Jadilah lilin di tengah kegelapan
“Untuk apa bapak dan ibu guru pergi jauh-jauh ke Tunggal Jaya, Ujung Kulon?”
“Mungkin bapak dan ibu guru sakit? Ya sakit. Bapak dan ibu guru terkena penyakit jiwa. Nama yang cocok untuk penyakit kejiwaan tersebut, CINTA. Penyakit tersebut membuat bapak dan ibu guru rela mengorbankan tenaga, pikiran, harta demi yang tercinta, Banten dan Indonesia. Dan pengabdian adalah dampak nyata dari penyakit ini.”
“Saya selaku tokoh pemuda sendiri tidak mendapat petunjuk dari mana asal penyakit ini. Tapi saya berharap bapak dan ibu guru tidak mengobati penyakit ini dulu. Biarkan ini menginfeksi seluruh tubuh dan orang-orang disekitarnya. Supaya lebih banyak lagi orang yang sadar untuk menyalakan lilin di tengah kegelapan.”
Kang Mad Thabi’I (Tokoh Pemuda)
Indonesia mungkin terkenal akan negeri yang diberkahi dengan kekayaan alam yang luar biasa. Namun, sejatinya kekayaan terbesar yang kita miliki adalah manusia Indonesia; Mereka adalah berlian-berlian yang perlu diasah, sebagai penerus bangsa ini dimasa depan, yakni generasi rabbi radhiyyah.
Pertemuanku denganmu, sejatinya memberikan ku kesempatan untuk ikut turut serta dalam membentuk generasi rabbi radhiyyah tersebut. Dengan secara sepenuhnya bergabung denganmu telah memberikanku keluarga, pengalaman, serta pelajaran baru yang barangkali tidak bisa didapatkan ditempat lain.Dengan segala hal yang telah didapatkan tersebut telah membuatku angkuh dengan merasa bangga dan hebat. Tetapi suatu ketika engkau mengajari aku dengan mengemban suatu amanah yang baru bagiku. Dari situlah aku belajar dalam membentuk generasi rabbi radhiyyah setiap orang memiliki hal unik termasuk suatu organisasi yang mempunyai caranya sendiri untuk menginspirasi banyak orang. Kadangkala aku merasa lelah harus menyempatkan hari liburku atau hari-hari lainnya untuk datang berjumpa dengamu, tetapi aku baru sadar hal itu bukan seberapa.
Terdapat orang-orang lain yang lebih hebat yakni mereka menginspirasi, membina anak-anak yang menderita penyakit mematikan, kanker. Mereka harus membina tetapi tidak boleh sampai adik-adik binaan mereka jatuh hati. Mereka lah 3C. Bisa kita bayangkan bukan bagaimana membina adik yang sakit, tetapi tidak boleh sampai adik itu jatuh hati kepada kita? Adapun birena dan bale mentari yang membina adik-adik tanpa meminta bayaran sedikitpun serta dari latar belakang adik yang beragam. Bisa kita bayangkan juga betapa sulit mengatur adik-adik binaan mereka. Bahkan suatu komunitas yang mendatangi adik-adik binaan mereka bukan sebaliknya. Dan masih banyak yang seperti mereka yang tidak bisa disebutkan satu-satu. Merekalah saudara-saudara seperjuangan kita, dengan keunikan mereka masing-masing yang tidak bisa kita bandingkan antarlainnya.
Aku beruntung sekali bisa mengenal, berjumpa, serta dapat belajar dari mereka. Ketulusannya untuk mendedikasikan dirinya terutama untuk oranglain tanpa mengharapkan imbalan uang ataupun pujian. Tulus dari hati mereka. Aku masih dan ingin terus bersamamu, mengabdi dan menginspirasi banyak orang. Ingin bersama denganmu menjadi lilin di tengah kegelapan. Dirimulah PAS-ITB yang menjadi penyala harapan bagi mereka. Anak-anak.
Aku sadar diriku masih belum memberikan peran yang begitu besar, tetapi aku belajar bahwa peran kecil maupun peran besar, bukanlah ukuran kemuliaan. Yang menjadi ukuan adalah bagaimana cara kita menjalankan peran tersebut. Karena lebih baik menyalakan lilin daripada sekadar mengutuki kegelapan. Lebih baik berjuang daripada berpangku tangan.
Dengan menghayati penuturan kisah mereka semoga PAS-ITB ini bisa menjadi lilin di tengah kegelapan. Dimana anggota-anggotanya menderita penyakit jiwa, bernama CINTA. Yang hatinya benar-benar tulus untuk membentuk generasi rabbi radhiyah tanpa pernah mengharapkan imbalan uang ataupun pujian. Amin