Niat Menolong Akan Selalu Ditolong
Sekiranya kalimat dari judul tulisan ini telah aku rasakan keabsahannya.
Jadi Ceritanya begini.
Beberapa minggu terakhir, aku dan temanku, beserta organisasi yang ia pimpin telah melaksanakan penggalangan dana untuk salah seorang penderita penyakit kulit langka, di tangannya tumbuh kutil yang sedikit demi sedikit tumbuh di sekitar tangan dan kakinya.
Namanya pak Wasid, warga desa mekarwaning, kabupaten Pandeglang. Beliau menderita penyakit tersebut sudah lebih dari 20 tahun, menurut pengakuan bapak Wasid sendiri, beliau belum pernah menerima penanganan medis sekalipun.
Aku tahu pak Wasid dari temanku, temanku adalah ketua dari organisasi eksektuf di kampusnya, sebut saja BEM Fakultas gitu. Dia kenal dengan pak Wasid dari seorang aparatur desa dimana pak Wasid tinggal. Kebetulan aparatur desa tersebut adalah temanku juga, kami dahulunya satu angkatan di SMP. (yey)
Pertama kali mengetahui bahwa kawan-kawan ku itu sedang mengadakan penggalangan dana untuk orang yang benar-benar membutuhkan. Entah kenapa respon pertama dariku adalah, meminta izin kepada teman ku yang jadi ketua BEM Fakutas itu, untuk ikut membantu menggalang dana.
“Izin ikut galang dana yah bro, Entar dananya gue transfer ke lu”.
“Iya silahkan, dengan senang hati sahabat”. Jawab temanku itu.
Lebay memang temanku itu, semua manusia didunia ini akan dia panggil sahabat, kecuali mantannya kali. (hahay)
Tidak lama kemudian aku langsung posting tentang penggalangan dana di instagram stories. Iya, aku tidak menggunakan fisik ku untuk kejalan menggalangkan dana. Kenapa?, karena aku orangnya pemalu, boro-boro ingin menggalang dana di jalan, diliatin nyebrang jalan aja aku mah gak jadi nyebrang. (haduh)
Aku hanya posting di Instagram Stories, bukan post Instagram. Tidak lama kemudian, teman-teman yang kebetulan terhubung dengan Instagramku, langsung me-reply Story ku itu, mereka meminta nomor rekeningku, agar mereka bisa transfer donasi mereka.
Satu, dua, tiga orang membalas IG Stories ku, ada yang sekedar tanya kenapa, ada yang menanyakan kepedulian pemerintah dimana, ada yang sekedar mendoakan, ada yang mendonasikan rezekinya tanpa ingin di pamerkan namanya, ada yang sudah mencoba transfer tapi gagal, ada yang transfer dengan diam-diam, padahal donasinya tergolong besar, dan ada juga teman aku yang berdonasi langsung secara cash, kami COD di sekitar kampus. (Caelah Ce O De, udah kaya online shop aje)
Masyaallah, semua benar-benar dimudahkan dan dilancarkan, tanpa lelah sedikitpun, tanpa jenuh sedikitpun.
Tadinya aku juga mau melakukan penggalangan dana secara offline, keliling-keliling gitu mencari recehan dari teman-teman mahasiswa di kampusku, tetapi sekali lagi, aku adalah orang yang pemalu, jangankan keliling-keliling nyari donasi, nyari jodoh aja aku mah kesandung mulu. (hadeh hadeh)
Satu minggu donasi dibuka, allhamdulillah donasi terumpul sebesar 1.255.000 rupiah, dana yang sangat besar untuk seorang pak Wasid yang berasal dari desa yang sederhana. Dana itu belum termasuk dengan dana yang akan di gabung dengan dana yang didapatkan dari hasil penggalangan dana di jalan-jalan oleh teman-teman organisasi kampus di pandeglang. Luar biasa, dana yang terkumpul lumayan besar sekitar 2,5 juta. (Gede lah yah)
Dana tersebut diberikan kepada pak Wasid untuk sedikit membantu meringankan aktifitas sehari-hari beliau., bukan untuk berobat, operasi atau semacamnya. Karena kami sadar, untuk memberikan bantuan berobat atau operasi, haruslah ditangani oleh orang-orang yang benar-benar kompeten dan mempunyai rezeki lebih tentunya.
Aku dan temanku berkompitmen untuk membantu mempertemukan pak Wasid dengan jodohnya, yaitu Hamba Allah yang dermawan yang akan membantu pak Wasid untuk berobat dan melakukan operasi kulit, sampai pak Wasid sembuh.
Temanku sudah meminta tolong pemerintah kota, meminta bantuan organisasi kedokteran indonesia, mengetuk hati pemerintah, dan sampai saat ini belum ada kepastian dari pihak manapun. Namun, kami masih berdoa dan berusaha untuk menemukan orang dermawan tersebut.
Masa sih tidak ada orang baik di Indonesia yang mampu membiayai pak Wasid?, kami yakin ada, pasti ada!, tapi kami harus lebih giat lagi berusaha dan berdoa.
Ditengah masa pencarian, terdengarlah kabar bahwasanya di jakarta akan ada Aksi Damai dari umat islam. Aksi ini sudah terkenal dengan kedamaiannya, yang konon katanya “rumputpun tak ada yang lesu karena Aksi Damai mereka”. Dari kabar tersebut, aku langsung merencanakan pencarian orang dermawan tersebut.
Dengan nama Allah yang maha segalanya, kaki ini melangkah dengan penuh keyakinan, bahwasanya orang baik itu pasti ada di kerumunan Aksi tersebut.
Aku berangkat dari kosan menuju Masjid terbesar di Asia Tenggara, yaitu Masjid Istiqlal, yang menjadi titik temu peserta aksi. Namun sekali lagi aku hanya berniat mencari orang dermawan, bukan ikutan Aksi Damai tersebut.
Dari kejauhan aku melihat deretan mobil ambulan dengan tulisan “Melayani Pengobata Gratis”. Hati langsung sumringah, dan ngedumel memanjatkan do’a “Ya Allah, pertemukan aku dengan orang dermawan yang engkau berkahi, supaya aku bisa menolong saudaraku dikampung yaitu pak Wasid”.
Dikarenakan aku orangnya pemalu, maka dari siang sampai sore aku hanya keliing mundar-mandir kesana kemari tak jelas. Ingin nyamperin dokter-dokter itu tapi rasanya malu, berat, dan “aku harus ngomong apa ke mereka?”.
Aku mengelus-elus map putih yang berisi dengan foto pak Wasid, yang aku bawa sebagai barang bukti untuk diperlihatkan kepada calon donatur nanti, karena aku takut Hape ku mati.
Setelah lama melawan rasa malu, akhirnya kumandang adzan asar terdengar, aku pergi ke mushola di dalam monas untuk melakukan solat, dan berdoa kembali agar aku diberi keberanian untuk berbicara dan tentunya semoga di lancarkan pertemuan tersebut.
Selepas solatku panjatkan, aku langsung melangkahkan kakiku yang tidak memiliki rasa lesu kala itu, bukan karena semangat mencari orang dermawan, tetapi karena sudah menerima nasi kotak gratis dari donatur Aksi Damai tersebut. (heheyy deuh)
Keluar dari lingkungan monas, aku melangkah terus dan mataku tertuju pada satu bapak-bapak yang sedang duduk dipinggir trotoar, memakai peci putih dan rompi hijau bertuliskan “Tim Medis”. Dengan tenangnya bapak tersebut memaikan gadget yang dia bawa, lalu tanpa basa basi aku mengucapkan salam pada beliau.
“Assalamualaikum, pak”.
“Waalaikumusalam”. Bapak tersebut menolehkan pandangannya kepada ku, dan memandangku dari ujung kaki sampai ujung rambut.
“Pak, saya Taufik dari pandeglang, benar ini melayani pengobatan gratis pak?.” Sedikit basa-basiku pada beliau.
“Ya.. tergantung”. jawab beliau.
“Apa ini pengobatan khusus peserta Aksi Damai saja pak?”. Tanyaku lagi.
“Ya tergantung”. jawabannya yang sama terlontar.
Aku berkata, “ini orang cuek amat ya, apa lagi yang harus aku tanyakan?”. Berkata dalam hati tentunya.
“Tergantung seperti apa ya pak?”. Tanpa menyerah aku terus melakukan pendekatan. (Ciee pendekatan Cieeeee)
“Ya tergantung, emang kamu kenapa?”. Bapak itu menanyakan maksud dan tujuan saya.
Nah, disitulah pintuku terbuka untuk curhat dan memasang muka melas. (hehe)
“Jadi begiini pak, saya punya tetangga, namanya pak Wasid, beliau ini menderita penyakit kulit langka, semacam Manusia Akar gitu pak, bapak tahu kan?”. Curhatku dengan nada pelan dan jelas.
Bapak itu hanya mengangguk. Lalu kuteruskan curhatannya.
“Jadi, maksud saya, saya sedang mencari pertolongan untuk bapak Wasid ini, ya mudah-mudahan bapak atau teman-teman bapak bisa menolong gitu pak”. Ceritaku pada bapak tersebut.
Setelah mendegar penjelasan pendekku, bapak itu langsung merogoh saku celananya dan memberikan selembar kartu nama bertuliskan Jhony, dan ada lagi tulisan Ambulan Syari’ah diatasnya.
Bapak tersebut bernama bapak Jhony, pak Jhony adalah orang deramawan yang baik hati.
Aku tidak banyak bertemu orang medis di Aksi Damai waktu itu, namun Allah langsung menjodohkan aku dengan orang dermawan seperti pak Jhony, tanpa bertemu calon donatur pertama, kedua atau ketiga, aku langsung diteprtemukan dengan pak Jhony.
Pak Jhony bukanlah orang kaya sebagaimana pandangan dan syarat untuk jadi orang dermawan pada umumnya. Namun, pak Jhony adalah orang yang peduli terhadap sesama. Kepeduliannya tersebut dia salurkan dengan mendirikan Yayasan Umat bernama Yayasan Indonesia Syari’ah Peduli.
Yayasan tersebut dibentuk atas dorongan rekan-rekan pak jhony, karena banyak sekali umat yang banyak membutuhkan bantuan pengobata gratis, apa lagi penyakit-penyakit mematikan sudah sering menyerang kalangan tidak mampu.
Dengan Yayasan tersebut, pak Jhony sudah banyak menolong orang, aku pernah bertemnu dengan Luki, bocah yang menderita kanker di kepala dan perutnya. 3 kanker bersarang dikepalanya, dokter-dokter sudah menyerah untuk menangani Luki. Namun, kegigiha, kepercayaan dan kepasrahan pak Jhony terhadap rahmat Allah Subhanahuwataala sungguh tidak diragukan lagi.
Pak Jhony merawat Luki seperti keluarganya sendiri, dan menyediakan rumah untuk orang tua Luki, supaya dapat terus dekat dengan Luki.
Kini aku dipertemukan dengan pak Jhony seorang yang dermawan dan baik hati. Kini pak Jhony insyaallah akan membantu pak Wasid, tetanggaku yang menderita penyakit kulit langka “Manusia Akar”.
Akan ku ceritakan lagi kisah-kisah pertemuanku dengan orang-orang baik, karena aku yakin, kebaikan itu berputar, suatu saat kebaikan itu akan kembali kepadaku, kepadamu dan kepada siapapun yang berbuat baik. Entah Ia akan kembali didunia ataupun bertemu di akhirat kelak.
Terima kasih teman-teman sudah meluangkan waktu untuk membaca curhatanku ini, doakan supaya aku bisa istiqomah untuk menolong orang, membantu orang, dan membahagiakan orang, termasuk kamu.
Jika kamu ingin berdonasi untuk pak Wasid, kamu bisa kirimkan donasi kamu ke Nomor Rekening Bank BRI 0935 0103 0481 532 atas nama Yayasan Indonesia Syari’ah Peduli.








