Tragedi Sang Penyelamat
Kamu berdiri di sana, dengan punggung tegak dan jemari yang gemetar memegang selang air itu.
Matamu berbinar melihat pucuk-pucuk hijau di taman tetangga mulai merekah, memuja setiap tetes air yang selalu kamu berikan tanpa jeda, seolah kamu adalah Tuhan bagi kehausan mereka. Kamu bangga, bukan? Menjadi alasan mengapa mawar di seberang pagar itu telah mekar dan tegak menantang matahari.
Namun, berpalinglah sejenak. Lihatlah ke belakang, ke arah gerbang yang lama kamu abaikan berkarat.
Di sana, di tamanmu sendiri, keheningan adalah suara kematian yang paling nyaring. Bunga-bunga yang dulu kamu tanam dengan janji-janji manis kini hanya menyisakan batang cokelat yang rapuh. Kelopaknya telah lama menyerah, menunggu gugur menjadi debu kemudian pergi tertiup angin menjauh. Tanahmu kering, menjerit meminta sisa tetesan perhatian yang kamu tumpahkan dengan cuma-cuma di taman orang lain.
Kamu sedang membangun surga untuk orang yang bahkan tidak akan mengundangmu masuk, sementara rumahmu sendiri perlahan bertransformasi menjadi kuburan.
Kamu lebih memilih menjadi "asing yang berjasa" daripada menjadi "tuan yang bertanggung jawab."
Ketahuilah, saat bunga di taman orang lain itu mekar dengan indahnya, mereka akan menutup pagar. Dan kamu? Kamu akan pulang ke rumah, hanya untuk menemukan bahwa tidak ada lagi warna yang tersisa untuk menyambutmu. Hanya ada abu, tanah kering, dan aroma penyesalan yang mencekik leher.
"lalu, sampai kapan kamu akan terus menyirami taman orang lain, sementara bungamu sendiri mati kekeringan?"
Tak ada yang perduli denganmu kecuali dirimu sendiri















