I’m Grateful Being Loved But I Lose Part of My Father Root
Kisah asmaranya dengan Heinrich yang sempat berakhir adalah satu faktor yang menyebabkan Lena mengalami depresi. Sejak kecil—butuh waktu lama untuk mengakui—ia sudah tidak baik-baik saja. Bertanya-tanya kemana ayahnya, mengurung niat bertanya dan takut membuat mendiang ibunya sedih. Memaksa diri bersyukur setidaknya ia tinggal di Austria dengan kualitas hidup lebih baik dan bisa tidur nyenyak, makan cukup meskipun dalam standar Austria ia termasuk golongan biasa saja.
Inner child-nya terluka, ia tak pernah menyadarinya.
Beberapa wanita dari tanah kelahirannya bertanya bukankah hidupnya sudah enak mendapatkan pria Austria dan memojokkan dengan kata-kata rasis atau fisiknya. Kebencian terselubung itu terbuka, menorehkan luka yang tertanam dua dekade lalu menjadi luka yang sulit sembuh. Lena Ruthofer ingin bersikap netral tanpa gesekan atau apapun yang mengingatkan dengan perilaku khas sayap kanan jauh, berat hati mengakui ia memiliki emosi serupa dan hasrat membalas dendam begitu besar. Tanpa sadar ia merasa bersyukur tidak perlu lahir dari rahim wanita berpikiran dangkal. Mantan neo-NAZI bertobat jauh lebih baik daripada orang munafik dan dangkal yang tidak punya hati.
Di sisi lain, Lena kasihan dengan wanita-wanita itu. Mengetahui persis apa yang terjadi memukul nuraninya dan niat jahat Lena yang sempat ada luruh seketika. Sakit hati itu lumrah, tidak untuk melakukan kejahatan lain. Ia menjauhi wanita-wanita berpikiran hina daripada luka hatinya selebar jurang, melakukan segala macam kejahatan. Ibunya wanita Barat telah membesarkan Lena seorang diri, ia anak dari wanita Barat dan pria Asia, ayahnya dicabut nyawanya oleh Tuhan, pernah keguguran dan mereka masih berkata ia beruntung mendapatkan pria Austria? Ia kerap merasa sendirian, mengalami krisis identitas dan semakin besar di usianya sekarang.