Beberapa Paragraf tentang
Cinta. Semua orang sudah tahu, bahwa cinta adalah tema dunia ini. Bukan sekadar tema di dunia. Jangan gunakan “di” seolah cinta adalah objek yang tergelatak atau berada “pada”, tapi dia adalah dunia itu sendiri. Cinta itu dunia dan dunia itu cinta. Cuih.
Lagu Slank apa yang melekat di benak orang? Terlalu manis. Lagu Jamrud mana yang terkenal? 30 puluh menit. Coba suruh anak umur 20an dari sepenjuru Indonesia gegitaran bareng. Lagu-lagu dari Sheila on 7, Peterpan, Ungu, Samsons, Letto, atau grup musik apa pun yang bertema cinta yang pasti menjadi pemersatu mereka.
Di sepanjang jalan tepi pantai selatan, yang menghubungkan Sindangbarang, Cianjur, dengan pantai Rancabuaya, Garut, saya mengulang-ulang lirik lagu hilang ingatan.
Menghilanglah dari kehidupanku
Enyahlah dari hati yang telah hancur
Kehadiran sosokmu kian menyiksaku
Biarkan di sini kumenyendiri
Enam puluh kilometer jauhnya, tapi tidak ada siapa pun di sepanjang jalan, kecuali saya, kecuali teman-teman saya yang berada di belakang. Toh, saat itu tengah malam dan saya memang memilih jalur antah berantah.
Pergilah bersamanya di sana
Dengan dia yang ada segalanya
Bersenang-senanglah sepuasnya
Biarkan di sini kumenyendiri
Hah ? Biarkan di sini kumenyendiri lagi ? Pasti di baris terakhir bait kedua liriknya berbeda. Masa, Biarkan di sini kumenyendiri lagi. Berlebihan rasanya. Saya coba mengulang kembali dari bait pertama.
Biarkan di sini kumenyendiri
Biarkan di sini kumenyendiri
Meski diulang berkali-kali juga, bahkan sambil berteriak menantang angin ombak malam, saya gagal menemukan lirik yang (saya anggap) hilang itu. Saya pun menepuk lutut teman di belakang, meminta bantuan. Dia meminta saya mengulang lagu itu dari awal.
Tidak membantu. Karena memang dia tidak berniat membantu lebih. Mungkin teman saya itu mengantuk. Saya berharap kami memasuki jalanan yang hancur, biar goncangannya terus-terusan, dan tidak ada alasan bagi orang yang dibonceng untuk mengantuk. Masalahnya, jalanan ini, jalur pantai selatan jawa barat, berkontur mulus, dan sebagian besar lurus.
Saya pun menyerah dengan hilang ingatan ini. Saya terus bergerak menyusuri timur di angka stabil enam puluh. Di kejauhan, tampak awan membentuk kepala anjing – mungkin saja naga – menembus dari langit selatan, di atas lautan, menerkam daratan rimba dan barisan gemunung. Bulan hadir sebagai penyorot.
“Seolah sejam lagi fajar tiba.”
Tak ada balasan. Entah ke mana sorakan itu menyesap, hanya bulan dan tuhan yang melihat dari kejauhan. Di tanjakan panjang, saya mengepal dan memutar jemari dengan tegang, wajah ini tepat berpandangan dengan muka rembulan yang bulat berkeriput.
Andaikan kau datang kembaalii
Baris itu berakhir dengan selingan suara ban selip, karena sehabis tanjakan tiba-tiba jalan menukik ke kiri tegak lurus menurun. Sedikit berayun kiri kanan, saya berhasil keluar dari kecelakaan ringan yang mungkin terjadi, seperti nyungsep jurang atau lecet lutut seperti luka anak-anak di mana pun di dunia ini.
Jawaban apa yang kan kuberii
Sambil mengangkat tangan kiri memohon pada bulan.
Adakah jalan yang kau temuii
Dengan sedikit memiringkan badan di tikungan kecil, begitu dekat dengan tanah, saya menutup pujaan ini. Saya merasa menjadi sedikit lebih baik sebelum saya yang sebelum di tikungan tegak lurus ke kiri setelah tanjakan.
Ada permasalahan besar yang cukup mengganggu. Apakah cinta menguatkan atau melemahkan?
Ada pahlawan yang berjuang dan memenangkan pertarungan karena narasi cinta. Banyak pula yang tolol dan gugur karena cinta. Dan keduanya dialami Rahwana. Atau semua entitas akan mengalami keduanya juga? Adakah Tuhan pun demikian? Untung saja saya didoktrin dengan tauhid paling mutakhir. Apa pun yang kau bayangkan tentang Tuhan, maka pasti Tuhan bukan seperti itu, karena otak manusia tidak sanggup membayangkan Ia dan kuasa-Nya. Berarti jika saya membayangkan Tuhan itu tolol, maka tentu Tuhan tidak seperti itu. Jika saja kau menganggap saya bodoh dan kafir, maka mungkin saja saya begitu, karena saya bukan tuhan. Jadi jika pada Tuhan diberlakukan pertanyaan, apakah cinta itu menguatkan atau melemahkan, apa jawabnya? Tuhan itu Maha Kuat, tidak ada kelemahan pada-Nya. Tapi apa-apa yang kau bayangkan tentang Tuhan, maka Ia tidak seperti itu. Jadi, Tuhan itu lemah, begitu? Oh tolonglah, kurangi ketololan kalian. Aku percaya kalian tolol, maka kalian tolol, karena kalian bukan Tuhan. Tolonglah ketololan kalian. Jangan lupa ajak saya ikut serta.
Pada suatu kisah, cinta menghidupkan hari. Di warung kopi pelosok lain, ada seorang bapak paruh baya yang menangis karena diselingkuhi istri tepat di depan selangkangannya. Ada seorang tetangga bugis yang rela memberikan seluruh warung dan rumahnya kepada istri yang tidur dengan lelaki jawa yang juga meniduri anak gadisnya, hanya karena dia berharap anak lelakinya kelak “sukses” dan tidak menjadi sepertinya. Masalahnya, anaknya pun ikut meniduri anak perempuan yang tadi sudah ditiduri lelaki jawa yang tidur dengan istrinya. Apakah cinta masih menghidupkan hari? Bagi saya, iya. Kehadirannya menghibur dan akibat-akibatnya pun menjadi semacam komedi, bisa pula menjadi romantis, atau bisa apa saja. Seolah, terserah kita mau memaknainya seperti apa. Seolah kita adalah cinta itu sendiri. Seolah kita adalah dunia itu sendiri. Dunia menciptakan kita, tapi sebenarnya dunia menciptakan dunia yang lain lagi. Dan kita menciptakan dunia, tapi sebenarnya kita sedang menciptakan kita yang lain. Apa yang terjadi dengan lelaki bugis yang istrinya ditiduri lelaki jawa dan anaknya ditiduri lelaki jawa yang meniduri istrinya tepat di depan selangkangannya dan anak lelakinya meniduri anaknya yang ditiduri lelaki yang meniduri istrinya di depan selangkangannya? Beberapa bulan setelah dia pamit kepada bapak saya sambil menangis dalam diam, yang hanya ditatap iba oleh bapak sambil mengelus lengannya untuk menenangkan, dia, lelaki bugis itu, mendapat warisan tanah yang luas di kampung dan mengirimkan uang setiap bulan kepada keluarganya yang sekarang sedang berbahagia karena saling meniduri. Kenapa pula dia harus mengirimkan uang secara rutin kepada mereka?