Ajarilah anak-anakmu sastra, karena sastra membuat anak yang pengecut menjadi jujur dan pemberani
Pada momen ini saya ingin berterima kasih kepada bapak saya. Dialah yang menjadi pintu gerbang kecintaan saya terhadap buku, karya sastra, dan membangun budaya dialektika sejak saya balita. Yes, balita !
Saat itu saya berusia 4-5 tahun. Nakal. Nakal sekali. Hiperaktif. Suka menggigit orang, menimpuk teman sebaya dengan kerikil, dan mendorong anak yang lebih kecil ke saluran comberan. Jahat dan nakal Mungkin kalau saya yang jadi bapak saya kala itu, udah malu setengah mati nggak mau bergaul dengan tetangga.
Untungnya bapak saya rasional, solutif, pandai bergaul. Ya, untuk kejadian nakal dan zhalim yang saya lakukan, saya harus meminta maaf langsung ke anak tersebut. Menghadapi dan merasakan sendiri buncahan malu, gengsi, dan merasa bersalah. Supaya kapok dan belajar beretika. Ya, saya mendatangi teman saya itu dan meminta maaf atas kezhaliman saya. Bapak saya tidak mau ikut-ikutan menyelesaikan kesalahan saya, biarkan saja saya bertanggung jawab sendiri.
Tapi bukan itu yang membuat saya berubah. Saya tetap memiliki sifat bandel itu sampai sekarang, dengan pelampiasan nggak mau diatur kalau nggak dilarang agama dan hukum konstitusi perdamaian dunia. Lalu apa yang dilakukan bapak saya untuk mengatasi kebandelan itu?
Beliau mendongeng. Setiap malam, sebelum tidur, ia bercerita dengan khayalannya sendiri. Ya, saya anak pertama yang merasakan perjuangan ekonomi keluarga dari bawah. Saya baru ngeuh kalau di kala itu, orangtua saya belum sanggup membelikan buku cerita kece dan bagus seperti zaman sekarang. Mahal banget kala itu. Alhasil bapak saya mengakalinya dengan bercerita dengan imajinasinya. Topiknya adalah keseharian saya dengan tokoh hewan-hewan yang sudah saya kenal (misalnya bebek dan ayam) dan orang-orang yang saya kenal (misal teman di komplek dan saudara sepupu).
Misalnya , suatu saat, saya tengah memasuki masa GTM, nggak doyan makan. Bapak saya bercerita tentang bebek yang hanya mau makan nasi dengan kecap (ya namanya juga ngayal), sehingga tidak bisa tumbuh dengan baik dan tidak bisa berenang. Hasilnya? saya tetep nggak mau makan sih. Tapi selama seminggu setelahnya semangat makan saya lebih baik (saya takut seperti si tokoh bebek itu).
Di lain waktu, saya nggak nurut dengan ibu saya. Maka malamnya bapak saya bercerita tentang bebek yang nakal membuat ibunya menangis dan akibatnya si bebek nyasar nggak tahu jalan pulang, akibat nggak nurut dengan ibu bebek. Hasilnya? Saya tetep bandel, dengan porsi yang jauh berkurang. (Ingat, saya emang bandel dari bayi, jadi yaudah terima aja).
Ketika saya menginjak usia 10 tahun, level dongengnya pun bukan lagi tentang bebek dan ibu bebek. Tapi tentang perjuangan organisasinya ketika aktif di Kepemudaan Muhammadiyah, sepak terjangnya, gagasan kepemimpinan yang ideal, dan penggambaran citra teladan. Pun cerita tentang eyang buyut saya yang ikut berjuang bersama KH. Ahmad Dahlan di awal pembentukan Muhammadiyah, membangun rumah sakit PKU. Cerita tentang perjuangan hidupnya saat harus berjualan roti sambil melanjutkan sekolah SMA. Dan berbagai cerita heroik lainnya.
Cerita lainnya yang berkesan adalah ketika saya mulai menunjukkan minat terhadap geografi dan bertanya tentang negara-negara maju, Ia menjawab, negara tersebut maju karena orang-orangnya mau terus belajar dan pantang menyerah bekerja keras. Kerja keras itu mahluk apa pula saya pun tak mengerti di usia itu (8-9 tahun).
Di usia 7-10 tahun, saya mendapat tantangan menyeselesaikan majalah anak-anak bergambar kelinci biru dalam seminggu. Karena saat itu bapak saya memfasilitasi saya untuk berlangganan majalah itu setiap pekan. Meskipun awalnya saya hanya mampu membaca cerita bergambar, namun akhirnya saya bisa menghabiskan majalah itu kurang dari seminggu. Bahkan saya sempat mengalamai sakau karena kekurangan bahan bacaan.
Di usia 10-14 tahun, saya sering berantem sama bapak saya di toko buku karena sangat sering minta dibelikan banyak buku, setidaknya 5-10 buku per bulan. Bapak saya mengomel, “ngapain sih kamu beli banyak banget buku ini”. Saya cuma jawab “bagus..” hahahah.. dan berakhir di kasir dengan saya sebagai pemenangnya. Well, efek lainnya, saya ketagihan puisi dan pernah menjuarai beberapa lomba puisi saat SMP.
Di usia 14-20 tahun. Saya sering berdebat dengan ibu saya dan berdiskusi dengan bapak saya. Berbeda dengan bapak saya yang suka membaca, ibu saya cenderung kurang budaya literasinya. Sehingga saya sering berdebat dan membantah beliau untuk hal-hal yang bertentangan dengan saya kala itu. Dari perdebatan itu, bapak saya mengimbanginya berdiskusi. Beliau mendengarkan apa pendapat saya, apa dasar pemikiran saya, dan bertanya kenapa saya berbuat demikian. Setelah selesai mendengarkan, kemudian ia bercerita tentang pentingnya sifat moderat, memberikan solusi jalan tengah, dan berpesan agar saya bersikap lebih toleran.
Di usia 20 tahun. Saya baru memahami dan berterima kasih atas dongeng-dongeng imajiner yang disampaikan bapak saya setiap malam. Saya juga berterima kasih untuk diskusi dan suasana tukar pikiran yang terbuka. Saya bisa menyampaikan keinginan dan cita-cita saya, rencana hidup saya, dan ketidak setujuan terhadap suatu isu dengan santai. Karena budaya diskusi dan terbuka sudah ditanamkan, berbeda pendapat bukan berarti saya durhaka. Saya santai saja menyampikan opini atau ketidak sukaan atas kebiasaan buruk mereka atau keukeuh dengan keputusan saya, tanpa khawatir dianggap durhaka. Karena mereka membiasakana saya untuk menyampaikannya dengan cara yang sopan.
Di Hari Dongeng Sedunia ini, saya ingin berterima kasih kepada bapak saya. Pertama, saya merasa memiliki contoh dan bibit yang baik sebagai modal untuk menumbuhkan minat literasi saya. Kedua, saya tidak mudah terpancing dengan berita hoax, gosip receh, dan tidak terpengaruh budaya klik and share sebelum dicek kebenarannya. Ketiga, saya tetap dihargai dengan kejujuran dan keberanian saya menyampaikan pendapat. Keempat, saya memiliki motivasi untuk belajar dan bekerja keras supaya bisa jadi negara maju (?). Nope, supaya bisa ikut memajukan Indonesia :)
Bapak saya adalah contoh nyata, bahwa budaya literasi dan pendidikan anak bisa dimulai dari keterbatasan. Dimulai dari niat, dijalankan dengan konsistensi, tanpa excuse (sibuk, capek, daaaaaann lain lain). Serius deh, lebih capek melihat manusia berusia dewasa yang tidak berkarakter daripada meladeni celotehan anak-anak dan mendongeng tiap malam