Garis Lalaki
Sering kali aku melihat papa mencantumkan inisial JSP disetiap catatan-tulis yang dibuatnya. Pertama kali aku melihat inisial itu, ada disemua koleksi bukunya di rumah orang tuanya, tertera stempel bertuliskan, Koleksi Pribadi Juhaedi SP. Belum menjadi perhatian, karena waktu itu aku lebih tertarik pada tulisan angka, 001, 002, 003, sampai dengan 009 disetiap rak buku yang ada di ruang belakang, katalog buku yang dibuatnya sendiri. Baru saat mencap buku-baku baru yang datang dari sekolahnya, aku diberitahu bahwa SP dibelakang namanya berarti Sutarma dan Priyasasmita. masih belum tertarik dan belum paham, saat itu aku hanya menganggap itu nama panjang papaku.
Kali kedua aku memperhatikan inisial tersebut, adalah saat aku duduk dibangku SMP. Pada saat guru memintaku membuat sebuah laporan kunjungan ke arena Pameran Pembangunan, papa yang mengantarku dan membatu mengetik laporan tersebut, kembali mencantumkan inisialnya. tapi saat itu lebihhpanjang, dia menambahkan inisial namaku menjadi SAJSP Septian Aditya JSP. Masih belum paham, pertanyaanku saat itu sederhana, "itu teh semacam marga, pah? inisialnya jadi tambah panjang atuh ya...". kali berikutnya ak melihat semakin banyak merk tersebut dia pasangkan, di sablonan baju adik-adikku yang kembar, di bordiran dompet pertamaku dan barang-barang lain yang menjadi kesenangan kami anak-anaknya, "biar gak hilang" ujarnya.
Aku tahu, ada makna lebih dari sekedar ucapannya saat itu. baru saat setelah beberapa kali di rapat keluarga dia selalu mengatakan; "Lalaki mah beda tanggung jawab na, teu jiga awewe. lain ngan ukur ka keluarga na, tapi oge ka keluarga kolotna. eta termasuk indung jeung sodara awewena. ari awewe mah cukup nurut k kolotna, terus putus ketika kawin, kudu nurut k salaki na." dari kalimat itu aku baru sadar, kenapa hanya nama dari pihak papa yang dia selalu sebut-sebut; Priyasasmita nama kakeknya, Sutarma nama ayahnya, dan Aditya nama Anak laki-lakinya yang hanya ada satu.
Pernah satu kali dia berkata, ketika sedang berdiskusi berdua saja denganku; "ngaran papah anggeus di Adi, kecuali diteruskeun carita ka anak cucu na. anak si uni pasti kudu nyaritakeun carita bapa na, sarua oge anak si teteh jeung de ayu. nu diteruskeun teh ngaran bapa-bapa na." dari sana aku sadar bahwa bukan hanya sekedr cerita yang harus disampaikan, namun juga nasihat kebaikan dan tanggung jawab sebagai lelaki yang harus terus menjadi nilai dan diwariskan kepada anak dan cucu. tidak hanya sekedar nama dan inisial saja, namun juga harus dimanifestasikan dengan perilaku dan budi yang baik, agar senantiasa dingat dan diteruskan ke generasi selanjutnya.
Kinawa (2019 - sekarang) Aditya (1984 - sekarang) Juhaedi Sutarma Priyasasmita (untuk dilanjutkan)







