Resume Talkshow “Bincang Keluarga Sebelum Berkeluarga, Why Not?”
Alhamdulillah sabtu lalu berkesempatan buat belajar bareng di acara ini.Tapi baru semalam bisa menuntaskan resumenya. Resume ini juga saya tambah sedikit penghayatan dari ilmu-ilmu tersebut. Semoga menginspirasi teman-teman untuk menyiapkan diri untuk berkeluarga kelak ya!
****
Akan ada lebih banyak peran yang kita jalani setelah berkeluarga, tapi agar bisa menjalani semua itu dengan semangat muaranya hanya satu: menjadi sebaik-baik hamba-Nya. Karena pada akhirnya kita sendiri yang akan bertanggung jawab atas amanah yang telah Allah sematkan sejak diri ini dihadirkan ke muka bumi.
Menjalani peran sebagai istri/suami, orang tua, dan peran-peran lainnya juga sejatinya adalah bagian pelengkap untuk puzzle kehidupan kita sebagai hamba Allah. Dengan begitu, harusnya dari setiap peran yang kita jalani tidaklah saling berbenturan satu sama lain karena kehadirannya akan saling melengkapi.
Pendidikan keluarga menjadi penting agar kelak kita bisa mendidik anak hingga ia bisa mandiri mengetahui misi spesifik dalam hidupnya. Spesifik sesuai dengan karakter unik dalam setiap diri anak. Serta paham apa tujuan akhir dari kehidupan yang hendak ia dicapai.
Lalu bekal apa yang diperlukan untuk berkeluarga kelak?
1. Siapkan ilmu.
Zaman telah berubah, cara untuk kita mendidik anak pun akan berubah. Kita tidak bisa lagi mengikuti cara orang tua mendidik kita, karena tantangan hari ini kian berat. Malah, saat ini kita seakan melakukan dosa "berjamaah" karena sejak dulu terlalu mengedepankan pendidikan untuk meningkatkan intelegensi anak, namun lupa untuk mengembangkan kecerdasan emosionalnya. Sehingga kini tumbuhlah anak-anak yang tidak mampu mengelola emosi dengan baik. Kelak, saat kita jadi orang tua jangan sampai seperti itu. Bagaimana caranya? Teruslah belajar sepanjang hayat.
2. Memahami peran dan konsekuensinya.
Peran apa saja yang akan kita jalani pasca menikah? Jadi suami/istri, orang tua, menantu, apa lagi? Tentunya akan lebih banyak lagi. Pahami seperti apa hak dan kewajiban serta konsekuensinya. Pengasuhan anak bukan cuman tugas ibu, tapi juga tugas ayah.
3. Mengenal dan upgrade diri.
Selagi belum nikah, kenali diri. Kita bisa menggunakan konsep ikigai. Cari tahu keunikan diri, potensi diri, passion, hal yang kita sukai, misi hidup, dll. Upgrade diri kita agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Hal ini akan memudahkan kita dalam menjalani hidup berkeluarga kelak.
4. Meningkatkan kemampuan problem solving.
Saat berkeluarga, pasti ada konflik-konflik yang kita temui dan disaat inilah akan sangat diperlukan kemampuan problem solving yang baik. Karena kalau tidak, masalah kecil saja bisa dibesar-besarkan, pun sebaliknya. Belajarlah dari sekarang (sebelum nikah), agar setelah nikah nanti bisa lebih baik dalam memecahkan masalah.
5. Dekatkan diri pada Allah.
Segala hal yang kita lewati di dunia ini takkan menjadi lebih mudah jika tanpa bantuan Allah, termasuk saat menjalani hidup berkeluarga. Dekatkan diri pada Allah, minta bimbingan-Nya agar kita dapat mendidik anak dengan baik, serta agar Allah memampukan diri kita untuk melalui segala ujian-Nya.
Jika hari ini Allah belum memberi pasangan atau anak, itu mungkin pertanda Allah masih memberi kita waktu lebih banyak untuk mempersiapkan diri. Bukan masalah menikah muda atau tua, yang penting nikah dewasa. Dewasa saat kita telah sanggup untuk peduli, sanggup bersepakat, dan sanggup berjuang membangun sebuah keluarga.
















