KASIH SAYANG TANPA SENTUHAN
Terdapat beberapa komunitas masyarakat Suku Dani di sekitar tempat saya bekerja, dan yang terbesar ada di Distrik Dervos. Distrik Dervos sendiri merupakan Distrik yang baru, namun belum memiliki pelayanan kesehatan, sehingga masih menjadi tanggung jawab kami, petugas Puskesmas Doufo. Disini, Distrik Doufo dan Dervos sendiri bukan merupakan tempat Suku Dani berasal, daerah ini adalah daerah berawa dan merupakan bagian dari aliran Sungai Membramo, sedangkan suku dani berasal dari daerah Pegunungan Pupua, disini lebih sering disebut orang gunung.
Keberadaan masyarakat Suku Dani di tempat ini bermula dari migrasi yang dilakukan oleh nenek moyang mereka ke daerah ini dengan tujuan awal untuk misi penginjilan. Hingga saat ini sebagian besar masyarakat di sekitar tempat ini sudah beragama kristen dan hampir semua adalah pengaruh penginjilan masyarakat Suku Dani terdahulu, mereka datang ke tempat ini bersamaan dengan beberapa penginjil dari luar negri, seperti Amerika, Jerman, Korea Selatan dll. Sebagian besar penginjil Suku Dani berasal dari daerah Mulia, Kabupaten Puncak Jaya dan memang daerah ini sendiri sebelumnya merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Puncak Jaya. Sebagian besar dari mereka yang masih tinggal disini merupakan generasi kedua dan ketiga, ada juga beberapa orangtua yang merupakan generasi pertama yang dulu bermigrasi ketempat ini dengan misi penginjilan. Kerena latar belakang tersebut diatas, meskipun kami sendiri tinggal di daerah berawa, sebagian masyarakat yang kami layani disini adalah masyarakat Suku Dani.
Suatu malam di Distrik Dervos, kami menginap disana seperti biasa, karena memang jarak yang cukup jauh dari Puskesmas tempat kami tinggal, sekitar lima sampai delapan jam, tergantung cuaca, jumlah penumpang dan jenis perahu yang digunakan.
Saat itu kami ngobrol santai disana setelah seharian tadi melayani pasien yang berobat, banyak hal yang kami bicarakan, hingga saya menunjukkan foto saya dan anak saya yang baru berumur 1 bulan yang saya tinggal di Manado bersama istri saya, dalam foto itu saya sedang menggendong anak saya, dimana hal itu tentu adalah hal biasa bagi sebagian besar orang, namun saat itu dengan ekspresi keheranan mereka langsung mengatakan “ITU TIDAK BOLEH” saya agak kaget dengan respon mereka dan langsung bertanya lebih lanjut, dari situlah mereka menjelaskan panjang lebar kebudayaan mereka yang begitu unik dan luar biasa sampai saya menulis tulisan ini.
Menurut mereka, anak kecil tidak boleh dipegang oleh bapaknya sampai dia cukup besar paling tidak angkat kayu bakar dan membantu pekerjaan di kebun, menurut mereka jika seorang anak dipegang bapaknya sebelum dia cukup besar untuk melakukan hal tersebut, nanti anak itu akan ”LEMBEK DAN SAKIT-SAKIT TERUS”, begitu kata mereka.
Saya bertanya lebih lanjut dan mereka mengatakan ”NENEK MOYANG KITA DARI DULU SEPERTI ITU, KITA INIKAN SUKU PERANG, NANTI KALAU LAKI-LAKI PERGI BERPERANG, BARU ANAK ITU PANGGIL-PANGGIL BAPAA BAPAA, BAGAIMANA?”. Menurut mereka sampai pada waktunya, seorang anak hanya boleh dipegang oleh mamanya. Bahkan lebih lanjut mereka bercerita mereka tidak boleh memiliki anak sebelum anak tersebut cukup besar untuk angkat kayu bakar dan bekerja di kebun. Jadi pasangan suami istri yang memiliki anak yang masih kecil tidak boleh tidur bersama, di tempat ini sendiri mama akan tidur didalam kamar bersama anaknya dan bapa akan tidur diluar, Setengah bercanda saya bertanya, “baru kalau bapa minta tidur sama-sama bagaimana?” Seorang ibu langsung menjawab “ TIDAK BOLEH, DISINI KAN DARI DULU TIDAK ADA DOKTER, NANTI KALAU ANAK BANYAK BARU SAKIT BAGAIMANA? BEROBAT JUGA TIDAK BISA, MAU KE KOTA JUGA TIDAK ADA PESAWAT, UANG JUGA SUSAH, JADI TIDAK BISA TIDUR SAMA-SAMA”
Saya terdiam mendengarkan penjelasan mereka, saya berpikir betapa kerasnya kehidupan mereka hingga entah sudah berapa generasi mereka menjalani kehidupan seperti itu. Saya jadi ingat ketika saya di Distrik Ilaga dulu, salah satu daerah asal Suku Dani, mereka tinggal di honai, honai laki-laki dan perempuan dipisah, laki-laki dewasa tidur di honai laki-laki, perempuan dan anak-anak tidur di honai perempuan. Sama seperti disini, pada sebagian besar waktu, pasangan suami istri tidak tidur bersama. Selain itu saya sangat mengagumi majunya cara berpikir mereka, meskipun tinggal di daerah yang begitu jauh dari perkotaan, tanpa sekolah dan fasilitas dasar yang lain, mereka mampu berpikir demikian dan menjalaninya dengan konsisten dan konsekuen. Saya sungguh mengagumi bagaimana mereka sebagai seorang ayah memberikan kasih sayang kepada anaknya tanpa melalui sentuhan, pelukan dan ciuman, bagaimana seorang anak dapat benar-benar merasakan kasih sayang seorang ayah tanpa melalui sentuhan dan peluk cium seorang ayah.
Sayapun sejenak berpikir betapa mudah dan beruntungnya kehidupan sebagian besar dari kita yang bisa merasakan peluk cium dari ayah sejak kecil, tidak harus khawatir karena tidak adanya pelayanan kesehatan. Ataukah mereka yang beruntung? Sudah terlatih dengan didikan yang begitu keras sejak dari dini.
Keesokan harinya ada anak kecil sambil berlari-lari memanggil saya “BAPAA” lalu mamanya bilang “ITU BUKAN BAPA”. Saya tertawa dalam hati dan berlalu pergi.