Sendiri selalu bisa menghibnotis hati dan pikiran menjadi semelow-meleownya rasa, apalagi denting instrumen piano mengiri; lengkap. Sekuat apapun aku mengelak pada rasa yang semakin layu yang diserang sunyi, tetap saja tercipta gaungan sendu itu, ia muncul dimana saja dan berupa wujud apa saja. Kadang ia menjadi air yang membasahi pipi, kadang ia menguap menciptakan panas di rongga hidung dan sudut mata, kadang ia serupa padatan yang mengganjal dalam rongga dada, bahkan ia bisa menjadi rantai yang membelenggu hati dan pikiran menjadi setumpul-tumpulnya logika.
Jarang sekali kudapati sendiriku sebuah haru ataupun tawa bahagia. Aneh, menyendiri dalam jeda waktu seperti bahan yang tak pernah dijahit. Tergulung dan akan selalu tertumpuk berselimut debu dan sarang laba-laba, padahal inginnya bahan itu serupa gaun yang indah, menjuntai hingga menyapu bumi, dan memesona tiap pasang mata yang melihatnya.
Lantas, apa yang ingin kau adukan dalam sendu sendirimu, nona? Apa kau mengingat seseorang, suatu kejadian yang mengharukan, atau kau menghawatirkan masa depan?
Entahlah, aku merasa semua seperti beradu dalam arena pertempuran pikiranku sendiri, hal ikhwal semacam itu berkecamuk dalam dada dan berusaha menjadi pemenang dalam altar hayalku. Mengingat seseorang yang entah siapa bisa menerobos benteng pikiran dan menduduki tahta kerajaanku. Mengingat kejadian haru yang entah dengan siapa tercipta ataupun menciptakannya. Menghawatirkan masa depan tentang ‘siapa aku nanti’ bisa juga merasuk sendu sendiriku.
Nona, bila kau izinkan aku menerka. Apa karen kau seorang pemalu dan enggan mengakui keakuanmu? Kuharap, terkaanku melesat. Nona, belasan tahun kau dibina akan Tuhan dan pandangan hidup, selayaknya kau mensyukuri dan mehargai apa yang ada dalam dirimu. Suka dan duka hanya aral yang sesekali terbentang dalam perjalanan hidup. Aku khawatir, duniamu menyempit dengan sendirinya karena sifat pemalu dan tertutupmu. Aku khawatir, kau melemahan jiwa dan ragamu sendiri. Dan aku semakin khawatir, kau mati tergilas pikiran dan egomu sendiri. Aku menyayangkan hal itu, nona. Bagiku, kau serupa arah dan rambu-rambu keselamatan. Kau hantarkanku pada kiblat yang hanya Tuhan Ia kita sembah, kau tunjukanku jalan ketentraman yang menyelamatkan. Kaupun serupa pelita, sedia menerangi gelap tanpa cakap.
Kau benar, aku pemalu dan sulit mengakui keakuanku yang apa adanya. Saat ini, jika itu ada, aku menginginkan pantulan diriku bicara dan menjawab keluh-kesahku. Sudahlah, kau terlalu berlebihan menilaiku seperti itu. Aku tak merasakan apapun prihal penilaian baikmu. Siapalah kau ini?
Aku sisi baikmu yang tak kau syukuri.