Pernah gak kita memberikan amanah kepada seseorang, mempercayainya untuk melakukan sesuatu, tapi ditolak dengan alasan, "saya ga mampu", atau "saya belum punya pengalam dalam hal itu"? Padahal, kepercayaan yg kita berikan adalah sebuah kesempatan kepada orang tersebut untuk belajar dan mendapat pengalaman, bahkan bertransformasi menjadi ilmu tak terlupakan.
Ketika kelas 11 SMA, saya diamanahi menjadi wakil ketua OSIS (orang nomor 2 di OSIS) dengan masa jabatan 1 tahun. Saya terpaksa menyanggupi, karena pada saat itu ditunjuk oleh ketua OSIS terpilih yang notabene teman sekelas dan sebangku saya. Padahal dari sisi pengalaman, saya belum pernah ngurusin organisasi yang berhubungan dangan hajat hidup ratusan orang. Dari sisi SDM, ada banyak orang lain yg lebih berpengalaman.
Karena belum punya pengalaman, saya benar2 bingung harus melakukan apa. Dalam satu waktu, ada banyak sekali hal yang harus dilakukan. Bahkan sebagai wakil, saya tidak tahu perihal kelengkapan-kelengkapan organisasi, birokrasi sekolah, dll. Akhirnya, banyak hal menjadi tidak jelas. Sampai menimbulkan kegabutan dan kenyinyiran dari berbagai pihak.
Keadaan semakin parah, ketika ada suatu agenda yang merupakan agenda OSIS tapi secara tidak langsung diambil alih oleh salah satu ekskul. Perasaan emosi yg menumpuk jadi satu dan merasa "gak ada guna" membuat saya menangis dihadapan anggota dan pembina OSIS saat itu (inget gw cowo kelas 11 ketika itu).
Beruntungnya, kakak kelas terus memberi bimbingan agar amanah yang saya emban tetap berjalan sesuai koridornya. Well, satu per satu masalah pun selesai.
Pasca acara tersebut, saya mencoba mencatat dan mengingat hikmah apa saja yg bisa didapatkan. Saya mencoba berdiskusi dengan orang yang punya pengalaman lebih, dalam hal kepemimpinan dan organisasi. Di sisi lain, saya mulai membaca buku-buku terkait ilmu kepemimpinan, manajemen organisasi bahkan psikologi.
Dari mencoba, saya mendapat banyak ilmu baru. Mungkin awalnya malu, dan banyak orang yang nyinyir kepada kita atas kondisi kita di organisasi. Kita seolah menjadi "tersangka" di balik berbagai keburukan. Tapi apa salahnya mencoba? Bukankah kita masih dalam tahap belajar?
Manusia bukanlah malaikat yang selalu benar, bukan juga setan yang selalu salah. Alhamdulillah setelah masa jabatan saya di OSIS itu, ternyata saya semakin bersemangat untuk berorganisasi. Belajar dari pengalaman, lama kelamaan akhirnya jadi terbiasa dan bisa.
Begitupun dengan ilmu lainnya. Pernah di satu kesempatan, saya yang terkenal pendiam di kelas (asli gw pendiam banget di kelas) berbicara di depan orang banyak yang cukup menghentak ketika itu. Setelah selesai berbicara itu salah seorang teman berkata "Dra edan maneh keren asli!". Padahal dulu ketika ngomong dihadapan orang banyak, begitu kaku, cupu, gak interaktif, begitu malu-malu. Dan dari pengalaman banyak mencoba, akhirnya terbiasa dan bisa.
Maka jika ada amanah yang menghampiri, kita ambil. Ambil dan cobalah. Jangan pernah meragukan diri kita, karena sungguh manusia memiliki potensi luar biasa melebili batas pemikirannya.