Mengalah, Bukanlah Berarti Kalah
Setegar dan sekuat apapun perempuan, apabila dihadapkan dengan permasalahan hati, pasti akan rapuh juga. Peka dan memiliki ketajaman perasaan seperti sudah kodrat sebagai wanita untuk memilikinya. Wajar ketika hati tengah lengah, perempuan mudah menjadi rapuh dalam menghadapinya. Mengelola perasaan menjadi kunci agar tidak tenggelam dalam permasalahan.
Pernah suatu ketika, menemukan sebuah cerita. Kisah dua orang sahabat yang selalu membagikan kisah suka maupun duka. Sebut saja Fatya dan Via. Fatya dan Via telah lama dekat, saling berbagi bahkan saling mendukung hal-hal yang tengah dilakukan keduanya. Suatu ketika, mereka pernah berjanji untuk selalu mengungkapkan langsung bila menemukan hal yang tidak disukai, maupun kesalahan yang dibuat secara sengaja maupun tidak.
Suatu ketika, Fatya pernah menceritakan kekagumannya terhadap seseorang. Sebagai sahabat, Via tentu mendukungnya penuh dan siap siaga menjadi teman cerita Fatya. Keduanya saling mengenal sosok laki-laki yang dikagumi oleh Fatya, sebut saja Dio. Namun, keadaan berbanding terbalik dengan harapan. Dio, sosok laki-laki yang dikagumi oleh Fatya rupa-rupanya memendam perasaan pada Via. Tidak dapat dipungkiri Via memang tipikal peremuan yang menarik, menguasai beberapa kemampuan seperti menjadi teman cerita yang baik, memasak hingga urusan rumah tangga lainnya.
Fakta itupun telah sampai pada telinga Fatya. Fatya memilih mengesampingkan kabar tersebut dan tetap berpikir positif kepada Via. Namun, situasi yang berbicara. Fatya selalu dihadapkan pada fakta bahwa Dio dan Via semakin dekat setiap harinya tanpa melibatkan Fatya. Mereka memang teman, sama seperti fatya dengan teman-teman lainnya. Teman-teman lain pun mengatakan bahwa Dio dan Via, bukan hanya sekedar teman biasa, tetapi juga melibatkan perasaan diantara keduanya.
“kamu percaya aku kan , Ya? Enggaklah, semua aku anggap temen, nggak mungkinlah” jawab Via ketika Fatya mengonfirmasinya.
“tapi emang kayaknya Dio ada rasa sih Vi, sama kamu” ungkap Fatya.
“Yaampun Fatya, udah nggak usah mikir aneh-aneh. Aku sama Dio tu beneran Cuma temenan kok. Lagian kenapa sih Cuma temenan lagi-lagi diomongin sama yang lain? kamu tetap percaya aku kan, Ya?” jawab Via mengklarifikasi.
Fatya mengangguk dan tersenyum kemudian saling berpelukan dengan Via.
Fatya masih memendam perasaan kagum terhadap Dio. Semakin Fatya menyimpannya, semakin ia sering dihadapkan bahwa Via dan Dio semakin akrab. Tidak disadari, perasaan cemburu pun hadir, namun Fatya segera menepisnya. Fatya masih tetap percaya pada Via, meskipun mereka jarang bertemu belakangan ini. Hingga suatu ketika, Dio menghampiri Fatya dan mengajaknya berbicara.
“Fatya, lagi sibuk nggak? Ada sesuatu yang mau aku bicarain nih” ungkap Dio.
“Eh, Dio. Enggak kok. Boleh, emang ada apa?” jawab fatya dengan senang.
Pembicaraan siang itu menegaskan keadaan yang selama ini diduga. Bukan kabar baik seperti yang diharapkan bahwa kekagumannya berbalas, namun sebaliknya. Dio bercerita tentang Via, dan mengenal Via lebih dalam melalui sahabatnya, untuk memberikan kejutan kepada Via.
Jatuh dan retak, seketika menjadi rapuh.
Tak terasa bulir air mata menetes ketika Fatya merenungi dalam kesendiriannya. Perasaanya penuh dengan kekecewaan, sedih dan rapuh. Seketika patah, hingga retak menjadi rapuh serapuh-rapuhnya. Hari itu, Fatya bergelut tentang segala kesedihan hatinya, kekecewaan dan kesendirian.
Hari berikutnya, Fatya hang out bersama Via, bersikap seperti biasa seperti tak ada yang telah terjadi. Hingga sampai pada suatu situasi
“Vi ... kali ini aku memutuskan untuk elepaskan dan merelakan” ucap Fatya sembari tersenyum pada Via.
“Dio maksud kamu, Ya? Loh kenapa, Ya? Apa karena anak-anak lain ngomongin sesuatu lagi?”
“enggak Vi. Mereka nggak ngegosip aneh-aneh kok. Justru aku yang dah dapet faktanya langsung. Salah rasanya bila aku terus menerus menyimpan perasaan. Aku nggak mau jadi penghalang juga. Lagian buat apa kan, suka ama orang yang dia sendiri nggak suka sama kita. Mendingan direlakan terus kita semua berhak bahagia dengan jalan masing-masing” jelas Fatya yang kemudian tersenyum kembali.
“Ya... Maksud kamu gimana...” ucap Via sembari memandang Fatya.
Fatya tersenyum kemudian menggenggam tangan Via “Vi... Dio itu kagumnya sama kamu. Aku tahu kok kalau kamu pun sebenarnya tahu. Cuma kamu nggak ungkapin aja, mungkin nggak enak sama aku. Aku rasa kamu punya rasa yang sama kan. hayoo ngaku. hihihi” jelas Fatya yang mencoba menyelinginya dengan bercanda.
Via malah terdiam dan memandang haru sahabatnya itu “Fatya ....terus, terus perasaan kamu gimana sekarang?”
“hmmm... awalnya sih patah hati wajar ya, itu pasti. Sempet nangis, penuh kekecewaan juga, ngerasa kenapa Tuhan nggak ngasih keberuntungan aku dalam masalah hati. Tapi, kemudian aku peluk semua perasaan itu. Mungkin emang belum jalannya aja, dan perlahan mulai menerima aja. Udaaah.. yaampun jangan khawatirin aku. Aku tu nggak papa hehehe” ungkap Fatya.
“Fatyaaaa...” Via kemudian memeluk Fatya dengan haru.
Merelakan. Memeluk semua rasa sakit, dan membiarkannya sejenak tenggelam dalam kesedihan dan kekecewaan. Sejenak kemudian, menyadari dan bangkit, memercayai bahwa pasti ada jalan yang indah dihadapannya nanti. Memang bukan hal mudah memeluk semua perasaan yang berkecamuk, namun tidak baik juga bila membiarkannya terus berlarut dan menimbulkan kebencian, yang sesungguhnya entah bermuara kepada siapa. Tidak ada yang salah. Mengagumi itu fitrah, dan harus juga siap untuk merelakan.
Sejenak kemudian Fatya menyadari, bahwa ia tak boleh berharap pada makhluknya. Berharap hanya pada sang pencipta. Fatya menyadari mungkin ini memang bukan jalan yang baik untuknya. Fatya mungkin harus lebih fokus dalam meraih cita. Tuhan mungkin memang sengaja menyelipkan perasaan. Agar makhluknya mempelajari keadaan dan mendapatkan pelajaran berharga. Melepaskan, merelakan, mengalah. Bukan berarti dengan itu kita menjadi kalah. Namun, sebuah proses menuju sebuah kedewasaan.
Bantul, saat dinginnya tengah malam.