Kau tahu hal apa yang ku mulai mengerti sekarang ini? Masih tentang cinta sebenarnya, hanya saja ini baru ku mengerti. kau tahu, terkadang ada dua orang yang saling mencintai satu sama lain, tapi mereka tidak saling jatuh cinta. seperti halnya Potter dan Harmione yang sama-sama saling mencintai, Potter mencintai Hermione, begitupun Hermione yang mencintai Potter, tapi tetap saja mereka tidak saling jatuh cinta.
tahu kenapa terkadang orang-orang lebih memilih untuk berada pada posisi saling mencintai tanpa ditemani oleh embel-embel saling jatuh cinta? karena mereka sadar, cinta itu luas, tidak sebatas aku dan kamu, lalu harus saling memiliki, saling mengikat, sekali lagi, Cinta itu tak sesempit itu
terkadang aku mulai berfikir bahwasannya barangkali saling mencintailah rasa yang paling sempurna, bukan saling jatuh cinta, karena kau tahu? jatuh cinta tak selalu membawa mu pada bahagia, justru saling mencintai itu yang membuat mu bahagia, bukan hanya kamu ataupun dia, tapi semuanya bahagia
acap kali orang yang memutuskan untuk jatuh cinta harus mempersiapkan diri mereka jika sewaktu-waktu hati mereka jatuh dengan buruk, tapi memilih mencintai, kamu tak punya alasan untuk tidak bahagia, kamu tidak punya alasan untuk tersakiti
Rahim adalah wadah tempat bertumbuh dan berkembangnya janin sebelum dilahirkan di dunia. Ar-rahim, adalah salah satu sifat Allah yang berarti Maha Penyayang. Jika menghubungkan keduanya, berarti janin bayi terselubung dalam wadah kasih sayang. Dan sudah seharusnya seorang anak diberikan kasih sayang sejak dalam rahim hingga ia terlahir. Namun ada satu hal yang saya sayangkan dari banyak orang tua yaitu masih banyak orang tua yang bersikap superior dan menganggap anak ya anak, orang tua ya orang tua. Bukannya lebih baik orang tua dan anak seperti sahabat namun tetap saling menghormati?
Sering sekali melihat orang tua memarahi anaknya atau mungkin menasehati anak atau memberi tahu sesuatu dengan nada yang tinggi. Haruskah demikian? Saya rasa sikap demikian tidak seharusnya.
Beberapa hari yang lalu seorang ibu bertanya di grup komunitas yang kami ikuti. Beliau bilang kalau beliau telah mencoba menerapkan komunikasi produktif kepada anaknya dengan nada yang lembut. Tapi ternyata anaknya tetap tidak menggubris. Selang sekian waktu diskusi berlangsung, saya menemukan jawabannya bahwa anaknya tidak menggubris orang tuanya karena si anak biasanya dinasehati dengan nada tinggi.
Saya baru tahu jika orang tua terlalu sering menasihati atau memberitahu sesuatu kepada anak dengan nada yang tinggi, lalu suatu kali orang tua menasehati anak dengan nada yang lembut. Si anak tidak bisa langsung menggubris dan menanggapi dengan baik. Karena pikir si anak, kalau ibu belum marah berarti belum dikasi tau.
Dari sini saya berkesimpulan bahwa berkasih sayang dengan anak melalui tutur kata yang lemah lembut harus di terapkan sejak dalam rahim. Kata seorang teman bahwa anak dan ibu memiliki ikatan yang sangat kuat sejak dalam rahim. Ibu dianjurkan untuk tidak berbicara dengan nada tinggi dan marah-marah karena akan mempengaruhi psikologis janin. Selain itu dalam berkomunikasi produktif tidak hanya sekedar tugas orang tua, namun perlu untuk bekerja sama dengan anggota keluarga yang lain agar tumbuh kembangnya bagus.
Pernah suatu kali saya melihat, anak bungsu ibu kos saya mau naik ke lantai 2 untuk bermain dengan anak-anak kos. Si anak minta ijin dengan nada yang manis dan tingkah yang lucu, tapi ibunya malah merespon si anak dengan nada yang tinggi sambil marah2 “ ojok! Ojok munggah on. Tak jiwit engkok awakmu” (Jangan! Jangan naik kamu tuh. Tak cubit nih entar). Lalu respon si anak malah balik marah-marah sambil menghentak-hentakkan kakinya. Tidak hanya itu, si anak juga mengeluarkan pernyataan yang menurut tangkapan saya kalau si anak tersebut mencoba berbohong agar diijinkan untuk naik.
Allah telah memberikan setiap manusia sifat berkasih sayang dalam dirinya. Berarti, dalam menunjukkan rasa kasih sayang orang tua ke anak tidak hanya ditunjukkan dari memberikan anak barang-barang yang dia suka atau apalah, tapi juga dari sikap dan tutur kata yang baik. Orang tua adalah guru utama anak. Hal ini berarti orang tua harus bisa menjadi contoh terbaik seorang anak. Orang tua tidak selayaknya untuk bersikap superior kepada anaknya. Akan lebih baik jika anak dan orang tua selayaknya sahabat namun tetap saling menghormati (begitu kata di buku-buku).
Anak belum merasakan jadi orang tua, tapi orang tua pernah merasakan jadi anak kan? Berarti tau dong rasanya seperti apa dimarahi dan kita tidak suka jika dimarahi oleh orang tua. Jadi belajarlah dari pengalaman menjadi anak.
Nah, jelas sudah bahwa tumbuh kembang anak sangat di pengaruhi oleh peran serta orang tuanya. Menjadi orang tua tidak gampang, tapi bukan berarti kita menganggapnya susah. It’s a challenge! Saya memang belum menikah dan bukannya mau sok-sok an expert tentang parenting dan lain sebagainya. Tapi, belajar parenting sebelum menikah itu penting, walaupun praktiknya nanti tidak gampang. Kalau gampang mah bukan tantangan lagi namanya.
Dalam QS. Al-Ahzab (59) : Juz 22 Allah menyerukan agar setiap wanita muslim untuk menggunakan jilbab.
Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka“. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
Sedangkan mengenai kerudung, dalam QS. An-Nur (31) : Juz 18 Allah berfirman :
Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memilihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang biasa terlihat. Dan hendaklah mereka menutup kain kerudung ke dadanya,....
Jadi sebenarnya jilbab adalah pakaian yang menutupi seluruh tubuh yang juga termasuk kain penutup kepalanya. Sedangkan kerudung adalah penutup kepala yang harusnya dijulurkan hingga menutupi dada. Dan sebagian besar ulama memfatwakan yang boleh terlihat adalah wajah dan kedua telapak tangan. Jadi dapat disimpulkan bahwa orang yang berjilbab sudah pasti berkerudung, tapi orang yang berkerudung belum tentu berjilbab.
Kenapa Seorang Muslimah yang Sudah Aqil Baliq Wajib Mengenakan Jilbab?
Dari kedua surah tersebut sebenarnya sudah sangat jelas sih kenapa seorang muslimah yang sudah aqil baliq harus mengenakan jilbab. Jilbab selain menjadi identitas juga menjadi tameng seorang muslimah agar tidak diganggu entah oleh manusia, jin, setan (kali!).
Tapi memang akan lebih baik jika seorang muslimah mengenakan jilbab karena itu adalah salah satu cara untuk menjaga diri dari segala bentuk gangguan. Yang namanya cowok kalo udah liat cewek body montok sekalipun pakaian yang digunakan si cewek udah nutupin semua badannya. Tapi kalo baju yang kita gunakan sangat ngetat yang menonjolkan bentuk badan kita, ya tetep aja sih bikin si cowok jadi meler-meler. Memang nggak semua cowok akan demikian, tapi pasti ada.
Oleh karenanya, penting bagi kita wanita untuk menjaga diri kita dengan mengenakan jilbab.
Tapi yang namanya manusia, cewek apalagi pasti memiliki keinginan untuk menunjukkan keindahan tubuhnya. Kita tau sih kalau hal tersebut akan lebih baik jika tidak dilakukan. Namun, gimana yah? Namanya juga kehidupan modern menyebabkan banyak wanita muslimah enggan untuk mengenakan jilbab atau hanya sekedar mengenakan kerudung.
Kita tidak boleh menyalahkannya dan atau mengatakan kepadanya bahwa ia akan menjadi penghuni neraka jika tidak menutup auratnya dengan baik. Karena menurut saya, untuk mengajak seseorang menutup auratnya tidak boleh dengan cara yang demikian. Namun kitalah –yang telah mengenakan jilbab- menunjukkan melalui sikap kita bahwa mengenakan jilbab itu sangat menyenangkan dan bahkan bisa melakukan banyak hal –dalam batas tertentu- tanpa halangan. Biarkan mereka berproses dan menemukan kebenaran dengan cara autentiknya sendiri. Kalo kata Cak Nun sih begitu.
Bagaimana Seharusnya Mengenakan Jilbab dan Kerudung yang Benar?
Yang pasti kita harus mengenakan pakaian yang longgar, tidak menonjolkan bentuk badan, dan tidak transparan. Tapi fakta di lapangan menunjukkan bahwa buanyak buanget wanita muslim diluar sana yang masih belum menutup auratnya dan masih dalam tahap berkerudung, belum berjilbab (termasuk saya!). Walaupun sekarang saya sudah pakai rok, kadang gamis dan alhamdulillah kerudungnya udah agak besar. Tapi saya masih belum yakin apakah saya sudah menutup aurat saya dengan baik atau belum?
Tapi bagi saya pribadi, yang penting itu kita terus berproses dan berprogress untuk mencari makna jilbab itu sendiri dan mengenakannya dengan baik. Kita tidak perlu menghujat atau menyampaikan nasihat kepada wanita muslim yang belum menutup auratnya secara syar’i dengan cara yang kurang mengena di hatinya. Biarlah mereka menemukan sendiri bagaimana seharusnya berjilbab melalui kesadarannya sendiri.
Untuk istiqomah itu memang nggak gampang karena masih banyak kok yang pake kerudung terus dicopot. Terus ada juga yang udah pake gamis+kerudung gede karena waktu itu lagi trend, terus sekarang balik lagi pake kerudung yang lebih kecil dan pake legging. Saya tidak membenarkan apa yang dilakukannya tapi juga tidak berhak menyalahinya karena mereka memiliki kesempatan untuk menemukan hakikat berjilbab yang sesungguhnya. Asal ia mau mencari sih.
Bagaimanapun caramu berpakaian, pastikan hal itu adalah dengan cara yang takwa sebagai bentuk ketaatan kita kepada Allah. Jangan sampai niat kita untuk menutup aurat adalah untuk mencari perhatian dan pujian dari manusia. Tapi seharusnya adalah untuk menjadi insan yang taat kepada perintah Allah.
Perkara ingin terlihat tetap modis dan trendy dengan menggunakan jilbab dan atau kerudung atau ingin terlihat yang biasa-biasa saja. Itu adalah urusan masing-masing dan sesuai niat masing-masing. Your appearance is your own bussines, as long as you are responsible of it.
Yuk kita terus berproses dan berprogres dengan menggunakan pakaian yang takwa. Saya menulis seperti ini bukan berarti saya sudah baik dan sudah berpakaian dengan benar. Tapi saya hanya berusaha untuk mengajak agar bersama-sama menjaga perhiasan kita dengan baik dan seharusnya sesuai dengan perintah Allah.
Orang orang yang merindu, namun tetap menjaga kehormatan perasaannya, takut sekali berbuat dosa, memilih senyap, terus memperbaiki diri hingga waktu memberikan kabar baik, boleh jadi doa doanya menguntai tangga yang indah hingga ke langit. Kalau pun tidak dengan yang dirindukan, boleh jadi diganti yang lebih baik