HARMONI JALANAN KOTA NYIUR MELAMBAI
Kota di utara Pulau Sulawesi ini terkenal dengan slogan “Torang Samua Basudara” yang berarti “Kita Semua Bersaudara.” Memang kota ini ramah menyambut siapa saja, penduduk maupun pendatang.
Banyak sekali tempat indah dan menarik yang menanti untuk dijelajahi di Manado, sehingga kota dengan panganan khas Tinutuan alias bubur Manado ini sering menjadi tujuan wisatawan lokal dan asing. Sebut saja Bunaken, taman laut yang sudah sangat terkenal di dunia.
Tak hanya itu, Manado juga menyimpan budaya yang kaya. Kota Manado menjadi tempat bercampurnya budaya lokal dari berbagai daerah di Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku dan Papua, hingga Jawa. Mereka datang ke Manado dengan berbagai alasan, mulai dari menimba ilmu, bekerja atau hanya sekedar jalan-jalan. Budaya barat yang diadopsi dari film-film pun mulai mempengaruhi, terutama remaja tanggung hingga usia 30-an.
Saya tertarik untuk mengabadikan kekayaan budaya ada di kota Manado dalam satu hari saja. Kebetulan pada kesempatan itu masih terasa nuansa hari besar umat Kristiani yang dianut oleh sebagian besar warga Sulawesi Utara–termasuk Manado–yaitu hari Natal, dan menyambut tahun baru.
Perjalanan saya hari itu dimulai pagi sekali. Awan mendung yang perlahan berlalu seakan merestui keingintahuan tentang masyarakat urban di kota ini dan membawa saya ke pasar-pasar besar di Manado. Entah mengapa saya suka memotret suasana hiruk-pikuk pasar, tempat bertemunya penjual dan pembeli. Bukan karena sebelumnya saya kuliah di ekonomi.
Nelayan datang dari laut membawa berbagai macam ikan dengan background Jembatan Soekarno yang menghubungkan jalan Boulevard 1 dengan jalan Boulevard 2 yang belum rampung pembangunannya. Selain pasar, tempat ini juga bisa menjadi salah satu alternatif jika ingin ke Bunaken. Banyak perahu-perahu tradisional yang siap mengantarkan dengan harga yang relatif terjangkau. Letaknya dipinggir laut, dekat dengan pelabuhan Manado membuat tujuan utama orang ke pasar Jengki adalah untuk membeli ikan segar hasil tangkapan nelayan yang melimpah ruah. Manado menjadi salah satu surga bagi penggemar seafood. Bumbu rica-rica atau irisan dabu-dabu yang terkenal membangkitkan selera makan bagi siapa saja yang berkunjung ke kota ini. Dari warung ikan bakar sampai restoran, bahan baku utamanya dibeli di pasar Jengki ini. Terlihat jelas geliat ekonomi kota ini.
Di pasar Karombasan hampir semua barang keperluan rumah tangga ada disini; dari sayuran segar yang “diimpor” dari daerah pegunungan sekitar Manado seperti Tomohon tersedia disini, fresh from the oven! (well, it’s farm actually), macam-macam daging hewan dari yang halal sampai yang haram (bagi umat Muslim), ikan, hingga baju dan perlengkapan rumah tangga. Ada yang menarik perhatian saya di pasar Karombasan yaitu angkutan kota jarak pendek dengan menggunakan mobil terbilang lawas namun terawat. Saya teringat masa kecil saya, dulu ayah saya punya mobil seperti ini, saya menyebutnya “mobil ontong” karena suaranya.
Pedagang kembang api di pasar 45 yang letaknya tak terlalu jauh dari pasar Jengki. Di akhir tahun menjelang Natal sampai tahun baru, Kota Manado juga terkenal dengan pesta kembang api. Bukan pesta kembang api seperti biasanya yang dikoordinir atau pelengkap suatu acara besar, namun sudah menjadi tradisi masyarakat Manado–bahkan Sulawesi Utara hingga ke kampung-kampung–untuk bermain kembang api. Tak tanggung-tanggung, budget yang dikeluarkan hingga jutaan rupiah. Di kompleks pasar 45 banyak sekali penjual kembang api berbagai merk dan ukuran. Bahkan mungkin segala jenis kembang api dijual disini.
Masih di kawasan pasar 45, terdapat kuil yang cukup terkenal yaitu Ban Hin Kiong. Kuil Ban Hin Kiong Kuil ini adalah rumah ibadah untuk para pengikut Tridharma di Manado dan daerah sekitarnya, merupakan kuil tertua yang dibangun disini. Umurnya kurang lebih 335 tahun. Ban Hin Kiong berarti Ban Hin Kiong berarti istana suci yang memancarkan banyak kebahagiaan.
Sebagian besar penduduk Sulawesi Utara– khususnya Manado–menganut agama Kristen. Mereka hidup dan bersosialisasi dengan rukun dan harmonis dengan penganut agama lain; umat Muslim, Budha, dan Hindu. Di kompleks pasar 45 saja terdapat beberapa Masjid.
“Nyabu” atau nyarap (sarapan) bubur bukan hanya punya Jakarta, Tinutuan (bubur Manado) menjadi makanan khas di Manado. Mengawali hari dengan sarapan seperti ini sangat menyehatkan, apalagi ditambah “aksesori” berupa perkedel jagung, perkedel nike, tahu, dan pisang goreng. Sepiring Tinutuan saya habiskan untuk brunch dan agak sore saya memilih warung makan masakan rumah (seperti warteg di Jawa). Hati-hati jika ke tempat seperti ini, kebanyakan makanan yang dijual tidak bisa dinikmati umat Muslim alias haram.
Sedikit menuju arah pusat kota, tak jauh dari titik nol kota Manado terdapat Gereja GMIM Sentrum. Gereja ini adalah gereja tertua di Manado, lebih tua dari kuil Ban Hin Kiong. Gereja yang awalnya bernama Gereja Besar (Oude Kerk) Manado ini dibangun oleh pemerintahan Hindia Belanda, lalu pernah menjadi markas Manado Syuu Kiri Sutokyop Kyookai (MSKK) di era pendudukan Jepang. Lalu pada Perang Dunia II, gereja ini pernah hancur di bom oleh tentara sekutu. Untuk mengenangnya, dibangun tugu Perang Dunia II persis disebelah kiri gereja. Tahun 1952, gereja ini dibangun kembali di lokasi yang sama.
Jaman modern seperti sekarang ini, pasar telah berkembang menjadi mall. Generasi-generasi muda lebih memilih berbelanja di mall dibanding blusukan ke pasar, tak lain karena mall menawarkan lebih dari sekedar berbelanja. Hang out alias nongkrong adalah cara remaja-remaja tanggung–hingga usia 30-an–untuk bersosialisasi. Pada suasana Natal dan tahun baru pusat perbelanjaan menawarkan potongan harga yang menarik sehingga pembeli memadati mall untuk berburu pakaian dan aksesoris lain.
Bagi sebagian orang, hang out atau bercengkrama dengan keluarga tak perlu ke mall. Seorang supir taksi membawa keluarganya untuk menikmati pemandangan sunset di kawasan Megamas. Sungguh, bahagia itu sederhana.
Pesta kembang api pun dimulai. Kota Manado layaknya zona perang, bunyi kembang api terdengar dimana-mana. Saya teringat sebuah film yang menceritakan perang di Irak, suara kembang api yang meledak disetiap penjuru kota persis seperti sound effect film itu. Anak muda dalam pencarian jati diri memulai pestanya sendiri.
Kawasan Boulevard dan Megamas menjadi tujuan utama warga Manado dan daerah lain disekitar kota Manado. Yang dari kampung-kampung pun tumpah ruah disini, berbaur dengan penduduk kota, pendatang, dan traveler seperti saya. Jarak pandang terbatas karena asap kembang api dan kemacetan tak bisa dihindari.
Inilah Manado, kota terbesar paling Utara Indonesia, dimana perbedaan budaya bercampur jadi satu dalam keharmonisan. Tak ada orang asing, karena “Torang Samua Basudara!”

















