Yang penting selain komunikasi dalam menikah adalah MANAJEMEN KONFLIK
Seperti sedang dihadapkan konflik dengan teman, mungkin ketika akur komunikasi biasa² aja, tapi lihat coba ketika ada konflik apakah lost kontak, putus silaturahmi.
Mungkin kalau kita pakai manajemen konflik ketika sebelum menikah, pernikahan hanya bertahan dua or satu tahun? Kembali lagi gimana manajemen konflik diri kita tadi.
Seperti dari kasus demo kemarin, sehingga menghasilkan 17+8. Seperti kedzaliman terhadap Gaza. Semua itu diberikan solusi melalui masing² individu yang bersatu. Sekarang lihat ke diri kita, dari konflik itu, respon kita memutuskan tindakan seperti apa.
Begitu juga ketika kita dihadapkan konflik sehari² entah dengan teman, keluarga, rekan kerja; apakah cenderung melindungi diri, memperlihatkan keprihatian dan empati kita.
Pernikahan itu mitsaqan ghalidza, perjanjian yang berat. Perjanjian bukan antara dua insan, tapi perjanjian dengan Allah.
Manajemen konflik bagian dari pendewasaan itu sendiri. Kita tahu kita punya ego, pasangan juga punya ego sendiri. Tapi kalau tidak ketemu mau dibawa ke mana konfliknya, kita mau menangin hubungan atau ego masing²?
Dalam manajemen konflik diperlukan komunikasi yang baik. Oke, ego kita lagi masing² tinggi, maka cooling down dulu, ngga usah bicara dulu, tapi bukan silent traetment.
"Jika seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur, lalu ia enggan untuk memenuhi ajakan suaminya, maka ia (istri) akan dilaknat malaikat hingga pagi." (HR. Bukhari no. 5193 dan Muslim no. 1436)
Jangan tidur tanpa rido suami.
Maksimal sebelum tidur selesaikan masalahnya. Tapi kadang masih ada slek pagi²nya. Maka clearkan konfliknya, jangan menghindar. Yang namanya konflik kalau dibiarin akan jadi bola salju dan bisa jadi merugikan banyak pihak.
Maka diskusikan. Nah di sini komunikasinya. Tahu kapan harus ngomong, bahasanya juga perlu diperhatikan, strategikan selama diskusi misal bawakan makan, saling muhasabah diri bukan menyalahkan.
Maka penting bagi kita untuk mengetahui apakah pasangan sudah memiliki kematangan emotional.
Dari mana kita tahu dia sudah matang emotional? Tanyakan, misal:
"Kamu kalau marah kaya apa si?"
"Kamu pernah ngga kelepasan ketika ada hal yang terjadi di luar kendali kamu?"
"Ketika ada konflik kamu biasanya bagaimana mengatasinya?"
Dari jawaban dia, validasi atau perkuat dengan, misal tanya ke orang terdekat, teman, saudara, atau orang tuanya yang lebih paham.
Dalam pertemanan, di tempat kerja, yang ketemunya di waktu tertentu aja pasti ada gesekan. Apalagi dengan orang yang seumur hidup kita akan bertemu dan hidup bersama. Maka penting banget buat matang dulu secara emosional.
"Pernikahan yang durasinya sepanjang itu, adalah pasangan yang sudah ribuan kali berkonflik, memaafkan dan meminta maaf."















