Sebenarnya tulisan dengan tema ini kurang saya suka, terlebih lagi mengawali tulisan situs saya yang sudah kosong selama 3 tahun. Tapi, saya ingin menulis sekarang :D Keadaannya memang ndak terprediksi #temamerahjambu akan tetapi banyak yang bisa kita ambil faidahnya insyaaAllah. Tapi bisa juga sih fokusnya dialihkan, sedang rindu banget menulis.
Berawal dari seorang teman yang sedang dilanda rindu dengan si dia yang bukan siapa-siapanya, saya dapat pelajaran yang sangat bernilai.
Pernahkah rindu dengan seseorang? Sederhana saja, hanya rindu. Namun perhatikanlah.. Siapa dia yang engkau rindukan? Adakah rasa itu halal kau pendam untuk waktu ke depan dengan lama?
Di dunia, segala perkara selain syariat agama, pasti memiliki 2 sisi yang tidak bisa dipisahkan (kalau di akhirat -surga-Nya- tentulah isinya kebaikan seluruhnya yang tak terjangkau oleh akal dan pikiran kita ^^). Salah satunya yang Allah anugrahkan kepada manusia, yakni sebuah fitrah, bisa menjadi kebaikan atau mencelakakan pemiliknya.
Telah menjadi fitrah manusia, seorang laki-laki memiliki rasa kepada seorang perempuan dan begitu pula sebaliknya. Setiap manusia pasti memiliki fitroh. Fitroh manusia ketika di dunia dapat menjadi kebaikan dan pahala atau bisa menjerumuskan ke dalah kerusakan dan dosa.
Rasa rindu misalnya. Jika ia diberikan kepada orang yang berhak, maka itu baik. jika kepada yang bukan seharusnya kita berikan, maka seiring berjalannya waktu akan merusak dirinya. Maka, janganlah berbuat dzalim kepada diri sendiri !
Lalu bagaimana mengobatinya? Sebaik-baik penjaga hati dan pemberi petunjuk adalah Allah. Sebaik-baik qudwah adalah Rasulullaah. Sebaik-baik obat hati adalah dzikrullah dan kalamullaah. Jalan yang paripurna adalah sunnatullah.
Nasihat dari Ustadz Muhammad Abduh -hafizhahullah- : Salah satu obat rindu adalah berusahalah ikhlas dalam beribadah. Ikhlas adalah obat manjur penyakit rindu. Jika seseorang benar-benar ikhlas menghadapkan diri kepada Allah, maka Allah akan menolongnya dari penyakit rindu dengan cara yang tak pernah terbetik sebelumnya. Cinta kepada Allah dan nikmat dalam beribadah akan mengalahkan cinta-cinta yang lainnya.
Seperti yang ditulis di alinea awal, ganti fokus ke rindu menulis :D Bagitu juga menulis. Ketika pengiiin banget nulis tapi mengapa tidak segera dilakukan dan disimpan di hati dan pikiran saja? -semoga hal ini adalah bentuk penjagaan Allah terhadap saya- Wahai diri. Berusahalah ikhlas dalam beribadah...
~ bersambung insyaaAllah ~