“Get in the car, sweetheart. Don't mind about your luggage. What really matters is who you're wandering the world with.”
~Korryn (path to nowhere)

seen from United Kingdom

seen from Singapore
seen from United States
seen from Russia
seen from Iraq
seen from United States

seen from United States

seen from Russia
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Azerbaijan

seen from Japan

seen from Canada
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Türkiye
seen from United States
seen from Chile
“Get in the car, sweetheart. Don't mind about your luggage. What really matters is who you're wandering the world with.”
~Korryn (path to nowhere)
korryn x fem!reader bokep murah mobil mogok
aku terus-terusan bilang ke papaku bahwa aku nggak mau diberi baleno tuanya. mobil itu sudah tua sekali. tidak terawat pula, naas terlupakan nasibnya sejak papa beli mobil impiannya beberapa tahun lalu.
air conditioner rusak. jok mobil berdebu dan bau apek, bau keringat, bau kaos kaki. belum lagi ada stella jeruk yang malah bikin aura negatif. bengkel tempat mejeng optimus prime sekalipun bakal angkat tangan kalau disuruh nampung mobil ini.
meski begitu, aku lagi-lagi hanya bisa nurut saat disuruh-suruh papa buat belajar nyetir pake baleno kadaluarsanya. sampai-sampai dia manggil orang untuk ngajarin aku nyetir. perempuan, tampak umurnya nggak jauh dariku. tinggi. cantik. kebetulan mantan aku yang putus sebulan lalu.
eh?!
"ih. aku nggak mau duduk di sana." aku berkacak pinggang, memperhatikan dari luar di bawah terik matahari saat korryn lagi manasin mobil. aku nggak ngerti kenapa kok kayaknya dia semangat sekali.
"lho, terus nanti tetehnya belajar nyetirnya gimana? mau aku pangku?" dia terkekeh kecil, meremehkan banget.
aku berdecak, mulai merasa kesal. "nggak gitu..." jujur saja responnya tadi mempengaruhiku. sedikit. meski begitu, aku nggak goyah. "pulang aja kamu, nggak apa-apa. nanti biar aku aja yang bilang ke papa."
korryn menggelengkan kepala. "gak bisa gitu dong teh, aku udah janji tau ke papanya, mau ngajarin nyetir sampe lancar. udah dibayar juga, lho."
melihatku nggak tergerak sedikitpun, korryn menambahi, "yaudah deh, kalo gitu tetehnya duduk aja gak usah dulu pegang setir. nanti dengerin aku aja jelasin ini-itu. dicoba aja dulu teh hari ini sama aku, siapa tau enak. mau ya?"
karena nggak bisa nolak lagi, aku akhirnya memutuskan buat nurut aja. aku duduk di kursi penumpang, dengerin penjelasan panjang lebar dia tentang mesin, tentang mobil, tentang caranya nyalip truk. semuanya masuk kuping kanan keluar kuping kiri. gimana nggak, dia jelasin kayak video tutorial youtube. ngantuk. apesnya, aku lupa bawa ponsel.
aku tengah melamun dan menahan kantuk saat tiba-tiba jalannya mobil berubah agak tersendat-sendat sampe perlahan berhenti. mesinnya mati. kami berada di jalanan sepi entah di sisi kota yang mana. korryn mengumpat pelan. "anjing. jangan dulu, please..."
dahiku mengerut. "lho, kenapa ini?" aku berpaling ke korryn, meminta jawaban.
korryn membuang nafas gusar, tangannya berkutat membuka pintu mobil. "haduh. sebentar, aku cek dulu."
aku menunggu di dalam, memperhatikan sambil kesal saat korryn membuka kap mobil. aku tidak mau tahu lagi.
udara siang itu kerasa semakin panas. semua hal bikin gusar dan gak nyaman. korryn juga. dia tidak kunjung membuat mesinnya menyala lagi. belum lagi kelakuannya. kenapa dia kok mau nerima job ini dari papaku?!
akhirnya dengan berat hati, aku keluar dari mobil dan menghampiri korryn di balik kap mobil yang terbuka. "udah ketemu masalahnya?"
korryn membelalakkan matanya sekejap, sebelum nyengir tanpa dosa. "eh... sebetulnya udah, tapi aku nggak bisa betulin tanpa alat-alat. tapi tenang, udah telpon temen aku dari bengkel, katanya segera ke sini."
"lama nggak? ini panas banget tau, aku udah nggak betah banget di dalem."
"duh, tahan sebentar atuh geulis, kayaknya tiga puluh menitan baru nyampe orangnya."
"ih, keburu mateng aku di dalem." aku berdecak kesal, lalu berbalik untuk dengan terpaksa duduk diam di dalam mobil oven.
aku duduk bersandar, kini pindah ke kursi belakang untuk selonjoran kaki. satu tangan mengipasi wajah, satu lagi menarik kerah longgar di baju atasanku yang bersimbah keringat.
tak lama, kap mobil ditutup dan aku bisa melihat korryn. ada noda cemong di satu sisi pipinya. dahinya berkerut, tampaknya dia sama kesalnya denganku meski tadi semangatnya sempat meledak-ledak sekali. dia juga mandi keringat, hanya saja bajunya bebas dari noda basah memalukan karena sudah dia tanggalkan entah sejak kapan. berdiri di depanku, korryn hanya berbalut tank top putih dan celana jeansnya.
ngeselin banget, dia rasa dia mikaela banes.
korryn berkacak pinggang, mengelap keringat di dahinya sambil memandangku yang masih selonjoran kaki di kursi belakang. "punten nya geulis, nunggunya agak lama. mobil ini sempet dibawa dan diurusin sama temen temen aku, sempet nginep lama di bengkel. tapi ternyata sekarang ngadat lagi."
aku menghela nafas, mencoba merespon dengan tenang. biar nggak makin gerah. "iya, nggak apa-apa. nggak ada yang tau juga kok mobilnya bakal gini lagi. kita tunggu aja sampe yang mau urusin dateng."
korryn mengangguk setuju, mungkin lega juga tidak kena semprot. aku pun merasa simpatik sama dia. sedikit. dia cuma pengen bantu mengajariku menyetir, nggak lebih. mungkin. dan mungkin aku tidak usah galak-galak padanya.
"sini ke dalem. agak sempit sih, tapi ga sepanas di depan. pintunya dibuka aja." aku bergeser di kursi belakang, menyisakan ruang untuk korryn. agak kikuk. aku berusaha memalingkan pandangan saat dia bergeser ke arahku, mencari posisi yang nyaman.
"gerah ya." korryn menyeletuk.
anggukan singkat aku beri sebagai respon.
"bajunya dibuka aja sih teh kalo gerah banget, nggak apa-apa." katanya lagi. "nih, aku juga kaosnya dibuka tadi. nggak kuat."
aku menelan ludah. aku paham sih, maksudnya baik. percuma juga kalau bajuku yang terendam keringat masih dipakai terus. tapi kenapa kok bisa dia mengatakan itu dengan santainya? melakukan semua ini dengan santainya?
"kamu tuh kenapa sih aneh banget?" aku merubah posisi, duduk bersila menghadap korryn. "segala manggilnya kayak gitu, aku nggak suka."
lagi-lagi korryn cuma ketawa. amarahku naik lagi.
"dan lagi kok kamu mau aja disuruh papa aku?!" aku menambahi. "sengaja banget. kayak ga pernah bikin aku nangis aja dulu."
korryn mengangkat bahunya. "aku cuma bikin pernah kamu nangis keenakan kok, gak pernah karena sakit hati."
mukaku mungkin makin memerah karena panas. sumbu kesabaranku juga tinggal dua senti. "najis banget. kamu gak tau aja." aku membuang wajah.
"yaudah sekarang coba liatin ke aku. aku emang gak tau." korryn bergeser mendekatiku, tangannya tiba-tiba menopang daguku, memaksa menolehkan kepalaku. "coba nangis lagi depan aku. nangis beneran, bukan nangis yang sambil desah-desah kayak lonte."
eh, edan.
badan kami terlalu dekat. udaranya terlalu panas. aku terlalu gengsi buat bilang kalo aku memang pengen dia bikin nangis lagi.
aku diam seribu bahasa, cuma menghela nafas gusar.
"kenapa? mau nangis yang itu? yang keenakan sampe lupa dunia, jadi tolol minta diewe sampe pagi?"
aku memalingkan wajah lagi. kalau sudah begini, korryn nggak akan berhenti. dia bakal terus-terusan tekan aku. karena dia tahu aku juga pengen. itu yang bikin aku kesal, bikin aku ingin tabrak lari dia pakai mobil ini.
"diem aja, bisa nggak?" aku melipat tangan di dada. wajahku memerah.
korryn mendengus meremehkan tapi dia malah makin mendekat. tangannya yang nggak sopan bertengger di pahaku.
"masih sok jual mahal ternyata. padahal udah becek kan, aku panggil teteh terus dari tadi?" jari-jarinya yang kasar dan panjang mulai menarik-narik ujung celana denim pendekku. "gak inget kamu segampangan apa pas sama aku dulu?"
"korryn, ih..." aku akhirnya berpaling. tanganku bergerak ke bahunya, nggak bermaksud jelas entah untuk dorong dia atau tarik dia lebih dekat.
senyuman dia yang sombong selangit itu hal terakhir yang aku lihat sebelum bibir kami bertemu. korryn nggak sabaran. belum sampai aku tarik nafas, tangannya menelusup masuk ke balik bajuku yang terendam keringat.
tangannya yang kasar namun lihai bertemu dengan kulitku. dari pinggang, bergerak ke atas membingkai dadaku, sampai akhirnya meraih dua gundukan yang dia sangat suka di sana. meremas dengan kasar, lalu memainkan pucuk yang sudah mengeras di antara jari jemarinya.
belum apa-apa, punggungku sudah melengkung ke arahnya.
sebelum kehabisan nafas, aku perlahan menyudahi pagutan bibir kami, menarik seutas tipis saliva entah milik siapa. namun korryn, dengan nafas yang masih memburu, menarik leherku lagi untuk menyesap lapar di bawah rahangku. turun ke bawah meninggalkan jejak yang basah sampai ke dadaku, lalu satu tangannya berpindah melingkari pinggangku erat-erat sementara yang lain masih mengelus dan meremas di tempat yang sama.
aku pegangan ke bahunya, terdorong sampai ke posisi di mana kakiku harus dibuka lebar buat dia.
korryn terkekeh kecil, nafasnya panas membuatku menggelinjang. jelas sekali nafsunya sudah nggak terbendung. "ngangkang juga akhirnya."
aku nggak cukup bertenaga buat nampar mulutnya yang kurang ajar itu. mulutku sendiri cuma bisa aku gigit-gigit, sesekali aku buka malu-malu karena nggak tahan ingin melenguh.
"kemarin pas lagi nggak sama aku, ngangkangin cewek lain gak?" dia bertanya begitu sambil menekan pahanya di antara pahaku. mulutnya masih di leherku, masih membuatku mendongak sambil terpejam nikmat.
"mmh—nggak..."
"kasian banget, memeknya cuma bisa basah kalo sama aku, ya?" sambil bilang begitu, tangan korryn yang semula melingkari pinggangku perlahan masuk ke celanaku. aku menyiapkan mental karena mulutnya pasti mencemooh lagi begitu tau keadaanku di bagian bawah.
korryn menyunggingkan senyum angkuh. dengan mudahnya, jarinya menekan-nekan tonjolan kecil yang menjejak di celana dalamku yang becek.
aku hadiahi dia lenguhan lembut namanya, nggak mungkin lagi ditahan. pinggul bergerak hati-hati mengejar tempo pelan yang menyiksa dari jari korryn.
"mau terus? kalo nanti temen aku dateng dan liat kamu gimana?" korryn tanya, sambil jarinya menekan lebih dalam. mulutnya tepat di telingaku, mengecup dan menggigit-gigit gemas. "mending kalo dia balik arah langsung pergi gitu aja, kalo dia jadinya pengen pake memek kamu juga gimana? mana dia juga cantik banget lagi, nanti kamu desah enaknya pake nama dia, bukan nama aku."
aku menggelengkan kepala, mulai terpengaruh kata-kata korryn yang semakin kurang ajar dan jorok.
"mau korryn aja..." aku melenguh. tangan menggerayang ke belakang lehernya, menarik korryn ke dalam satu ciuman yang lebih dalam dari yang tadi. lidah bersilat di dalam kehangatan mulutku, saliva menetes-netes berantakan di kedua ujung bibir.
aku melepas kontak saat jari korryn berpindah ke balik celana dalamku, tanpa ragu melesakkan dua digit yang lentik dan kasar ke dalam. korryn tau di mana titik yang buat aku lemas, buat aku pegangan makin erat sambil mengalunkan nama dia di tengah kenikmatan. jadi dia nggak buang waktu.
"baru masuk bentar udah keenakan banget." katanya, nafasnya menggelitik telingaku. "saking udah biasanya ya sama aku? udah sering banget aku pake, lama kelamaan bakal longgar juga kamu sama aku."
aku nggak ingat apa lagi yang dia ucapkan, apa lagi hinaan kotor yang dia bisikan di telingaku. yang aku ingat pandanganku memutih begitu korryn mempercepat jarinya, meraih titik yang dia hafal betul letaknya di dalam untuk bikin aku teriakin nama dia sambil megap-megap keenakan.
korryn cuma ketawa kecil. egonya terpenuhi. dia ada di puncak kepuasan yang lebih tinggi daripada aku sendiri.
"besok belajar nyetirnya di paha aku aja ya, aku kangen kontolin kamu sampe pipis."
di siang yang terik itu, setelah aku rapatkan lagi kaki dan jernihkan kepala, aku sadar aku belum bisa lepas dari korryn. sebulan aja nggak mungkin cukup tanpa aku minta dia handle aku lagi kayak mesin baleno yang berisik dan bandel itu.
oh, dan aku juga sadar korryn bohong soal mesinnya.
CW; Implied suicidal ideation
Originally posted on: August 7, 2025.
RebelHunter/Korryn x Shalom.
MIGHTY CRIMINAL SAVES THE DAY
Prompt: In which reader is a wanted criminal and Korryn took the bounty request to hunt reader.
Warnings: Use of inappropriate language
Game: Path to nowhere
!Slight spoilers for those who haven't played the event!
"Can't believe y/n snatched up all the fuckin' hypercubes for herself again," the thug slammed his cup down on the table, conversing with his fellow thugs. This had been the fifth time you stole their hypercubes and it was pretty much self explanatory as to who are you. With all the recent sand storms and as each one got bigger, the demand for hypercubes were high. Many would kill to get their hands on atleast one hyper cube.
A certain red hair was listening in on the thugs rants, a smirk forming on her lips as her cowgirl hat covered half of her face. "The mighty y/n strikes again~" she sang as she grabbed the flyer from the board, seeing a picture of you. She gazed a little too long at the cowgirl in the picture, a gleam of desire in her eyes. The desire being the urge to catch you. No one has ever been able to get their hands on you and Korryn loved the fact that you were so hard to get; makes her want you even more.
A door was flipped open and you walked on with a bag filled with glowing blue cubes. 'Another successful attempt,' you thought as you flung the bag into the big box. Leisurely sitting down on your chair, you grabbed a beer and opened it before chugging it down. As you gazed out the window of your little hut, you couldn't help but glance at the sign that says 'Tuco', eager to go into the village but you knew if you only step foot into that village, all your hard work that goes towards gathering hypercubes will count for naught. After all, you know the people of Tuco to have minds more cunning than bandits.
Little Timmy suddenly ran into the village, shouting to the villagers that another sand storm was approaching. The people panicked, already knowing how little hypercubes they had. They quickly transformed the village to move from that area and try to get away even though it wouldn't make sense but their efforts were interrupted by dessert bandits, whom Korryn also had beef with. "Where's the red head bitch?" The thug asked, spitting on the ground. By now all the people were tied up, trembling. Korryn had gone out with Hella, leaving the village unattended too.
"We're not telling you anything!" Sheriff spoke out making the thugs scoff. They scanned the crowd before landing on Mira. Looking at how small and weak she looked they, picked her up by the hair.
"I ain't gon fucking repeat myself bitch!" The thug spat harshly, roughly pulling on Mira's hair making the said girl squeak out in pain. Everyone looked on with anger and fear in their eyes, wanting to do something but also knowing they can't. Before the thug could go any further, a steel pipe was flung into him, making him drop Mira.
"Fuckin' idiots think they can pick on the weak. Not while the great Hella is around!" Korryn and Hella had shown up just in time however, the sand storm was approaching.
"Wow! Little Hella saves the day~"
"Shut up and fight with me idiot!"
As Hella charged towards the thugs, Korryn made her escape. When Hella saw this, she was beyond angry but couldn't do anything except fight for Tuco. Obviously the people of Tuco knew Korryn's plan but they had to plan along.
The sand storm was already in sight and Hella was all beaten up but she managed to take some bandits out. Korryn then returned, smiling as she had a bag of hypercubes in her hand. "Wait a damn minute... you stole our hypercubes! Not y/n!" The thug screamed. Korryn smirked.
"Ah ah~ not quite. You were correct with the y/n part. I beat her to a pulp and took it away." She smirked, handing Mira the hypercubes before taking out the remaining thugs and throwing them out of the village. With the hypercubes, the village was protected from the storm, with only a few minor damages being done. As everyone celebrated, Korryn couldn't help but glance at the hut far away from the village before muttering, "Ah why can't you come and see me? Must I find you, y/n?"
"Y/n? Who's that?" Hella asks Mira who was currently serving at the bar.
"Y/n is the most wanted criminal around. Not even Korryn managed to lay her hands on that sly fox." Mira sighed, a hint of smiled playing at her face.
"You're not one to talk about sly fox.." Hella mumbles grumpily. Mira could only chuckle as she knew what Hella meant.
Couple days pass and the hypercubes were all done. A sand storm had hit again and the village had began their journey to their secret hide out. This time, not only thugs but the officials were hot on their trail. Hella and Korryn had a hard time holding them off as well as defending the people. "Little Hella, I need you to drive this car fast to take everyone to the hide out. I'll hold them off okay? I'm counting on you!" Korryn flashed Hella a wide smile before jumping off, even before the little girl could protest. Hella knew Korryn would be fine... but she couldn't help the nagging feeling behind her head.
After Hella couldn't take it anymore, she told Mira to take over the wheel. When she arrived, she saw a beat up Korryn, thugs on one side and the officials on the other. She knew it was a hard battle and so she ran towards with full force, managing to knock a few out before she got beat up too. "How is everyone?" Korryn breathed out.
"Worry about yourself big idiot. They're doing fine..."
"Are they?" Scott, the head of officials asked with a smile, motioning to the guards who were hot on the villagers trail. As they looked, one by one the guards got knocked out by a machine gun. "What the-"
"Sir! Look!" Scott followed the guards gaze and watched as you knocked them out one by one before charging towards him.
"There she is! Y/n L/n! Attack her! Don't let her get away!" Scott screamed on the top of his lungs.
"Is that-"
"Y/n? Yes." Korryn smirked.
You managed to grab the guards gun before shot you and so you did to the others. Korryn was shooting from behind and Hella helped you take down the others. You almost nearly killed Scott but decided to spare his life and throw him into the sand storm. You approached the two before extending your hand for Korryn, a smile on your face. "Didn't except you to fall Korryn."
"I have my limits too y/n." She wrapped her arms around your neck before pressing her lips against yours in a soft kiss. Hella's draw dropped to the floor as she witnessed the scene before her unfold.
"I thought you'd never come to see me." Korryn pouted, taking your hat off your head before placing it on her head. "Mine's been destroyed. Oh this little mouse is Hella. She's from the MBCC."
"Oh yeah I know. Adjutant Nightingale informed me." You extended your hand for Hella to shake and she shook it vigorously.
"How do you know Nightingale?!"
"I'm a friend of the MBCC," you winked at a stunned Hella. Hella then turned to Korryn.
"Did you know I was coming?"
"Oh no I didn't. I certainly don't know everything that goes on in a certain someone's life." The three of you hopped onto one of the officials' vehicle and drove to the hideout where everyone was confused as to why the sand storm didn't hit them as their hypercubes were finished.
"Did you guys open the box y/n left?" Korryn smiled. Mira shook her head.
"We didn't want to trouble her stuff."
"Don't wonder. Open it." You encouraged them. Mira opened the box and gasped. In it was a shit ton of hypercubes. More than anyone in Tuco had ever seen. Even Korryn was shocked.
"How did you get so many? And wait, why did you give them to us?" Mira asked.
"I used to work in the east side and i got them. Besides, all these years of gathering hypercubes was for my girlfriend's village, Tuco." The villagers all gasped as the revelation.
"So you two finally decided to make it public?" Mira smiled making the villagers even more shock as to how she knows. You and Korryn only smirked and looked at each other.
Once the sandstorm was finally over and Hella returned to the MBCC, you and your lover had rested in your little hut, with her on your lap as you two sipped your beer. "I was beginning to wonder if you had forgotten about me, sweetheart," Korryn retorted. You shook your head with a smile.
"You're quite hard to forget love. If anything, I've been thinking about you only."
"Good. Keep it that way. Let me be the only thing that keeps you going~" She placed her finger on your nose before leaning in to trap your lips with hers. And for a few days, no one in Tuco saw you two as you spent the days resting with Korryn, in bed.
Korryn Visuals