun di masa depan ingin bertualang dengan skala yang lebih besar, lebih impulsif, lebih absurd, lebih nol-rupiah... kalau sudah ada yang menjaga. Heu.
(Melantur)
Mari kembali permak foto produk untuk Pasar Seni.
Berkelana menyeberangi pulau seorang diri, tetiba merasakan gelisahnya jadi minoritas akibat berkerudung, nyaris diajak masuk pura, plus ditawari minum tuak sembari berjoget (juara banget ini). Rindu pangkat seratus!
Desa Seraya, Bali Timur Oktober 2013
Alis
Ida mengalami cekcok ringan (lagi) dengan temannya, dua hari yang lalu. Sang teman adalah orang yang kukuh dan cukup saklek, sementara Ida tidak saklek tapi kukuh. Katakanlah, sang teman tersebut sering mempertanyakan mengapa ateisme sampai ada padahal begitu mudah baginya untuk melihat tanda kebesaran Tuhan, sementara Ida memilih untuk berpikir bagaimana caranya agar saya bisa memahami konsep-konsep yang diamini para ateis tanpa merasa perlu setuju dengan mereka.
Kira-kira begitu.
Dua hari yang lalu itu, mereka berdiskusi soal penggunaan bulu mata palsu dan pencukuran alis dalam Islam dengan seorang teman penari. Si teman tersebut bertanya, tidak bolehkah pakai bulu mata palsu walau sebentar, hanya untuk saat naik panggung? Dalam tari-tari tradisional, umumnya wanita menggunakan dua tumpuk bulu mata palsu agar dari kejauhan pun kedipannya tampak.
Baru Ida menarik napas untuk menjawab, sang teman meluncurkan pendapatnya, "Tidak boleh!"
"Kenapa?" tanya si penari.
"Karena hukum menyambung rambut itu haram," ujarnya singkat.
Ida terdiam. Pada kenyataannya, ia kurang dapat menerima jawaban-jawaban yang langsung mematri label 'haram' tanpa memberi penjelasan, karena sepemahamannya, Islam adalah agama yang jika melarang atau menyuruh pasti ada alasan jelasnya.
"Setahuku sih karena dengan extension kita memperindah diri dengan sesuatu yang tidak alami, sementara di Islam kita diharapkan dapat bertahan dan bersyukur dengan penampilan alami yang diberi Allah--terutama kalau fisik tersebut dapat menunaikan fungsinya dengan baik."*
"Lalu kalau mencukur alis?" Tanya sang penari.
"Tidak boleh."
"Setahuku kalau sudah menikah diperbolehkan?"
"Kata siapa itu?" Sang teman bertanya balik. Ida bukan orang yang sensitif, tapi nada tajam sang teman itu amat terasa.
"Sepengetahuanku sih, ada yang bilang boleh." Pungkasku.
"Oh ya? Kenapa?"
"Pertimbangannya, dia berniat merapikan penampilan demi suaminya. Tentu bukan mencukur yang mengubah bentuk ya, lebih kepada merapikan."
Sang teman hanya diam, menatap lurus ke mata Ida.
"'Kan kubilang 'ada'--tidak lantas salah satu dituduh salah dan yang lain digadang-gadang karena benar. Agama 'kan soal menerima apa yang kita baca dan dengar kemudian mengkaji, apakah masuk akal dan berguna atau tidak. Tafsir dari ahli agama saja ada ratusan, bagaimana caranya kita menentukan mana yang paling benar? Kita tidak pegang kunci jawaban."
Sang teman masih membisu, beranjak sembari membereskan peralatannya.
"Aku perlu tanya ayahku dulu."
Ida manggut-manggut. Ingin ia berseloroh, apalah guna anugrah otak jika kita tidak memfungsikannya dalam bertanya dan memahami agama? Tapi Ida tahu itu hanya akan memperkeruh masalah. Maka ia diam, sembari tak sadar mengusap kelopak atas matanya yang tadi pagi baru dibersihkan dari rambut-rambut dua milimeter.
Ida masih lajang.
Kriteria
Kemarin dulu, ada teman yang pernah tanya,
"Emang kamu cari yang seperti apa sih, kok bisa jombs 12 tahun?"
Waktu itu benar-benar tidak sempat memikirkan apaaa gitu jawaban yang ciamik apik kemripik, akhirnya memberi jawaban standar, "Soleh, ngobrolnya nyambung, punya passion dan bekerja keras untuk itu, plus tentunya menerima apa adanya.*"
* Saking standarnya sampai berhak masuk kolom cari jodoh koran-koran lokal.
Sudah beberapa bulan berselang. Sudah sangat kadaluarsa untuk memberi tambahan jawaban kepada yang bersangkutan agar ia tak klise adanya. Maka dari itu, saya akan memberi revisi di sini saja. Pokoknya, ngotot. Blog aing!
Saya mencari tandingan.
Lelaki yang bisa menandingi semangat bermain saya. Lelaki yang bisa menandingi rasa keingintahuan saya. Lelaki yang bisa diajak bertukar cerita, entah itu saling bantu mendalami esensi hidup, atau sekedar tertawa bersama mendiskusikan cendol tadi siang dan lalat berenangnya.
Lelaki yang berani bermimpi dan berani mewujudkannya. Lelaki yang selalu bersyukur tentang hal sekecil apapun, dan bersyukur sudah dipertemukan dengan saya--apapun hasilnya kelak.
Intinya, lelaki yang menggenapkan proses belajar saya tentang hidup (dan pasca-hidup).
Jenis langka sih, tapi inshaa Allah bertemu.
Faith!
Jadi...
Halo!
Saya gadis pindahan dari tumblr bertajuk 'pepperzee'. Alasan kepindahan saya amat mendasar: saya lupa kata kunci, dan saya pun sudah lama tak bisa buka kotak surat elektronik saya karena... lupa kata kunci. Padahal tadi saya sudah ketik tiga paragraf surat cinta untuk laman-laman lawas saya.
(keluh)
Untuk menghindari kemubaziran, saya akan tulis di sini. Pokoknya, ngotot.
Sudah lima tahun lebih saya memelihara tumblr iniâtumblr âanything?â yang lebih sering saya tinggalkan daripada saya singgahi. Lucunya, saya kerap kali kembali pada laman-laman lawas ini dan mengunggah sesuatu kala saya jatuh cinta atau patah hati. Saya masih bisa mengidentifikasikan unggahan mana untuk lelaki mana, lho, haha!
Entah kenapa saya merasakan keterikatan tidak mengikat dengan blog ini. Samar, namun ada. Berkali-kali saya membuat laman baru dengan alasan-alasan absurd. Ingin punya alamat blog yang lebih manis lah, ingin berpindah platform lah (padahal kalau orangnya tetap saya, tetap seorang penulis malas, âkan sama saja ya?)... tapi pada akhirnya, saya selalu kembali ke sini, ke blog yang kalau dirogoh sampai bawaaah sekali, akan muncul foto tugas saya kala tingkat satu seni rupa.
Rasanya seperti pulang ke rumah yang dihuni saat kecil. Usang, kecil, jauh dari pusat kota, tapi selalu memikat dengan kenangan-kenangan sederhananya. Masa-masa ketika semuanya begitu polos, begitu lugas, begitu alay, begitu gila-gue-dulu-kaya-gitu-naudzubillahimindzalik. Beberapa tulisan pun sudah saya hapus karena dinilai amat merusak curriculum vitae citra diri dan kejiwaan.
Yah. Dengan ini, saya haturkan salam kembali kepada âanything?â! Halo, tumblr pertamaku, kali ini pun aku jatuh cinta.
(Lagi!)
Amboi, kece nian!
Tentu akan lebih kece kalau saya berhasil tulis semua ini di laman lama saya. Kalau ditulis di sini, kesan bodoh dan mirisnya begitu terasa...
 (keluh) (2)