Dengan atau Tanpa (Pak) Ahok?
Maaf karena kami (terutama saya) sering angkuh dengan memanggil anda tanpa embel-embel “Pak”. Toh seringkali saya panggil Pak Presiden hanya dengan “Jokowi”. Padahal usia saya jauh dibawah anda, pak. Mungkin setara dengan anak anda, atau bahkan lebih muda. Saya tidak tahu, saya tidak peduli.
Pak.
Jujur, saya Kristen dan jujur, pertama kali saya aware dengan kehadiran anda adalah karena anda Kristen. Tapi sekiranya, kali kedua dan kali-kali setelah itu saya tidak peduli anda Kristen. Saya tidak peduli agama anda. Toh kalau pun anda tidak beragama juga tidak mempengaruhi rasa hormat saya kepada anda.
Pak,
masih ingat dulu saat anda masih jadi Wakil Gubernur DKI dan sering mengupload video anda “melabrak” para anggota pemerintahan pada saat meeting dengan anda? Waktu itu saya masih magang di salah satu hotel bintang lima di Jakarta. Walaupun dunia saya sekarang sama sekali berbeda dengan perhotelan yang selama 3 tahun saya tempuh di sekolah dan saya menyebrang ke dunia visual storytelling yang memang notabene adalah impian saya sejak kecil. Ingatan saya saat masa internship saya di hotel tersebut membekas sekali, pak. Bukan karena saya benar-benar asik magang disana (yang memang harus saya akui cukup asik) tapi karena saat jarang ada tamu, para pegawai di Executive Floor terkadang menyalakan youtube dan menonton video “labrak” anda dan mengajak saya nonton bareng.
Coba bayangkan, pak. Tempat kerja yang biasanya serius jadi ceria karena video “labrak” anda yang memang lucu dan berani. Saya dan para pegawai hotel tersebut sering mengumpat “mampus lu!” saat anda memarahi kinerja beberapa orang dari pemerintahan.
Pak, saya rindu teriakan-teriakan gembira dan dukungan masyarakat saat anda dengan berani memerangi kinerja-kinerja malas orang-orang pemerintahan bak seorang kstaria. Tapi sekiranya, hal itu mungkin tidak akan ada lagi sejak negara api menyerang, eh, sejak Pak Jokowi banting setir dan beralih menjadi Presiden dan anda, mau tidak mau, dijadikan Gubernur. Sejak anda menjadi Gubernur, saya rasa orang-orang yang tidak suka dengan anda semakin terlihat. Mungkin dulu mereka baik-baik saya melihat seorang kafir menjadi Wakil Gubernur tapi saat beralih menjadi Gubernur, masalahnya lain, pak. Terlebih saat anda mengutip ayat dari Al-Quran yang menjadikan anda “buronan” mayoritas masyarakat Indonesia, setidaknya masyarakat Ibukota. Pak, saya pun tidak setuju saat anda mengutip ayat dari kitab yang bukan dasar dari kepercayaan anda. Saya pikir itu tindakan bodoh. Tapi saya pikir akibat yang terjadi setelahnya lebih aneh dan membuat saya mengernyitkan alis saya. Apa ya, pak, kata-kata yang cocok? Konyol, mungkin. Saya tidak ingin membahas lebih jauh tentang pertentangan agama disini, pak. Saya pun dulu saat sekolah beberapa kali dibilang orang lain bahwa kepercayaan saya itu palsu. Bahwa Yesus Kristus itu hanya penipu dan manusia biasa. Harusnya langsung saya laporkan sebagai penghinaan agama, eh, atau penindasan agama, ya? Saya bingung dengan UU-nya, pak. Bahkan saya pernah nonton acara TV yang hanya membahas UU penindasan agama dan UU penghinaan agama. Rumit, pak.
Pak, sekarang bapak di tahanan. Sebenarnya saya, sama seperti ribuan pendukung bapak, tidak setuju dengan bapak ditahan tapi saya, sebagai warga negara, harus menghormati keputusan pengadilan. Pak, tahu tidak? Saat saya tahu bapak ditahan, saya tidak terlalu syok karena saya sudah bisa menebak bapak akan ditahan tapi saat Ibu Vero, istri anda, menangis membacakan surat anda yang ternyata tidak jadi banding, saya pilu, pak. Saya tidak ingin mengatakan kelebihan-kelebihan apa saja yang bapak punya sehingga banyak sekali orang yang suka dan serta mencemooh anda. Saya tidak usah mengatakan itu karena sudah diceritakan banyak sekali orang. Pak, kata orang tua, setiap hal buruk tetap ada faedahnya masing-masing. Mungkin dari kasus bapak, saya jadi lebih peka terhadap sifat dasar manusia: bertengkar dan menghakimi. Mungkin dari kasus bapak, saya jadi lebih paham: tidak semua orang baik dan jujur mendapatkan jalan yang lurus. Sama seperti Nelson Mandela atau Martin Luther King Jr. , jalan yang diberikan kepada anda rumit dan berbelok-belok. Saya hanya berdoa akhir kisah anda, pak, tidak berujung pada peluru seperti Martin Luther King Jr. yang dibunuh begitu saja. Saya harap dunia sekarang dan Indonesia lebih manusiawi dan mengasihi.
Pak, Mungkin akhirnya saya selesaikan cerita saya dengan bertanya kepada orang-orang yang meluangkan waktu membacanya:
Dengan atau Tanpa (Pak) Ahok?