Islamic Concept of Life and Happines . Bahagia bagi kita selaku manusia bukan hanya ketika kita mendapatkan harta yang banyak, jabatan yang tinggi, status sosial. Itu adalah bahagia yang sementara. Bahagia kita bukanlah bahagia yang sementara saja, tetapi bahagia yang harus unlimited (tanpa batas). Maka penting bagi kita untuk tetap hidup didunia ini dengan ridho. Itulah kebahgiaan sesungguhnya, ridho. . Postingan diatas berupa ikhtisar dari program takhassus. Semakin menyadari berbagai hal dalam diri ini yang perlu untuk diluruskan :') https://www.instagram.com/p/CEfuxLRs-GP/?igshid=b613ek2jbuvf
Istilah ‘Bucin’ benar-benar familiar di telinga. Mereka bilang Bucin adalah Budak Cinta. Padahal menurut saya Bucin juga berarti Budak Micin hahaha
Istilah Bucin ini identik dengan perilaku pacaran. Mulai dari mikirin yang jauh tapi dekat di hati (cenah), berlama-lama chat bahas yang tidak penting dengan ‘doi’, nge-date dengan istilah belajar bareng, atau apapun itu yang membuat diri lupa untuk melakukan hal-hal yang lebih kita butuhkan dihidup ini.
Hal yang wajar ketika kita jatuh cinta kepada seseorang karena hal tersebut adalah sebuah fitrah yang Allah berikan. Karena hal tersebut fitrah alias suci, maka sudah seharusnya bentuk cinta itu juga tidak melenakan hingga lupa diri terhadap Sang Pemberi Cinta yang agung. Sebelum kita mencintai seseorang alangkah lebih baiknya jika kita menengok kembali kecintaan kita kepada Allah yang menciptakan kita dan si ‘doi’ serta cinta kita kepada Rasulullah sebagai teladan dalam mencintai-Nya.
Konsekuensi yang logis ketika kita mencintai Allah, maka kita akan semakin dekat dengan Allah. Kita akan lebih taat kepada aturannya, menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi diri dari larangan-Nya. Konsekuensi yang logis pula jika kita mencintai Rasulullah Saw, maka kita akan semakin dekat dengan sunnahnya, meneladani hidupnya, dan menjauhi diri dari apa yang beliau larang.
Cinta abadi yang benar-benar harus kita perjuangkan adalah cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka, sudah selayaknya kita berjuang untuk mendapat cinta tersebut. Jika Allah dan Rasul sudah kita cintai maka seharusnya tidak ada lagi istilah ‘Bucin” kepada manusia biasa.
Memang cinta kepada seseorang itu sebuah keniscayaan, yang justru seharusnya kita salurkan dengan cara yang Allah perintahkan dan Rasul ajarkan. Misal dengan menjaga perasaan, mendoakan, dan ikut memperbaiki diri untuk menjadi sebaik-baik pelayan-Nya. Bukankah Laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik, pun begitu sebaliknya? Jadi mari bersama-sama berubah dan melepaskan diri dari belenggu Bucin yang salah.
Sebuah renungan di pagi ini. Sumedang, 8 Mei 2020.
Agar sekali-sekali Crescenthemum berfaedah, marilah kita mulai perhelatan akbar mengenai serba-serbi virus terkenal beberapa bulan terakhir ini. Tentu saja walaupun ini bagian dari kerjaan sehari-hari, akan ada kemungkinan gue salah, selip, skip, atau kurang update, so please feel free to correct me. Referensi tulisan ini adalah website CDC, WHO, dan beberapa jurnal terkait yang link-nya akan gue cantumkan di akhir postingan, manatau kalian mau cek sendiri.
Beklah. Cus.
Jadi, coronavirus itu sebenernya apa?
Ya virus.
Wow, informatif sekali, ami.
Coronavirus adalah salah satu dari keluarga virus coronaviridae, yang mana anggotanya ada alphacoronavirus, betacoronavirus, gammacoronavirus, dan deltacoronavirus. Yang alpha sama beta itu target infeksinya emang mammals alias mamalia seperti human, yang gamma sama delta targetnya burung. Nah, beberapa dari rombongan alpha beta ini, ada yang highly pathogenic atau yang jahat; yaitu SARS-CoV, sama MERS-CoV. Sisanya ada juga CoV-CoV lain tapi ngga begitu beken karena gejala sama efeknya b aja di manusya.
Sebenernya keluarga virus ini sudah diidentifikasi sama scientist dari taun 1930-an, udah lama banget. Cuma anak-anaknya baru pada bermunculan di tahun-tahun berikutnya, dengan tingkat kejahatan yang beda-beda.
Salah satu rombongan CoV ini ya si coronavirus yang sekarang dikenal itu. Karena baru diidentifikasi di manusia, makanya namanya Novel Coronavirus alias nCoV, ada juga yang menyebutkan namanya jadi SARS-CoV-2--soalnya gejala di saluran pernapasannya severe, mirip kayak SARS dulu, tapi kali ini jenis virusnya beda.
Biar ngga kepanjangan, gue akan menggunakan term nCoV aja deh yak.
Si nCoV ini adalah jenis virus RNA. Hayoo inget ngga, pelajaran biologi SMA nih bedain virus RNA sama DNA.
RNA itu intinya struktur genetiknya rantai tunggal, DNA rantai ganda. Bedanya sebenernya banyak, tapi yang paling menjelaskan kenapa nCoV bisa segesit itu penyebarannya, ya karena salah satu sifat virus RNA itu mutasinya lebih cepet dibanding yang DNA.
Oke, lalu si anak baru ini dari mana asalnya?
Seperti yang semua sudah tau, kehebohan ini berasal dari kota pelabuhan di Hubei; Wuhan, Cina, pada Desember taun lalu. Kasus pertamanya ditemukan pada salah satu pekerja di pasar seafood di sana, dengan keluhan yang menyerupai gejala pneumonia. Awal Januari, jumlah korban makin banyak. Terus ditemukan pasien pertama yang meninggal juga. Geger dong ya dunia ini.
Sempet ada isu yang bilang kalo virusnya dibawa sama bats alias kelelawar, yang kemudian dijual sebagai makanan di pasar tersebut. Ya bener sih, kelelawar emang salah satu media favorit pembawa virus. Tapi kepastian kalo si nCoV ini asalnya beneran dari bats, masih dalam on going research. Karena ada beberapa penelitian yang mencatat data kalo beberapa pasien-pasien awal tuh ngga kontak sama si pasar sama sekali.
Intinya tuh si virus ini ya muncul dari proses mutasi, terus kebentuk, terus diduga nyangsang di salah satu kelelawar yang dijual di pasar, lalu kontak sama manusia. Simsalabim, jadilah penyakit. Ini masih on going research lho ya. Sila diupdate untuk keterangan lebih valid.
Terus, cerita awalnya tuh gimana bisa sampe sedunia kena begini?
Kasus pertama di luar Cina ditemukan di Thailand. Penderitanya adalah orang yang baru balik dari Wuhan. Akhir Januari, di Cina sendiri udah 7rebuan kasus ditemukan dan udah nyebar ke 31 provinsi. Cepat sekali memang.
Kalo pada pernah main Plague inc pasti kebayang deh nyebarnya gimana heuheueheu.
Polanya kurang lebih sama, kasus ditemukan pada pasien yang kontak dengan kasus sebelumnya di Wuhan. Makanya pas awal-awal kehebohan ini terjadi, pertanyaan screening yang diprosedurkan oleh kemenkes tuh "abis berpergian ke cina ngga?" atau "abis kontak sama orang yang dari bepergian ke cina ngga?". Gitu. Ya seiring berjalannya waktu dan penyebaran makin kemana-mana, pertanyaannya berubah jadi "ada kontak sama orang asing ngga?".
Berhubung manusia itu pada dasarnya memang berpindah-pindah, ya bisa banget menyebarluaskan virus kemana-mana sampe sedunia dan se-alam semesta gitu. Apalagi mekanisme penularannya sederhana dan sifat virusnya gesit. Ya wassalam.
Menularnya gimana?
Melalui droplets.
Droplets apaan?
Liur.
Harfiahnya, droplet itu partikel kecil-kecil yang keluar dari mulut seseorang yang bersin atau batuk atau ngomong muncrat. Di dalam droplets itulah si virus berkubang, dan siap pindah ke inang lain.
Cara pindahnya? Ilustrasinya kurang lebih begini: si x terinfeksi corona-> x lagi ngobrol sama y, terus x bersin -> dropletsnya entah bagaimana caranya keciprat di tangan si y -> si y megang mulut atau hidung -> virusnya masuk lewat hidung atau mulut si y -> assalamualaikum corona.
Mengenai proses virus menginfeksi ini sila tonton langsung di youtube ya. Kerja virus tuh unik, seru, beneran bisa jadi senjata biologis. Jadi ide banget buat film-film scifi. Ini kerja virus pada dasarnya ya, bukan cuma corona doang.
Jadi begitu kena droplets, langsung sakit?
Ngga.
Inilah salah satu kekerenan virus. Mereka tuh bisa hidup di dalam tubuh kita dengan harmoni, tanpa menimbulkan gejala, dan bisa sewaktu-waktu menang melawan imunitas kita.
Kita baru akan ketular, ketika droplets yang kena ke kita itu berasal dari orang yang sedang dalam masa inkubasi. Masa inkubasi itu masa yang diperlukan suatu patogen alias kuman dalam berlipatganda sampai akhirnya menimbulkan gejala. Orang-orang dalam masa inkubasi inilah yang bisa membawa droplets paling serius seluruh dunia.
Ketika si droplets masuk ke tubuh kita, kalo kitanya baik-baik aja dan daya tahan tubuhnya baik, maka kita ngga akan bergejala atau bergejalanya kalem aja ngga sampe parah banget.
Masa inkubasi nCoV ini 14 hari. Makanya biasanya dalam anamnesis atau wawancara awal, pasien akan ditanya apakah ada riwayat kontak dalam 14 hari terakhir. Pasien-pasien dalam pemantauan yang suspek itupun biasanya dilakukan dalam 14 hari itu.
Oh iya, kemenkes membagi suspek pasien dalam dua kategori; pemantauan dan pengawasan. Tapi kalian tida perlu memikirkan ini terlalu dalam, karena ini tugas gue dan tugas tenaga kesehatan lainnya.
Tugas kalian, menjaga diri sendiri, dan tentu saja mengenali gejalanya.
Gejalanya apaan aja?
Coronavirus itu pada dasarnya yang diserang adalah saluran pernapasan. Setiap coronavirus pasti gejalanya kurang lebih sama aja, cuma keparahannya aja yang beda-beda. Si nCoV ini juga ya kayak orang dengan infeksi saluran napas pada umumnya aja gitu; kek batuk pilek, demam, lemes, nyeri-nyeri sendi, nyeri tenggorokan, sesak, gitu-gitulah pokonya mah. Kayak orang flu. Meriang-meriang.
Separah apa nCoV ini?
Bentar, sebelumnya gue lupa nyebut kalo nama penyakit yang ditimbulkan oleh nCoV adalah COVID-19, yang merupakan singkatan dari corona virus disease 2019.
Kalo ngomongin separah apa, sebenernya membahas virulensi sih. Tapi ribet. Mari kita buat simpel aja.
Gue mulai dari update per tanggal 3 Maret 2020 ya berdasarkan rilis WHO.
Total kasus globally: 90870
Total negara yang terinfeksi selain cina: 72
Total kematian: di cina 2946, di luar cina 166
Total kasus sembuh: 51014
Kemarin, WHO juga bilang kalo dari seluruh total kasus COVID-19 ini, yang meninggal adalah 3,4%nya. Mereka sendiri sebenernya masih belum bisa kasih statement fix mengenai separah apa virus ini karena masih dalam penelitian, cuma kalo dari data sih ya dari 90rebuan kasus itu yang meninggal 3,4%nya itu. Kecil kan ya angkanya.
Sebenernya, infeksi virus itu pada dasarnya bersifat self-limiting disease, atau bahasa kasarnya ya ntar juga sembuh sendiri. Tapi tentu ini under specific term and condition ya. Ngga semua orang yang kena penyakit karena virus jengjengjeng sembuh sendiri tanpa diapa-apain. Pada orang yang sehat lahir dan batin, jasmani dan rohani, emang bisa aja sembuh dengan sendirinya. Tapi, pada beberapa orang bisa jadi fatal dan mematikan.
Apa yang mempengaruhi?
Jawaban pamungkasnya ya itu; daya tahan tubuh.
Sebuah virus jadi makin gampang menghancurkan seseorang, ketika si seseorang ini daya tahan tubuhnya lemah. Yang mempengaruhi daya tahan tubuh antara lain usia, pola makan, higienitas, kesehatan mental, gaya hidup, dan tentu saja penyakit bawaan. Penyakit bawaan ini kayak misal hipertensi, diabetes, HIV, sakit jantung, sakit ginjal, penyakit-penyakit autoimun, dll.
Kalo dari data kemenkesnya cina, 80% pasien terinfeksi corona yang meninggal itu usianya di atas 60 tahun, lalu 75% yang meninggal itu punya penyakit bawaan. Jadi virusnya tuh menang lawan sistem imun tubuh, makanya pasiennya meninggal.
Meninggalnya pasien COVID-19 tuh bukan kayak lo nyilet nadi terus langsung mati, ngga. Seperti yang udah gue bilang di atas kalo yang diserang nCoV itu saluran napas. Gejala dasarnya ya gejala-gejala infeksi saluran napas kayak orang flu. Nah, pada orang yang daya tahan tubuhnya baik, gejalanya berenti sampe disitu aja, lalu sistem imun tubuh do the works dan ditambah terapi dari medis, merekapun pulih. Sedangkan pada orang yang daya tahan tubuhnya buruk, gejala-gejala itu memberat dan akhirnya menimbulkan komplikasi. Pasien meninggal kebanyakan ya karena komplikasinya.
Tapi tentu saja karena kasusnya masih berlanjut, pasien-pasien baru dengan demografi beragam masih bermunculan, kemungkinan-kemungkinan lain masih bisa terjadi.
Bisa sembuh ngga?
Lah ya bisa. Itu 50rebuan kasus udah sembuh.
Tapi katanya belum ada obatnya
Ya memang. Makanya yang diandalkan adalah daya tahan tubuh kita, dan tentu saja terapi medis untuk menunjang.
Kemenkes udah bikin clinical pathway alias alur penatalaksanaanya kok. RS gue tiap hari diskusinya itu mulu, tiap hari dibriefing buat menyambut suspek-suspek yang datang. Alat tesnya sama canggihnya dengan di negara-negara lain, orang WHO juga udah visitasi langsung, dan memastikan semua prosedurnya sesuai standar global.
Jadi yang harus dilakukan satu-satunya ya melapor kalo lo merasakan gejalanya atau merasa beresiko tertular, then let the health team do the rest.
Kalo emang ngga seserem itu, kenapa heboh banget ya?
Ini asumsi gue ya.
Karena....media.
Gila sih, tiap hari ada aja berita dengan headline bombastis dari berbagai media. Padahal kalo mau ngomong parah-parahan, yang lebih parah banyak, yang lebih deathly banyak. Tapi bacot orang-orang lebih berisik sekarang.
Mana media tuh (terutama portal berita online), ngga berimbang banget kebanyakan. Yang info penting ngga disorot, yang ngga penting malah heboh. Belum lagi para media pengabdi clickbait. Ngga verifikasi data, ngga pake referensi valid, kadang ngutip omongan orang ngga kompeten, atau seleb-seleb medsos, youtuber-youtuber sotoy, tapi pede banget naikin berita.
Sekarang di Indonesia udah ada penderitanya. Kita harusnya panik ngga sih?
Ya boleh aja panik. Tapi tetep waras.
Selama ngga ada kontak dengan penderita secara langsung, dan selama daya tahan tubuh kita baik, harusnya bisa lebih tenang. Kalo ada kontak dengan penderita atau kontak dengan orang asing yang ngga diketahui riwayat perjalanannya, go have yourself checked. Sekarang kemenkes udah punya hotline yang bahkan bisa pake WA. Pemda DKI juga nyiapin tim khusus untuk ini. Seratus rumah sakit rujukan se-Indonesia udah disiapin buat menangani. Tinggal lo aja mau lapor apa ngga, mau berobat apa ngga.
If you happened to be one of those with the underlying disease, go have yourself checked and be highly protected, too. Lebih disiplin lagi minum obat rutinnya, usahain untuk tetep fit dan terjaga daya tahan tubuhnya.
Dengan adanya kasus terkonfirmasi positif di Indonesia ini malah jadi pecutan banget buat kemenkes biar lebih serius kerjanya. Tim skrining lebih teliti, persiapan dipercanggih di semua lini fasilitas kesehatan, pencegahan digalakkan lebih gila lagi, dll.
Emang bisa aja pemerintah skip atau missed, pemerintah juga manusia. Makanya selain mempercayakan proses ke mereka, lakukan pencegahan ke diri sendiri juga.
Apa aja pencegahan yang bisa dilakukan?
Udah banyak sih ya infografis yang tersebar di internet. Intinya sama aja: makan sehat, istirahat cukup, olahraga, minum vitamin bila perlu, banyak minum air putih, rajin cuci tangan, batuk pilek dengan etika yang benar, pake masker kalo sakit, dan jaga diri jangan sampe stress.
Yang mau gue highlite dari semuanya ada dua hal; mengenai cuci tangan dan masker.
Kehebohan adanya kasus positif di indonesia, mendadak bikin hand sanitizer sold out dimana-mana. Emang hand sanitizer sengefek itu? Jawabannya; tergantung.
Ada hand sanitizer yang antibacterial, ada yang anti microbial. Kalo yang antibacterial, ya yang bakal mati sejenis bakteri, nCoV dan virus lain ketawa-ketawa doang menyaksikan kebodohan lo. Kalo yg anti microbial bisa aja membasmi virus, tapi itupun ngga sebegitu efektifnya. B aja.
Yang efektifitasnya lumayan sebenernya adalah hand sanitizer yang kandungan alkoholnya di atas 60%, sukur2 sampe 70an. Sedangkan yang banyak dijual di pasaran itu paling kadar alkoholnya 30-50% doang, sisanya parfum. Jadi si virus sama bakteri geli-geli aja dan wangi. Kaga mati. Jangan kemakan iklan kalo ada hand sanitizer yang bisa mengalahkan 99,9 % kuman. Bacot aja itu. Mana ada. Cuci tangan ribet kayak persiapan operasi aja belum tentu bisa sampe 99,9%. Apalagi cuma pake sanitizer kecil mungil bau lavender gambar unicorn. Elah.
Kalo emang mau pake handrub yang praktis, beli di apotik yang buat sediaan di rumah sakit. Terus taro di wadah travel size.
Yang paling bener itu cuci tangan di air mengalir. Jadi daripada borong hand sanitizer mah mendingan borong sabun cuci tangan. Taro di wadah hand sanitizer. Di tempat-tempat umum udah banyak tersedia kran air.
Kemudian perkara masker.
Seminggu terkhir ini RS gue mengalami krisis masker, karena dari vendor distributornya stoknya lagi super menipis, harga juga super melangit. Tiap ruangan jadi dijatah pake maskernya, dan diutamakan buat ruangan operasi. Bahkan di UGD, kami harus swadaya patungan buat beli masker sendiri karna ngga cukup dari jatah RS.
Ya nurut ngana aja, di UGD juga infeksius. Kalo lagi jait terus keciprat darah, masa maskernya tetep dipake sampe pulang.
Makanya gue benciiiii banget sama orang-orang yang panic buying ngeborong masker, dan sama orang-orang yang naikin harga masker seharga nmax. Kesel. Gara-gara mereka, yang bener-bener butuh masker jadi ngga kebagian.
Emang yang butuh masker banget tuh siapa?
Yang sakit, dan petugas kesehatan.
Yes, you hear me right. Yang pake masker itu yang sakit.
Nih gue kasih ilustrasi.
Tadi gue bilang kalo COVID-19 itu penyebarannya via droplets kan ya. Bayangin kalo lo lagi di krl, satu gerbong pake masker, tapi yang sakit ngga pake masker. Terus dia bersin. Dropletsnya nempel di tubuh penumpang lain termasuk lo. Lalu droplets itu masuk ke tubuh lo melalui hidung atau mulut. Jengjeng, besoknya lo kena COVID-19.
Tapi coba kalo yang pake masker yang sakit, lo dan penumpang segerbong lainnya ngga pake. Pas si yang sakit ini bersin, dropletsnya ketahan di dalam masker. Lo dan penumpang lainnya terselamatkan dari sebaran droplets.
Sampe sini kebayang?
Tapi kan ngga semua orang sakit nyadar kalo dianya sakit. Kalo dia sakit tapi nggamau pake masker, gimana?
Memang idealnya semua pake masker, apalagi ada aja kan orang yang kalo ngomong doang gerimis, alias ludahnya muncrat-muncrat. Kita gatau dia ini udah bawa virus apa belum, yang jelas ada resiko dropletsnya dia masuk ke kita juga.
Namuuuuuun, sekarang ini kondisinya masker tuh langka, ges. Udah susah dicari, mahal pula. Jadi alangkah bijaknya, kalo sisa-sisa ketersediaan masker yang ada tuh diutamakan bagi yang membutuhkan dulu. Prioritasnya ke yang sakit sama yang menangani si sakit alias tenaga kesehatan. Ini buat kepentingan dan keselamatan sejuta umat juga kok. Dengan membiarkan pihak-pihak ini mendapat akses masker, kita bisa membantu mencegah penyebaran.
Oh iya, ada satu hal lagi.
Beneran deh, usahain ngga nyentuh muka (terutama mulut sama hidung) kalo belum cuci tangan. Karena tangan tuh rumah sejuta masalah banget. Kalo ada droplets nempel di tombol lift, terus kita pencet, terus abis mencet kita megang mulut atau ngupil, kelar. Langsung pindah kuman-kumannya.
Makanya ngga lucu banget sebenernya orang-orang sok affectionate dan sok gemes tiba-tiba nyolek pipi atau nyubit pipi uwu uwu gitu anjir jijique. Lo harusnya marah kalo pacar lo grepe-grepe pipi lo dalam keadaan belum cuci tangan. Percuma skinker jutaan tapi digrepe tangan pacar iyaiya aja. Udah mah beresiko jerawatan, beresiko kena virus pula. Hiii.
Jadi selain menghindari pegang muka sendiri atau menghindari orang pegang muka kita, tentu kita juga harus menyiasati agar sebisa mungkin tangan kita ngga bersentuhan langsung dengan barang-barang publik. Misal, latian buka-tutup pintu pake siku, neken tombol lift pake siko atau punggung tangan atau jari yang ngga dominan/ngga sering dipake.
Ketika berinteraksi sama orang asing (yang lo ngga kenal riwayat higienitasnya), usahain ngga ada kontak fisik. Sentuh punggung atau pundak atau pinggang aja kalo emang perlu banget menyentuh.
Basically, JUST STAY AWAY FROM HUMAN HAHAHAHA
ngga deng. Canda.
Jadi, apa yang harus dilakukan sekarang?
Lakukan pencegahan. Baca data. Berbagi info positif, jangan sebar ketakutan. Verifikasi kebenaran berita sebelum menyebarkan. Perbaiki jika ada kerabat yang sebar hoax.
Berdoa?
Terserah sih. Tapi kayanya nCoV nggapunya agama.
Astghfrllh ukhti.
Hehe. Nggapapa lho berdoa. Kalo beriman dan berdoa bisa membuat seseorang tersugesti tenang dan terjaga dari stress, maka berdoalah. Beribadahlah. Stress dan ketakutan berlebihan cuma bikin tubuh lo jadi makin lemah dan daya tahan tubuh menurun, ujung-ujungnya gampang terinfeksi. Jadi lakukan apapun yang menurut lo menenangkan pikiran dan menjauhkan lo dari stress; mau itu solat kek, nonton netflix kek, masak kek, tiktokan kek, nyembah dasi pramuka kek, silakan aja. Bebas.
Banyak banget virus mematikan di dunia ini. Tapi kalo cuma sekedar mati, lo diem di rumah ngga ngapa-ngapain juga bisa aja mati ketimpa lemari.
So, chill.
And keep being well-informed.
-
Berikut rujukan bacaan yang bisa kalian jadikan referensi:
• Prinsip • Tahun 2020 ini, saya akan coba memegang teguh prinsip ini, "Sesuatu yang jumlahnya selalu sama, berarti ada penurunan." Sejak zaman dahulu jika sesuatu jumlahnya selalu sama, menunjukkan ada yang menurun. Contohnya adalah seandainya kita mempunyai uang tabungan dengan jumlah sama, bisa dipastikan nilai uang itu akan menurun. Misalnya tahun 2000-an simpanan uang kita 10 juta rupiah, tentu masih dapat dibelikan motor baru dan masih ada sisanya banyak. Beranjak tahun 2010, jangan-jangan uang sepuluh juta habis tak bersisa untuk membawa pulang sebuah motor dari showroom. Nanti 2020, dengan jumlah uang yang sama, jangan harap kita bisa mendapatkan satu unit sepeda motor. Sekurangnya butuh 16 juta rupiah untuk motor matic keluaran tahun terbaru. Jika rekening kita jumlahnya selalu sama, berarti nilainya telah mengalami penurunan. Terbukti bukan? Bisakah kawan-kawan memberi contoh lain, bahwa "Sesuatu yang jumlahnya selalu sama, berarti ada penurunan"? Saya kemukakan satu lagi yang terpenting. Yaitu kuantitas ibadah kita kepada Allah. Sadarilah bahwa saat jumlah ibadah kita selalu sama, dari tahun ke tahun, artinya ada penurunan! Maka paksa diri ini untuk lebih meningkat, lebih bertambah, dan lebih baik. Jika tahun lalu shalat tilawah kita setengah juz, maka tahun ini harus menjadi 1 juz. Jika tahun lalu kita membaca satu buku setiap bulan, maka tahun depan harus menjadi dua buku setiap bulan. Jika tahun lalu kita selalu bersedekah secara terang-terangan, maka tahun depan kita harus sedekah baik secara terang-terangan maupun secara sembunyi. Orang-orang Arab sejak zaman dahulu telah memegang prinsip yang maknanya serupa, "Siapa yang hari ini masih sama seperti hari sebelumnya, maka ia telah merugi." Jarak antara bilangan sembilan dengan bilangan sepuluh mungkin demikian dekat, tetapi tidak demikian jarak antara 2019 dengan 2020. Karena di antara kedua tahun itu, ada jarak yang begitu jauh, antara diri kita yang dulu dengan diri kita yang baru. Yang tidak sama lagi seperti kemarin. (at Stadion Gelora Bandung Lautan Api) https://www.instagram.com/p/B6zSo5BF1sm/?igshid=1p1b8hc5teuod
Jadi beginilah bumi yang kita jadikan hunian. Jika semua manusia dikumpulkan dalam satu tempat, 7 miliar anak adam ini hanya akan memenuhi satu titik kecil di bumi; National Geographic mengatakan Los Angeles paling pas untuk itu. Hanya butuh 1300 m² untuk membuat semua manusia berdiri di satu lokasi.
Lihat gambar itu; adalah bumi kita jika gelap gulita. Titik-titik putihnya adalah tempat dimana sebagian besar manusia berada, ditandai dengan daya listrik yang memberdayakan kota-kota. Cerah di tengah pekat.
Bumi ini sejak dulu isinya di situ-situ saja. Manusia tak tahan hidup jauh dari aliran air dan cuaca yang stabil. Andaikan Allah menakdirkan Laut Tengah tumpah; bisa dibayangkan berapa ratus juta manusia nyawanya melayang. Atau jika Laut Cina Selatan bergoyang, bisa jadi 1 miliar nyawa jadi korban.
Manusia ini, pesawat turbulensi berteriak histeris. Kapal miring sedikit langsung pada bersyahadat. Gulungan torpedo mengancam desa dan kota-kota, semuanya berlarian. Tapi setelah semua itu dilewati, masih saja lupa bahwa kita sangat dekat dengan yang namanya mati.
Ada 266 anak lahir setiap menit, 382 ribu dalam sehari dan 139,5 juta pertahun. Anak-anak Adam ini dilahirkan sebagai hamba Allah yang bersih dan suci. Lalu manusia yang mendahuluinya hidup di bumilah yang akan mewarnainya. Banyak yang berbelok, hanya secuil yang selamat sampai bertemu Tuhannya.
Inilah misteri bumi kita. Tentang kuantitas yang semakin hari makin bertambah. Fakta-fakta yang ternyata baru saja kita ilmui, dan masih terlalu banyak gelap di luar sana, entah kita mampu memecah misterinya, atau kiamat akan lebih dulu menyelesaikan peran kita memimpin dunia.
JENDELA PENGETAHUANMU DAN JENDELA SURGAMU ADA DI BUKU
Bulan Juli 2018 lalu, pendiri Microsoft yang merupakan orang terkaya di dunia harus rela digeser oleh pendiri Amazon, Jeff Bezos yang kini berada di posisi pertama. Total kekayaan Bezos sekarang berkisar dua ribu dua ratus lima puluh triliun rupiah. Sangat Zos!
Tetapi kita jangan hanya melihat pencapaian yang ia raih, melainkan lihatlah bagaimana perjuangan yang ia lakukan di masa mudanya. Ternyata Bezos adalah seorang pembelajar yang selalu lapar akan ilmu.
Ia gemar sekali membaca. Bahkan, ia mengakui ada sebuah buku yang sangat memengaruhi hidupnya, berjudul The Remains of The Day. Bezos berpesan tentang buku ini,
"Jika Anda membaca The Remains of the Day yang menjadi salah satu buku favorit saya, Anda akan tersadar jika selama ini hanya memanfaatkan sedikit waktu dalam hidup untuk berpikir tentang langkah alternatif dalam hidup. Dari sini saya belajar tentang kehidupan dan juga penyesalan."
Selain Bezos, jajaran miliuner yang hidupnya berubah karena buku yang ia baca adalah Warren Buffet, orang ketiga terkaya di dunia. Suatu hari ia ditanya tentang investasi terbaik apa yang pernah ia lakukan dalam hidup.
Warren Buffet menjawab, "Buku Public Speaking yang ditulis oleh Dale Carnegie!"
Jika demikian hal yang terjadi pada orang-orang sukses, maka apa yang dialami oleh para ulama tidak jauh berbeda. Orang-orang alim sejak zaman dahulu tak pernah terpisahkan dengan buku.
Prinsip para ulama zaman dahulu, buku adalah segalanya. Maka marilah kita belajar untuk mencintai buku, sebagaimana orang-orang sebelum kita meraih suksesnya karena buku, dan orang-orang soleh sebelum kita meraih surganya karena buku pula.
Jangan anggap ringan sebuah buku, karena boleh jadi buku itu yang mengubah hidup kita, serta mengantarkan kita menuju kesuksesan dan surga-Nya.
Berawal dari sebuah kekhawatiran saya kepada sebuah organisasi yang pernah saya ikuti. Pastinya ini bukanlah sebuah postpower syndrome tetapi lebih kepada sebuah kekhawatiran akan generasi yang lemah. Bukan juga pembenaran bahwa generasi saya adalah generasi yang kuat.
Ada sebuah percakapan dalam sebuah grup medsos "Bismillah. kawan2 untuk mensukseskan agenda kita silahkan di rekap yaa siapa saja yang bisa hadir hari.....jam.... di... Direkap juga yg tdk bisa hadir + alasannya"
Kenyataannya setelah beberapa hari chat tersebut dikirim, hanya 1/8-nya saja yang merekap. Untungnya medsos jaman now itu bisa tau siapa saja yang sudah baca chat tersebut atau minimal berapa orang chat tersebut tersampaikan kepada anggota grup.
Tentunya ini sebuh ketidaknyaman dalam berkomunikasi. Coba kita bayangkan kita menjadi orang yang mengirim chat tersebut. Kita sudah cape-cape merencanakan suatu agenda tetapi berasa dikacangin oleh sesama teman. Kalaulah kita dikacangin oleh tamu undangan sendiri mah masih mending. Ini dikacangin oleh orang yang sesama punya hajat dalam organisasi, duh!
Kalaulah konfirmasi itu sebegitu susahnya, coba kasih tau saya sebenarnya susahnya dimana? Saya rasa menghargai waktu dan tenaga seseorang itu penting. Sangat penting. Apalagi bagi orang yang meminta konfirmasi. Bisa jadi karena kita tdk mengkonfirmasi kehadiran kita dalam agenda tersebut, maka hal itu berakibat kepada keberjalanan agenda. Gak ada sumber dayalah, ngaretlah acaranya, tidak sesuai ekspektasilah, dll.
Kalaulah letak susahnya itu adalah agenda kita sendiri yang belum pasti, maka prioritaskan agenda yang sudah pasti. Kalaulah letak susahnya itu adalah karena hectic-nya kita dengan urusan lainnya, maka tinggal rekap saja bahwa kita ada agenda lain. Se-simple itu. Tapi mungkin pikiran saya dan pikiran orang lain beda memandang hal ini. Tetapi apakah memberi sebuah kabar itu hal yang susah?
Kekhawatiran saya adalah meninggal generasi yang lemah. Bukan lemah dalam otot, tetapi lemah dalam cara pandang. Memandang sebuah konfirmasi saja tidak mampu, bahkan terbilang sulit, bagaimana mungkin kita akan memandang sebuah kejayaan, kemuliaan, dan kemenangan?
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.”(QS. An-Nisaa : 9)
Ini adalah kekhawatiran, bisa jadi kita yang 'melahirkan' mereka tidak benar dalam mengajari. Karena cerminan generasi di bawah kita adalah generasi kita saat ini. So, mari move on menuju cara pandang yang lebih segar baik untuk saya, kamu, dan kita.
Beginilah Indonesia kita. Hari ini; sesama saudara saling tuduh, sesama muslim saling curiga, sesama komunitas saling mengklaim paling benar. Yang tertawa bukan siapa-siapa kecuali mereka yang takut umat ini bersatu.
Hanya karena beda nama, beda kyai dan beda mazhab; isu bersama kita ditaruh di paling pinggir. Sementara kita berdebat tentang cabang-cabang Fiqh, selama itu pula peluru-peluru zionis mengganyang tubuh mungil anak Palestina.
Selama kita menganggap lain ormas menjadi musuh untuk dihancurkan, selama itu pula mereka yang bercokol di Baitul Maqdis leluasa membangun gorong-gorong di bawah Al Aqsha, menyiapkan bata dan ornamen kuil impiannya.
Dan sampai kapan kita akan terus berseteru, hanya karena dia berpeci dan dia yang lain berjubah; hanya karena dia bersarung dan yang lainnya berburdah; bukannya akan menyelesaikan masalah. Ia hanya akan menyulut murka langit.
Perbedaan furu' di antara kita adalah sunnatullah. Sementara menjaga persaudaraan hukumnya adalah wajib. Beranekanya kita adalah niscaya, sementara permusuhan yang lahir karenanya bukanlah kewajaran. Dia penyakit kronis, penyebab umat ini hancur di ambang sejarahnya.
Sementara kiblat pertama kita, kubah emasnya tak lagi mengilap, tempat-tempatnya dianeksasi dan dipecah-pecah. Masjid suci ketiga kita dijaga oleh wanita-wanita Mujahidah. Sebab suaminya sudah tertangkap, anak lelakinya sudah terbunuh.
Al Aqsha harusnya satukan kita. Sebagaimana Makkah dan Madinah menggelorakan setiap jiwa muslim yang merindukannya. Rindu itu tak kenal ormas, tak kenal warna hijau atau biru, tak memandang kyai mana dan mazhab apa. Al Aqsha memanggil kita; siapapun yang bersyahadat!
Siapa kita sehingga kita harus meminggirkan problematika utama bernama Al Aqsha hanya demi ego? Siapa kita sampai tega-teganya menutup pintu ukhuwah pada mereka yang memperjuangkan Al Aqsha hanya karena beda yang bukan prinsipil?
Al Aqsha adalah termometer Umat Islam sedunia. Siapa yang membelanya, ia mencerminkan kepahaman yang mendalam. Menganggap Al Aqsha sekadar masalah orang Palestina, berarti menanggalkan separuh besar aqidah kita. "Ketika jaya Al Aqsha, jayalah Umat. Ketika terhina Al Aqsha, terhinalah Umat."
Manusia memang semena-mena, diciptakan dari tanah tapi sombongnya melangit. Meminta dgn meronta, tetapi saat sudah dikabulkan terkadang hatinya yg tanpa sayap itu bisa terbang setinggi2nya, terhempas angin takabur yg entah dari mana ia berhembus. Padahal ia berasal dari tanah, namun mengapa sifatnya melangit?
Sungguh, manusia itu tempatnya lupa. Kemarin tidak bisa apa2, hari ini saat sudah memiliki ilmu sedikit, lagaknya sudah sengit, seakan sudah tahu lebih banyak dari orang lain Padahal banyak hal yg kita tidak tahu dari orang lain.
Hati itu seringan kapas, mudah terhempas oleh angin kesombongan, walau ia tidak punya sayap. Berhati-hatilah. Berilmu bukan berarti kamu lebih mampu. Melihat bintang di langit yg memesona memang lebih menyenangkan daripada memperhatikan semut2 di dasar kaki.
Besok, jika ilmumu bertambah, tetaplah merasa bodoh, agar kamu terus belajar. Besok, jika kedudukanmu sudah lebih tinggi, tetaplah berlaku ramah. Semoga seiring dengan wawasanmu yg semakin melangit, hatimu semakin mengakar ke bumi.
Pernah dengar kisahnya Bung Tomo, Bung Karno, Ki Hajar Dewantara, dan Abdul Muis? Kira2 apa perbedaan keempat ksatria bangsa di atas? Mereka masing2 berbeda dalam jalan, tetapi satu dalam tujuan.
Bung Tomo mengusung senjata, Bung Karno menyelami politik, Ki Hajar Dewantara mendirikan sekolah, dan Abdul Muis mengangkat pena.
Tiga yang pertama sering kita dengar sejarahnya, saya ceritakan yg terakhir, di mana namanya diabadikan menjadi nama jalan pada beberapa kota di Indonesia.
Abdul Muis awalnya bekerja sebagai wartawan dari satu media ke media lain silih berganti, hingga akhirnya ia menjadi pimpinan redaksi sebuah surat kabar bernama Kaoem Moeda.
Tulisan2 beliau tajam dalam mengkritik dan menentang para penjajah, yg menyebabkan beliau dipenjara, kemudian diasingkan ke kota2 terpencil oleh Belanda.
Semangat beliau pantang surut, pengasingan tetap dimanfaatkannya untuk menulis. Termasuk sebuah novel berjudul Salah Asuhan juga ia hasilkan dalam rangka pemberontakannya terhadap penjajah.
Abdul Muis dikenal sebagai pahlawan nasional yang melawan Belanda dengan pena. Ia telah membuktikan bahwa tidak ada alasan untuk berhenti berjuang.
Pena Abdul Muis adalah simbol dari pilihan jalan yg ditempuh seorang pahlawan. Pena itu di tangan Bung Tomo menjadi senjata. Pena itu digenggam Bung Karno menjadi politik. Pena itu dikendalikan Ki Hajar Dewantara menjadi sekolah.
Apapun bentuknya, setiap pahlawan memiliki pena mereka masing2 Kini tiba giliran kita melanjutkan perjuangan para pendiri bangsa. Dengan pena apa kita akan mensyukuri nikmat kemerdekaan?
Seorang pemimpin boleh salah tapi tak boleh buta arah.
Sayapun memahami, akan sulit untuk mengubah arah datangnya angin. Tetapi bukankah kita selalu punya pilihan untuk memutar layar?
Dunia ini hanyalah setengah dari hidup saya. Dan telah terisi oleh orang-orang yang antusias menolong dan berdedikasi tinggi dalam hidup ini. Dunia yang penuh sorotan dan hingar bingar alunan nada hingga teriakan di jalanan.
Tentunya jika kamu memulai sesuatu karena Allah, maka jangan biarkan berhenti ditengah karena banyaknya masalah. Hadapilah bahwa lelah ini karena-Nya. Dan Dialah muara atas segalah kelelahan ini.
Dan jika sampai hari ini masih bisa berdiri dengan gagah dan tegak, sungguh itu adalah bentuk kasih sayang-Nya dan pertolongan Allah.
#TodayInHistory situs islamstory.com yang diasuh langsung oleh Dr Raghib Sirjani hari ini memberikan satu informasi penting dalam rubrik “Hadatsa fii Mitsli Hadzal Yaum” (Hari ini dalam sejarah). Peristiwa itu terjadi tepat pada 22 Juni 492 tahun yang lalu. Hari dimana seorang mujahid yang ulama, pemimpin yang faqih agamanya bernama Fatahillah membebaskan Sunda Kelapa dari Portugis lalu menamakan kota itu dengan Jayakarta, “Madinatun Nashr”, Kota Kemenangan.
Sejarawan Arab banyak yang mengagumi Fatahillah dan aksi heroiknya membebaskan kota yang kelak akan menjadi ibukota Indonesia itu. Sampai-sampai Wikipedia Arab pun mengabadikan tanggal 22 Juni dengan catatan kemenangan Fatahillah.
“1527 - فتح الله طرد البرتغاليين من ميناء سوندا كيلابا(جاكرتا الآن)، الذي يحتفل به الآن كذكرى انشاء المدينة”
(1527 - Fatahillah mengusir penjajah Portugis dari pelabuhan Sunda Kelapa —sekarang Jakarta— yang diperingati sekarang sebagai hari jadi kota tersebut)
Pertanyaan yang masih sering diteliti jawabannya oleh para sejarawan adalah; Siapakah Fatahillah sebenarnya? Karena riwayat tentangnya berjubel dengan kisah-kisahnya yang berbeda. Ada yang bilang beliau adalah Sunan Gunung Jati, ada juga yang bilang —dan ini dianggap paling benar— bahwa Sunan Gunung Jati dan Fatahillah adalah orang yang berbeda, namun keduanya ada hubungan kekeluargaan.
Ada yang bilang bahwa beliau asli orang Pasai, kemudian Portugis menjajah negerinya sehingga ia hijrah ke Makkah. Dari Makkah beliau menimba ilmu lalu kembali lagi ke Jawa menuju Demak. Lalu ada juga yang bilang bahwa Fatahillah adalah putra Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina, dengan Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran, Raden Manah Rasa.
Namun yang disepakati oleh semuanya adalah, bahwa Fatahillah merupakan seorang Ulama yang Umara, seorang pemimpin militer yang juga dalam pemahamannya tentang Islam. Ketika ia tahu Portugis menjajah Sunda Kelapa atas persetujuan Kerajaan Padjajaran, beliau sadar bahwa akibatnya akan sangat parah bagi eksistensi penduduk Nusantara.
Itulah yang membuat beliau berangkat dari Demak atas perintah Sultan Trenggono bersama 1500 mujahid dengan 20 kapal perang Jawa. Di saat yang sama, di Sunda Kelapa Alfonso de Albuquerque telah mengirimkan pasukan di bawah komando Francisco de Sa. Portugis hanya menyiapkan 6 kapal tempur, namun jenis kapal mereka yang merupakan Galleon masing-masingnya berbobot 800 ton dengan 21-24 pucuk meriam, lengkap dengan 600 awal profesional.
Pertarungan sengit antara Fatahillah versus armada laut Portugis yang juga didukung angkatan bersenjata Kerajaan Padjajaran membuat langit Sunda Kelapa penuh kelabu. Pada akhirnya atas izin Allah, Fatahillah dan mujahid Demak juga Banten berhasil menumpas armada Portugis. Hari itu adalah 22 Juni 1527.
Kemenangan di Sunda Kelapa membuat Fatahillah dipercaya sebagai gubernur di sana dan digantilah kota itu dengan nama Jayakarta. Sejak awalnya Jakarta memang sudah erat kaitannya dengan perjuangan dan deras arus islami yang membuka kota itu dari penjajahan.
Sosok seperti Fatahillah mengingatkan kita dengan pahlawan-pahlawan kita yang senarasi dan sefrekuensi dengannya seperti Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol dan Sultan Hasanuddin. Heroisme di medan tempur, kecerdasan memanajemen manusia dan faqih dalam agamanya ternyata bukanlah ilusi. Negeri kita pernah melahirkan manusia-manusia hebat itu dan akan selalu mampu menciptakan yang lebih besar.
Kelak di masa depan, barangkali gelombang perubahan zaman akan menuntut lagi lahirnya Fatahillah Fatahillah baru yang akan memecah kesunyian, di saat Umat menunggu sang Fajar dan tersudutkan. Atau barangkali, Fatahillah itu sudah ada; kamu. Tinggal sedikit polesan saja hingga kamu siap menciptakan arus perubahan.
Dalam kehidupan ini selalu ada aksioma yang tidak akan terpatahkan, yaitu :
"Selalu ada akhir pada setiap awalan"
Percayalah dalam hidup ini, bukan sebuah kebanggaan bisa bergelar ataupun ketenaran karena terkenal. Melainkan sebuah pilihan untuk ambil peran dan berkontribusi. Melakukan yang terbaik untuk hidup ini.
Maka katakan padaku, apa yang lebih indah dibandingkan senyuman orang-orang yang senantiasa rela berkorban?
C : "Eh, urang gak jadi hadir, ada agenda ternyata"
D : (gak ada kabar)
A : "Pada dimana kaseeeep :( :( :("
Pernah punya kejadian kek gitu? Atau mirip-mirip kasusnya kek gitu? Saya yakin semuanya pernah mengalami. Dan kiranya apa yang kita rasakan jika orang yang akan kita temui telat, gak jadi dateng, dan alasan-alasan lainnya? Terkadang kesel, tapi coba ambil hikmahnya itu yg paling penting.
Ketika kita meminta waktu orang lain, adalah sebuah pilihan yang berat ketika orang itu bersedia meluangkan waktunya saat ia punya kesempatan melakukan hal penting lainnya. Menuntaskan amanah yang tengah dipegang, atau kesempatan untuk menambah kapasitas dirinya lewat kegiatan-kegiatan positif lain. Lalu, dengan seenaknya kita malah 'menggampangkan' pengorbanannya.
Ngaretlah. Gak bisa hadir karena hal yang mendadak. Lalu kita telat ngabarin atau parahnya gak ada kabar sama sekali pas hari H. Lantas kita berdalih dengan berbagai alasan dan berharap orang tersebut tidak berprasangka macam-macam.
Emang sih sebagai muslim kita disuruh husnudzon ama saudara sendiri. Tapi selalu minta dimaklumi bisa bikin kita bermental 'korban' di mana kita kehilangan kendali atas diri kita. Padahal Allah memberitahu bahwa Ia membenci kezhaliman dan menyuruh kita memudahkan urusan orang lain.
Rasulullah saw juga dengan gamblang mencontohkan untuk aktif ngasih penjelasan (bukan alasan) agar orang lain gak suuzhon. Maka di samping berusaha amanah, jangan pernah menggampangkan urusan 'konfirmasi' ini. Minimal berkabar itu saja.
Pernah gak kita memberikan amanah kepada seseorang, mempercayainya untuk melakukan sesuatu, tapi ditolak dengan alasan, "saya ga mampu", atau "saya belum punya pengalam dalam hal itu"? Padahal, kepercayaan yg kita berikan adalah sebuah kesempatan kepada orang tersebut untuk belajar dan mendapat pengalaman, bahkan bertransformasi menjadi ilmu tak terlupakan.
Ketika kelas 11 SMA, saya diamanahi menjadi wakil ketua OSIS (orang nomor 2 di OSIS) dengan masa jabatan 1 tahun. Saya terpaksa menyanggupi, karena pada saat itu ditunjuk oleh ketua OSIS terpilih yang notabene teman sekelas dan sebangku saya. Padahal dari sisi pengalaman, saya belum pernah ngurusin organisasi yang berhubungan dangan hajat hidup ratusan orang. Dari sisi SDM, ada banyak orang lain yg lebih berpengalaman.
Karena belum punya pengalaman, saya benar2 bingung harus melakukan apa. Dalam satu waktu, ada banyak sekali hal yang harus dilakukan. Bahkan sebagai wakil, saya tidak tahu perihal kelengkapan-kelengkapan organisasi, birokrasi sekolah, dll. Akhirnya, banyak hal menjadi tidak jelas. Sampai menimbulkan kegabutan dan kenyinyiran dari berbagai pihak.
Keadaan semakin parah, ketika ada suatu agenda yang merupakan agenda OSIS tapi secara tidak langsung diambil alih oleh salah satu ekskul. Perasaan emosi yg menumpuk jadi satu dan merasa "gak ada guna" membuat saya menangis dihadapan anggota dan pembina OSIS saat itu (inget gw cowo kelas 11 ketika itu).
Beruntungnya, kakak kelas terus memberi bimbingan agar amanah yang saya emban tetap berjalan sesuai koridornya. Well, satu per satu masalah pun selesai.
Pasca acara tersebut, saya mencoba mencatat dan mengingat hikmah apa saja yg bisa didapatkan. Saya mencoba berdiskusi dengan orang yang punya pengalaman lebih, dalam hal kepemimpinan dan organisasi. Di sisi lain, saya mulai membaca buku-buku terkait ilmu kepemimpinan, manajemen organisasi bahkan psikologi.
Dari mencoba, saya mendapat banyak ilmu baru. Mungkin awalnya malu, dan banyak orang yang nyinyir kepada kita atas kondisi kita di organisasi. Kita seolah menjadi "tersangka" di balik berbagai keburukan. Tapi apa salahnya mencoba? Bukankah kita masih dalam tahap belajar?
Manusia bukanlah malaikat yang selalu benar, bukan juga setan yang selalu salah. Alhamdulillah setelah masa jabatan saya di OSIS itu, ternyata saya semakin bersemangat untuk berorganisasi. Belajar dari pengalaman, lama kelamaan akhirnya jadi terbiasa dan bisa.
Begitupun dengan ilmu lainnya. Pernah di satu kesempatan, saya yang terkenal pendiam di kelas (asli gw pendiam banget di kelas) berbicara di depan orang banyak yang cukup menghentak ketika itu. Setelah selesai berbicara itu salah seorang teman berkata "Dra edan maneh keren asli!". Padahal dulu ketika ngomong dihadapan orang banyak, begitu kaku, cupu, gak interaktif, begitu malu-malu. Dan dari pengalaman banyak mencoba, akhirnya terbiasa dan bisa.
Maka jika ada amanah yang menghampiri, kita ambil. Ambil dan cobalah. Jangan pernah meragukan diri kita, karena sungguh manusia memiliki potensi luar biasa melebili batas pemikirannya.
Pada hakikatnya belajar adalah sebuah proses perubahan untuk menjadi tahu dari yang tidak tahu, menjadi bisa dari tidak bisa, menjadi shalih dari yang sebelumnya salah.
Adalah konsekuensi logis apabila semakin sering dan semakin lama seorang digembleng dalam wahana pembelajaran akan semakin menyempit pula ruang ketidaktahuan, ketidakbisaan dan kesalahan dirinya.
Sehingga sikap, ucap dan tindak-tanduknya menjadi semakin membaik. Orang yang digodok dalam kawah pembelajaran yang terus menerus akan menjelma menjadi pribadi yang semakin hari semakin sempurna. Bila keadaannya sudah demikian maka, terangkatlah pula derajat dirinya.
Sudah hampir dua tahun lamanya perahu itu kita kemudikan. Tentunya masih banyak sekali lubang yang harus kita tambal. Tak jarang ombak yang datang sangatlah besar dan meluluhlantahkan setiap sudut perahu dan mental ini. Tetapi sebuah proses berbaikan dalam menjalankan perahu ini selalu kita jalankan dan perhatikan. Setiap waktu yang kita gunakan selalu saya jadikan pelajaran untuk nahkoda selanjutnya yang akan memimpin perahu ini.
Saya beserta awak dari perahu ini memang bukanlah malaikat yang selalu menjalankan kewajiban dengan kesempurnaan. Kita juga tidak hidup dinegeri malaikat yang sangat mengutamakan nilai-nilai ketaatan kepada Rabb pencipta semesta. Tetapi kita berusaha menjalankan setiap kewajiban yang diberikan dengan sepenuh hati dan semampu diri. Dan kita juga mengusahakan setiap sudut-sudut negeri ini untuk bisa seperti negeri malaikat
Rasanya terus bersama membuat kita mengenal satu sama lain. Meninggalkan jejak dihati masing-masing akan pribadi-pribadi lainnya. Semakin lama kita bersama, kita menyadari tidaklah sulit jika semua kewajiban amanah kita jalankan dengan amal jama'i. Sempat terucap "Ya Allah berasa banget mengurusi orang lain amat susahnya". Tetapi kalimat inilah yang menguatkan hati ini. Membuat tertaut akan setiap hati-hati lainnya.
Selama raga masih ada, dan nyawa masih tersangkut di jiwa, maka nikmatilah proses ini. Teruslah menyinarkan setiap inspirasi ke sudut-sudut tepian negeri. Sinar yang akan kita berikan sangatlah berarti untuk orang-orang yang sedang kesepian, tersesat, dan kehilangan cahaya hidupnya.
Indrafitriyana, Sumedang
(Dari Saya untuk kita, para pemikul amanah peradaban)