MUNCAK BARENG AKI-AKI GUMINCIR
(CATATAN SEORANG PRAMUWISATA MUDA) Akhir pekan yang lalu aku beserta sekelompok aki-aki Gumincir berkesempatan kembali memeluk awan di atap bumi priangan, Ciremai. Berawal dari grup yang sepi pen-celoteh, iseng lah ku unggah foto sertifikat yang baru kuterima siang itu beserta identitas keanggotaan lengkap dengan kartu ber-logo burung garuda sebagai penanda bahwa aku sudah menjadi bagian dari warga Negara yang baik. Terlepas dari pandangan pesimistis yang menganggap pemerintah tidak ideal menurut versi-nya, aku selalu berusaha melihat semuanya dari sisi positif. Pendeknya, sang benar pun bersabda: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(-Nya) serta ulil amri diantara kamu” (QS. An-Nisa: 59) Tak disangka foto tadi diunggah kebmali di grup lainnya yang cenderung lebih ramai pen-celoteh, alhasil mulai lah tanggapan bermunculan. Mulai dari si apatis yang masih menganggap dunia tidak sempurna sampai si optimis yang tiba-tiba menantang “…Januari muncak, ah…” . Dan kembali disini orang-orang tua menujukan kebijaksanaan-nya. Tidak hanya karena rindu tahun lalu alfa mendaki, namun juga karena rasa sayang yang tinggi kepada para pemuda di organisasi nya, bak gayung bersambut mereka pun mengamininya. Dengan sebuah catatan, atau mungkin lebih tepatnya tantangan karena sedikit berbeda dari pendakian sebelumnya mereka ingin merasakan nikmatnya pendakian bersama seorang yang berstatus Pramuwisata Muda. Dimulai lah petualangan dalam tahap persiapan, tiga pemuda di daulat sebagai panitia, dengan meminta bantu kepada senior berpengalaman di bidangnya dan dua peninjau yang juga praktisi di kegiatan alam terbuka, mereka memberanikan diri memasang harga yang memang tidak cukup lumrah dilakukan di grup yang mendasari setiap kegiatannya dengan prinsip kekeluargaan. Semuanya dihitung dan semuanya di-nilai-kan. Sedikit ragu pada awalnya. Namun karena memang disana letaknya kesenangannya, maka melaju lah. Mulai dari pembentukan Tim, pembagian pekerjaan sampai dengan pemenuhan kebutuhan khusus peserta kami persiapkan. Tidak hanya terbatas peserta yang memang sudah aki-aki, persiapan pun sampai dengan merekrut peserta dari anggota aktif yang masih bersekolah. Yang mereka masing-masing memiliki kebutuhan yang berbeda. Tiba lah saat penantian. Semua tim telah sedia, jemput dengan kendaraan khusus dengan supirnya, yang memang tidak biasa digunakan, menggunakan “orang lain” atau pihak penyedia jasa yang kembali menggunakan perhitungan nilai, bukan angkutan cuma-cuma dari keluarga seperti yang biasa. Tiba di titik awal pendakian pun kami tetap per tahankan pelayanan berbeda. Secara sengaja, Kopi panas, wedang Jahe dan penganan sederhana pun, kami ada-kan. Tanpa sedikit mundur dari jadwal awal, peserta kami pastikan mematuhi komitmen waktu yang disampaikan sebelumnya. Mulai mendaki pukul 9 beserta dengan panitia. Namun tanpa peserta menyusul yang nanti berangkat dengan pemandu lainnya. Komplit dengan sesi foto dan berdoa bersama, peserta pun memulai pendakian nya dengan wajah ceria. Ya, mana ada yang tidak suka dengan sesi narsis namun tetap ingat pada yang Maha Sempurna. Peserta sudah berjalan satu jam yang lalu, ketika tim menyusul datang. Menggunakan kendaraan dua-fungsi. Ya, mereka menghemat setengah jam perjalanan untuk jarak dua kilometer sehingga dapat bertemu tim sebelumnya di kilometer ke-dua jalur pendakian. Tiba di pos enam tempat yang ditentukan sebelumnya, peserta tercecer. Salah satu resiko pendakian bersama adalah tidak merata nya kemampuan peserta. Setelah memilih dua titik lokasi tenda sebagai pilihan, maka sang peninjau memilih tempat yang lebih sedikit pendaki lainnya. Ya, kami lebih mirip anti-sosial-sosial-klub jika terkait kenyamanan dibanding sosialita yang memang lebih nyaman bersama di keramaian. Sedikit kejutan yang disiapkan dan tidak disangka peserta dapatkan di sesi makan malam, ayam bakar spesial khas Ketinggian a la mang Dwi Pinulur. Dimasak biasa menggunakan aluminium foil, namun rasa rempah yang terjebak meresap di lembaran daging ayam menjadi aroma yang tidak hanya pelipur lapar namun juga memberi sensasi tenang dan nyaman bahwa, kami masih baik-baik saja dan mampu melanjutkan perjalanan dengan semangat yang tersisa. Pagi hari, waktu dimana foto memberikan imajinasi paling indahnya. Sesi foto adalah sesi yang wajib beserta dengan sesi bersyukur untuk kali ini. Segera setelah sarapan dan paking yang memang dekat secara jadwal, peserta melanjutkan perjalanan pendakian. Seperti biasa, etape terakhir memang selalu terasa menjadi yang paling berat. Sepanjang jalur berbatu dan minim vegetasi, disertai cuaca yang lumayan tidak bersahabat, lebih tepatnya memang badai berkabut. Bercengkerama, bercanda, bersama teman-teman lama dan teman-teman baru memang selalu menjadi bonus yang diharapkan dari kegiatan pendakian. (to be continue)













