I Never Told You "Opport"
Sudah dua tahun aku duduk di meja ini memperhatikanmu berjalan, berbicara, menyapa bahkan sesekali melakukan hal bodoh. Aku tahu kamu selalu menyenangkan.
Ini semua hanya sepenggal ungkapan perihal perasaan yang tidak tersampaikan. Seperti ekor cicak yang lepas dari tubuhnya kemudian jatuh ke lantai. Hidupku terbalut kamuflase pedih, airmata kekalahan dan kemunafikan yang terus tumbuh menjulang tinggi menjelma menjadi kecemburuan. Aku terlalu posesif dengan menganggapmu benar-benar akan bisa duduk disampingku membicarakan masa dimana nantinya hanya ada aku dan kamu. Saling ada untuk menemani, melengkapi dan memberi. Semua ini sungguh melelahkan.
Imajinasi menjadi tempatku membuat segalanya menjadi nyata, mulai dari menyapamu, memelukmu, atau bahkan menciummu. Sangat menyenangkan berada dalam dunia imajinasiku, kapan-kapan aku ingin kamu yang benar-benar ada di dunia nyata bisa mampir ke dunia imajinasiku, merasakannya sendiri tanpa ada orang lain yang menyerangmu dengan opini mereka yang baunya busuk. Aku tidak mau tubuhmu itu dipenuhi kotoran-kotoran semacam itu.
Terkadang ketika dia berkata "sudahlah" aku hanya bisa melepaskannya melalui udara dari lubang hidungku dengan perlahan dan dalam. Terasa ringan sesaat, sering aku sesali karena bukan kamu yang bertanya, "kamu kenapa?".