bukan hening malam yang berbicara.
bukan lagi tentang sukma dan kepala.
lirih tangan ini tak sampai mereda.
tak lagi mengulur pada harap-harap yang lebur..
jiwaku hanyut pada kelam..
diiringi sendu dengan bahasa pilu..
larut pada takdir masalalu..
seringkali ada gema tawamu..
dengan sisa hangat yang tak sempat kupeluk utuh..
menyentuh luka yang belum pandai sembuh.
kita pernah sempat berlari..
memungut utuh dari sisa yang rapuh..
terseok-seok sampai hatimu lumpuh..
:'menggeram..
pada arah yang tak sejalan..
langkahmu membayang kecewa
sedang..
aku terseret sesal diujung namamu..
dan di bait terakhir yang tak sempat selesai ini,
izinkan aku berbisik
maaf…
maaf
karena tuntutanku lebih nyaring dari pengertianku,karena egoku lebih besardari cara mencintaimu dengan benar.









