Akhir-akhir ini aku merasa jiwa seorang priaku mulai memudar..
Bukan berarti besok aku pergi ke Thailand, operasi plastik, dan jadi homo ya. Tapi rasanya kayak… skill aku dalam mendekati cewek semakin melemah. Aku kayak lupa caranya deketin cewek. Bagaimana membuat pick up lines, membawa suasana sewaktu ngobrol, dan segala hal yang seharusnya 'tumbuh alami’ bagi kaum Adam.
Atau ini karena keseringan gagal dalam menjalin asmara? Entahlah. Aku sendiri masih bingung. Tapi yang jelas, aku jadi semakin hati-hati dalam mencari calon pasangan. Aku lebih banyak diam dan mengamati gebetan. Mengobservasi setiap gesture kecil yang dia lakukan. Mencerna setiap chat yang dia kirimkan. Pokoknya, aku jadi jauh lebih waspada dari biasanya.
Terus terang, dari dulu aku memang bukan tipe cowok yang agresif, yang langsung nyosor sana nyosor sini begitu punya gebetan. Aku bahkan sama sekali bukan orang yang berani ngejar-ngejar calon gebetan. Kan ada tuh, tipe orang yang emang niat cari pasangan, kemudian pedekate calonnya dengan gencar. Nah, aku bukan cowo yang seperti itu
Justru aku malahan tipe orang yang ngejalanin aja dulu semuanya. Sampai tiba-tiba… BAM! Baru deh ngerasa ada yang aneh. Jadi adiktif sama si orang itu. Bawaannya ingin komunikasi terus, mikirin dia terus. Kalau udah di titik ini, baru aku putuskan untuk mengejar dan mendapatkan dia.
Mungkin karena sudah menjadi kebiasaan, sekarang aku sudah nggak tahu lagi caranya ‘memulai PDKT’. Bagaimana membuat seseorang betah dan mau sama kita. Itu ada pelajarannya kan ya. Atau sebetulnya, cewek-cewek tuh maunya diapain sewaktu PDKT? Kalau zaman dulu agak gampang untuk pedekate. Misal, berkenalan dengan orang baru tinggal add, lalu kirim wall “Makasih ya udah add, salam kenal :)” yang kemudian bisa jadi topik obrolan pembuka kenalan. Di zaman sekarang, buat diriku, kenalan udah jauh lebih susah. Apalagi kalo kita belum apa-apa udah kayak gitu di Instagram, bisa-bisa dikira om-om genit lagi nyari mangsa.
First impression menjadi hal yang sangat penting untuk seseorang yang baru pertama kenalan. Dan aku sama sekali dungu masalah begituan meskipun sudah belajar tentang fashion pria. Aku selalu bingung harus memberikan ‘image’ apa kepada si calon gebetan ini. Apa yang harus aku tanamkan ke kepala dia, untuk, membuatnya berpikir kalau aku orang yang tepat. Ujung-ujungnya, aku cuman garuk-garuk kepala di depan dia. Image macho pun berganti image cowok ketombean.
Jatuh cinta bukan sekadar perihal harta atau fisik. Tetapi, lebih dari pada itu, jatuh cinta adalah soal kesiapan. Jatuh cinta ibarat sarang tungau yang dibuat oleh tungau jantan dan didatangi tugau betina. Karena ada masanya, ketika tungau jantan pergi “berburu” untuk mencari makan, pejantan-pejantan lain akan datang ke sarangnya dan menghancurkan semuanya. Jika ini terjadi, tungau betina yang ada di dalam sarang akan dibuahi tungau jantan yang baru. Dia pun akan pindah, dan meninggalkan tungau jantan yang lama.
Aku mengibaratkan sarang tersebut seperti kondisi kita. Mungkin, ada masanya kita harus menjadi seperti tungau ini, yang membangun ‘sarang’-nya terlebih dahulu. Mempersiapkan dan melayakan keadaan kita sebaik mungkin. Sebelum akhirnya, siap untuk menerima betina yang datang.